detikNews
Rabu 07 Februari 2018, 11:58 WIB

Pandangan Kriminolog Soal Aksi Orang Diduga Gila Aniaya Ulama

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Pandangan Kriminolog Soal Aksi Orang Diduga Gila Aniaya Ulama Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Bandung -
Kasus penganiayaan terhadap sejumlah tokoh Islam di Jawa Barat tengah mengemuka. Kriminolog dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yesmil Anwar menyebut perlu penyelidikan mendalam dari polisi guna mengungkap apakah kasus ini disengaja atau tidak.

"Mesti ada penelitian yang serius dari polisi, supaya jangan sampai masyarakat menjadi geger. Jangan sampai ada pikiran teman-teman kita di pesantren ulama diarah," ucap Yesmil kepada detikcom via sambungan telepon, Rabu (7/2/2018).

[Gambas:Video 20detik]


Yesmil menilai kasus seperti ini harus dipandang dari berbagai aspek. Pertama, kata dia, perlu dilihat terlebih dahulu apakah penganiaya benar-benar mengalami gangguan jiwa atau tidak.

"Kriteria orangnya gila atau tidak enggak bisa kita menentukan, yang bisa rumah sakit atau dokter jiwa. Supaya kita bisa tahu apakah kalau dia tidak gila apa motivasinya, kalau gila memperlakukannya seperti orang gila," katanya.

Dari sisi korban juga perlu dilihat. Korban yang kebanyakan tokoh islam atau ulama perlu dilacak motif yang melatarbelakanginya.

"Kalau bicara itu (ulama) harus dilihat yang bukan ulama ada juga enggak yang diganggu atau didatangi orang gila. Kalau enggak ada, ya kita bicara kenapa harus ulama? Apakah ulama itu secara pribadi punya masalah dengan orang-orang yang kita sebutkan tadi (gila), jangan kita langsung menganggap perbuatan itu dengan latar belakang ulama dengan motif tertentu," tuturnya.


Disinggung soal adanya dugaan motif tertentu dari kelompok dibalik aksi 'penyerangan' terhadap ulama atau ustaz, Yesmil menyebut hal itu bisa saja terjadi. Namun secara pribadi ia tidak bisa menduga-duga apabila kasus seperti ini sengaja dilakukan.

"Motif tertentu bisa menjadi motif secara pribadi. Bisa dalam hal kelompok. Kalau hal kelompok masalah apa yang ada dalam kelompok tertentu? Seperti kita tahu sekarang ini juga kan tahunnya politik, di tahun politik bisa saja segala sesuatu yang bersifat kriminal dibungkus atau sesuatu yang bersifat politik dibungkus," ujarnya.

"Dalam konteks ini kita perlu teori pendekatan struktural yaitu teori kriminologi yang beraliran struktural yaitu teori tekanan sosial. Tekanan sosial ini akan menekan kita ke arah sosial, budaya dan politik maupun kita bicara agama tadi dan itu bisa dijadikan alat kelompok tertentu kalau diarahkan," kata Yesmil menambahkan.

Untuk memastikan hal tersebut, Yesmil menegaskan, perlu penelitian atau penyelidikan yang komprehensif. Polisi menjadi garda terdepan untuk menyelidiki dan mengungkap motif sebenarnya dibalik aksi tersebut.

"Untuk mengetahui itu enggak bisa menduga. Saya juga enggak bisa menduga. Saya katakan polisi harus bisa melakukan seperti teroris lah, seperti Densus yang tidak hanya penegakan hukum, tapi dia datang ke PPATK lihat alur uang. Polisi harus bisa menuntaskan dan mengumumkan kalau keadaannya seperti ini. Jangan ditafsirkan di media sosial yang nantinya jadi bola salju dan digoreng," kata Yesmil.

Seperti diketahui, aksi penyerangan terhadap ulama oleh orang diduga gila terjadi di beberapa daerah Jabar. Kasus pertama dialami KH. Umar Basri pimpinan pondok pesantren Al Hidayah Cicalengka yang dianiaya di dalam masjid oleh pria diduga gila.

Selanjutnya kasus penganiayaan terhadap ustaz Prawoto (40) Komandan Brigade Persatuan Islam (Persis) dianiaya tetangganya sendiri Asep Maftuh (45) yang diduga mengalami gangguan jiwa hingga tewas. Terakhir seorang pria diduga gila hendak masuk ke rumah pimpinan ponpes Nahdjussalam Cileunyi H Bibin Sarbani. Beruntung pria tersebut dapat ditangkap oleh para santri.

[Gambas:Video 20detik]


(bbn/bbn)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com