DetikNews
Kamis 14 Desember 2017, 22:04 WIB

Mendukung Palestina Bukan Hanya Sekadar Retorika

Mukhlis Dinillah - detikNews
Mendukung Palestina Bukan Hanya Sekadar Retorika Diskusi berkaitan pembebasan Palestina yang menghadirkan sejumlah nara sumber. Acara berlangsung di Kaka Kafe, Kota Bandung. (Foto: Muklis Dinillah/detikcom)
Bandung - Suara ajakan perlawanan secara global penjajahan Israel terhadap Palestina terus menggema. Sebab, perlawanan terhadap Israel dianalogikan menyerupai perjuangan kemerdekaan Indonesia dari Belanda ratusan tahun lalu.

Director Voice of Palestine Mujtahid Hashem mengapresiasi sikap keras pemerintah Indonesia menolak klaim sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Yerusalem ibu kota Israel.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo atau Jokowi yang hadir dalam KTT OKI di Istanbul, Turki, mengajak dunia mengakui kemerdekaan Palestina. Negara-negara peserta KTT OKI menyebut Yerusalem Timur merupakan ibu kota Palestina bukan Israel sebagaimana penyataan Trump.

Baca juga: Jokowi Ajak Dunia Akui Kemerdekaan Palestina

Mujtahid mendorong adanya langkah nyata untuk mendukung Palestina. "KTT OKI kemarin kita seolah-olah berharap kepada Presiden Erdogan (Turki). Kita tidak banyak banyak berharap kepada pemerintah sendiri atau negara lain. Karena para politisi hanya mengulur waktu saja, belum bisa menyelesaikan," ujar Mujtahid dalam diskusi berkaitan pembebasan Palestina di Kaka Kafe, Jalan Sultan Tirtayasa, Kota Bandung, Kamis (14/12/2017).

Menurut dia, pembebasan Palestina bisa dilakukan dengan perjuangan yang sama saat Indonesia merdeka dari Belanda. Saat itu, posisi Belanda tak berbeda jauh dengan Israel yang merupakan koalisi internasional dan memiliki kekuatan.

Namun, dia menjelaskan, dengan keberanian masyarakat dan pemerintahan kala itu, Indonesia bisa lepas dari kolonialisme. Mujtahid berharap masalah Palestina saat ini bukan hanya sekadar retorika belaka pemerintah Indonesia.

"Masalah Palestina bukan masalah basa basi, tapi masalah besar. Mendukung Palestina bukan hanya retorika, tapi kewajiban konstitusi. Perkembangan yang terjadi, melihat masyarakat dan pemerintah harus bersatu mendukung Palestina," tuturnya.

Mujtahid berharap pemerintah dapat melakukan agenda politik yang melibatkan banyak pihak untuk review kebijakan luar negeri. Cara seperti itu, menurut dia, melahirkan solusi efektif untuk menyelesaikan persoalan bangsa Palestina.

"Kita berharap ada review kebijakan luar negeri yang menjadi keputusan bulat bangsa Indonesia," kata Mujtahid.

Baca juga: Negara-negara OKI Nyatakan Yerusalem Timur Ibu Kota Palestina

Geostrategy Study Club Wim Tohari mengatakan pembebasan Palestina harus dilakukan dengan membuat simpul perlawanan secara global. Sebab, sambung dia, simbol perlawanan yang disampaikan dalam forum-forum internasional belum juga membuahkan hasil.

"Israel melakukan gerakan sistem di luar sistem. Maka bergeraknya harus di luar juga. Forum seperti PBB, OKI dan pemerintah gagal memahami itu. Untuk bicara sama mereka harus di luar (sistem) dengan membuat simpul global untuk perlawanan," ucapnya.

Tohari mengatakan klaim sepihak Donald Trump ini menjadi momentum terakhir untuk menyelamatkan Palestina. Sehingga, sambung dia, negara-negara yang peduli terhadap Palestina harus berani mengambil risiko besar ketika melakukan perlawanan tersebut.

"Ini momentum terakhir pernyataan Trump. Ini jadi mata rantai terakhir. Beberapa negara berani hidup di luar sistem global. Kita harus di luar sistem dengan jenis yang sama," ujar Tohari.

The Latin League Return to Palestine Edargo Ruben mengapresiasi dukungan masyarakat Indonesia terhadap Palestina. Ia berharap dukungan itu tidak hanya sekedar retorika melainkan berupa sikap dan tindakan praktis.

"Tentunya sikap dan tindakan praktis ini sesuai dengan kemampuan. Kami harap dukungan terhadap Palestina ini terus dilakukan sampai kapan pun," kata Edargo.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed