DetikNews
Jumat 16 Maret 2018, 09:41 WIB

Menengok Cipacing, Kampung Komplotan Perakit 'Pena Ajaib'

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Menengok Cipacing, Kampung Komplotan Perakit Pena Ajaib Aktivitas di Kampung Cipacing/Foto: Dony Indra Ramadhan
Sumedang - Cipacing. Bagi sebagian orang mungkin banyak yang tidak tahu nama desa tersebut. Namun Cipacing merupakan sentra senapan angin. Nama Cipacing kembali menyeruak saat Polda Jabar mengamankan komplotan perakit senjata api ilegal dan senjata pena atau 'pena ajaib'.

Cipacing merupakan nama salah satu desa yang berada di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Cipacing merupakan satu diantara sejumlah desa pengrajin senapan angin di Jatinangor. di Jatinangor sendiri ada beberapa desa pengrajin senapan angin di antaranya Desa Cikeruh, Desa Sayang, Desa Hegarmanah, Desa Jatiroke, Desa Jatimukti, Desa Cilayung dan Desa Cipacing.

Usut punya usut dari sejarahnya, Cipacing bukanlah lokasi pertama munculnya perajin senapan angin di Jatinangor. Desa Cikeruh yang merupakan cikal bakal berkembangnya sentra industri senapan angin.

Hal itu dikemukakan oleh Idih Sunaedi. Pria berusia 76 tahun merupakan sesepuh perajin senapan angin di Jatinangor.

"Cikal bakal pengrajin senapan angin di Cikeruh. Cipacing dulu pemasarannya, tapi yang terkenal memang Cipacing," ucap Idih saat berbincang dengan detikcom dikediamannya, Jalan Cikeruh, Sumedang, Rabu (15/3/2018).
Menengok Cipacing, Kampung Komplotan Perakit 'Pena AjaibFoto: Dony Indra Ramadhan

Munculnya perajin senapan angin di Jatinangor berawal sejak masa pemberontakan DI TII. Kala itu, warga sekitar diminta membuat senjata. Senapan pertama yang dibuat merupakan senapan yang sehabis menembak ditusuk bagian lubang selongsongnya. Warga menyebutnya dorlok (di dor, colok). Sukses dengan 'dorlok', keahlian warga meningkat hingga mampu menghasilkan senapan berpeluru lima butir atau disebut 'dorma' (dor lima).

"Setelah DI TII menyerah tahun 1963 dan dihapus pemerintah, sudah enggak buat lagi," kata Idih yang merupakan generasi kedua pengrajin senapan angin di Jatinangor.

Setahun berselang, mulailah muncul pesanan kepada warga Cikeruh. Namun, pesanan awal bukan untuk membuat senapan, melainkan memperbaiki senjata yang rusak. Kala itu, sambung Idih, warga menerima berbagai macam jenis senjata dari luar negeri untuk diperbaiki. Senjata yang masuk antara lain Diana pabrikan Jerman, Airsporter buatan Inggris dan yang lainnya.

Sejak menerima pesanan perbaikan, warga mulai mencoba meniru senapan tersebut. Hingga akhirnya mereka sukses membuat senapan angin.

"AKhirnya kita bisa memproduksi. Lalu mulai ada yang pesan satu sampai dua," katanya.

Industri senapan angin mulai berkembang di tahun 1990. Bukan hanya warga Desa Cikeruh saja yang membuat senapan tersebut. Industri itu pun mulai merambah hingga ke desa tetangga termasuk Cipacing.

Kala itu, ada dua jenis senapan angin yang dibuat yakni jenis pompa dan per. Sementara satu jenis baru yaitu jenis pre-charged pneumatic (PCP) atau jenis gas baru-baru ini mulai dihasilkan.

"Murni buatan sendiri, turun turun temurun," ucap Idih yang juga menjabat sebagai Kepala Koperasi Bina Karya yang menaungi industri senapan angin di Cipacing dan sekitarnya.

Senapan angin karya warga Cipacing ini terbuat dari bahan yang mudah didapat. Senapan angin, berbahan dasar kayu dan besi. Sebelum dirangkai menjadi bagian utuh, bahan-bahan tersebut mengalami beberapa kali proses hingga halus dan berbentuk.

"Pengerjaannya bisa berhari-hari, enggak tentu. Kalau peluru, itu kita enggak buat, banyak peluru dijual kok," kata Idih.

Industri senapan di kawasan Cipacing dan sekitarnya mulai berkembang. Hingga kini sudah ada sekitar 150 perajin senapan angin.

"Kita dari dulu buatnya senapan angin, bukan yang lain-lain," pungkasnya.

Industri senapan angin rumahan terbukti mampu berjalan hingga bertahun-tahun. Bahkan sudah banyak toko-toko penjual senapan angin berjejer di kawasan itu.

Seperti dilihat detikcom, kemarin, gerai penjual senapan angin berjejer di sepanjang Jalan Bandung-Garut. Berbagai jenis dan bentuk senapan angin dipajang di etalase.

"Sebenarnya dengan membuat senapan angin, kita di sini sudah bisa hidup," kata Idih.

Para perajin, kata Idih, sebagian memasarkan hasil produksinya di toko-toko di kawasan Cipacing. Idih tak ingat pasti jumlah gerai penjual senapan angin di Jatinangor.

"Lebih dari sepuluh toko mah ada," katanya.

Idih menuturkan untuk membuat sepucuk senapan angin memang membutuhkan modal yang cukup besar. Untuk model standar, Butuh Rp 950 ribu sebagai modal awal untuk merakit sepucuk senapan angin berlaras panjang dengan tipe standar.

"Ada juga yang modalnya dua juta sampai lima juta (rupiah). Kalau yang standar harga Rp 950 ribu, dijualnya satu juta (rupiah) ke atas. Kalau yang modal jutaan, dapatnya bisa sampai belasan juta," ucapnya.

Penjualan senapan angin, lanjut dia, ada yang berdasarkan pesanan atau sengaja dibuat untuk dijual di toko. Biasanya dalam satu bulan, satu pabrikan senapan angin mampu menghasilkan 10 hingga 20 pucuk senapan angin.

Pembelinya berasal dari sejumlah tempat di Indonesia. "Rata-rata pemasarannya dalam negeri. Kalau ke luar negeri susah jualnya," imbuhnya.
(avi/avi)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed