Menengok Kampung Blekok di Bandung

Wisma Putra - detikNews
Senin, 15 Jan 2018 08:54 WIB
Burung blekok terbang bebas. Saat ini habitatnya berada di kawasan Gedebage, Kota Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Bandung - Senja telah tiba, jarum jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Walau hari mulai menjelang malam Mak Empong (72) masih santai dan duduk di atas kursi kayu dengan bersandar ke sebuah pohon sambil menyaksikan ratusan burung kuntul (Bubulcus Ibis) dan blekok (Ardeola Speciosa) kembali ke sangkarnya.

Pohon bambu dan selong yang ada di Kampung Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat, menjadi tempat peristirahatan kawanan burung tersebut. Di atas pohon, satwa itu membuat banyak sangkar atau tempat mereka bertelur.

Pada Sabtu (13/1/2018), kicauan ribuan burung itu terdengar nyaring saat memasuki kawasan Kampung Rancabayawak. Mak Empong mengatakan hampir setiap sore ia duduk di kursi kayu tersebut untuk menyaksikan sekawanan burung-burung itu kembali ke sangkarnya setelah seharian sibuk mencari makanan di sawah.

"Burung kuntul dan blekok tersebut sudah menghuni pohon bambu itu hampir selama 20 tahun. Burung-burung itu terus bertelur dan menjadi banyak," kata Mak Empong kepada detikcom.
Menengok Kampung Blekok di BandungBurung blekok. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Burung kuntul berbulu putih dengan paruh hitam dan blekok berbulu putih kemerahan dengan ukuran badan lebih kecil dibandingkan burung kuntul.

Habitat burung-burung itu dijaga berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung No. 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan Kota Bandung. Dilarang merusak tempat tinggal dan membunuh atau memperjualbelikan kedua jenis burung ini karena dapat terancam denda Rp 5 juta ditambah sanksi administrasi lainnya.

Kampung Rancabayawak berada di perbatasan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, akses jalan menuju ke kampung ini sama seperti ke Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dengan waktu perjalanan sekitar satu jam dari pusat Kota Bandung.

Jika sebelumnya pelang penanda kampung ini bertuliskan 'Kampung Kreatif Blekok Rancabayawak RW 02' bercat biru, kini berganti 'Kampung Kreatif Rancabayawak RW 02' bercat hitam.

Saking banyaknya burung, pengendara sepeda motor atau pejalan kaki yang lewat sering kena kotoran burung tersebut. "Sudah biasa itu, kalau warga yang lewat kena kotoran burung. Jangankan kotoran, telurnya aja kerap berjatuhan dan pecah di atas tanah, jadi ga aneh kalau bau anyir," ujarnya.

Menurut Mak Empong, warga melarang siapapun untuk memburu burung-burung ini. "Dilarang menangkap burung ini, agar populasinya tetap banyak apalagi menembaknya. Pasti sebelum diburu warga sudah melarangnya," ucap Mak Empong.

Asep (56), petani padi di daerah Sapan, Kabupaten Bandung, mengatakan pasca musim panen seperti saat ini, populasi burung kuntul dan blekok akan bertambah banyak.

Biasanya, pasca musim panen, burung-burung itu bisa mencari makan di pesawahan yang berada di Sapan, Kecamatan Bojongsoang sampai Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung.

"Suka kesini cari makannya, sudah sejak dulu. Apalagi lahan pesawahan yang dekat sarangnya sudah beralih fungsi sehingga burung-burung itu harus mencari makan ke sawah yang lebih jauh," tutur Asep. (bbn/bbn)