DetikNews
Rabu 14 Maret 2018, 08:40 WIB

4 Pria Cipacing Belajar Sendiri Merakit 'Pena Ajaib'

Dony Indra Ramadhan - detikNews
4 Pria Cipacing Belajar Sendiri Merakit Pena Ajaib Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana menyebut senjata 'pena ajaib' diproduksi komplotan Cipacing/Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom
Bandung - Empat orang pria asal Cipacing, Kabupaten Sumedang ditangkap polisi lantaran membuat dan menjual senjata api (senpi) termasuk pen gun secara ilegal. Senpi buatan keempatnya nyaris sempurna. Lalu dari mana mereka belajar merakitnya?

"Mereka enggak belajar sama siapa-siapa, mereka autodidak," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar, Kombes Umar Surya Fana kepada detikcom via telepon genggamnya, Rabu (14/3/2018).

Empat orang Komplotan Cipacing yaitu Yoga Gama (37), Ekosasih (60), Dian Daryansyah (37) dan Uzza Narashima (37) diringkus jajaran Subdit I Direktorat Reserse Kriminal Umum yang dipimpin Kasubdit I AKBP Fahmi. Mereka ditangkap pada Kamis (1/3) lalu. Beberapa jenis senpi dibuat kelompok ini semisal revolver, glock, walter dan lainnya.

Umar mengatakan, kepiawaian mereka dalam membuat senpi disinyalir lantaran lingkungan tempat mereka tinggal. Seperti diketahui, kawasan Cipacing terkenal merupakan sentra industri senapan angin.

"Kemungkinan juga (faktor lingkungan). Di sana (Cipacing) banyak menjual senapan angin. Tapi pabriknya kan ada di belakang-belakang tokonya. Modus lama mereka berkamuflase, di depan jual senapan angin, di belakangnya buat senjata api," tutur Umar.

Sayangnya, mereka menyalahgunakan kemahirannya dalam merakit senpi. Mereka justru menjual senpi yang mereka buat. Mereka memanfaatkan teknologi melalui aplikasi jual beli online untuk memasarkan produknya.

Uniknya, mereka menggunakan kode dalam setiap produk yang dipasarkan. Untuk senpi, mereka menggunakan kode 'galon' sementara pen gun mereka memakai kode 'pena ajaib'. Produk yang dihasilkan, dijual dengan harga bervariatif.

"Untuk pemasaran dari data sampai saat ini baru di dalam (negeri). Kita belum mendapatkan data dia menjual sampai keluar (negeri)," katanya.
(avi/avi)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed