ADVERTISEMENT

Warganet Ngeluh Tarif 'Mencekik' Taksi Bandara Husein Bandung

Mochamad Solehudin - detikNews
Senin, 10 Jul 2017 11:28 WIB
Foto: Laman Facebook Irvan Kurniawan
Bandung - Bukan hal yang baru jika banyak warga yang mengeluhkan pelayanan taksi Bandara Husein Sastranegara Bandung. Mahalnya tarif ditambah buruknya pelayanan menjadi sorotan. Salah satunya seperti yang dialami Irvan Kurniawan.

Melalui akun Facebooknya, Ivan Kurniawan mencurahkan pengalamannya itu. Dia menyoroti tentang buruknya pelayanan yang diberikan taksi bandara. Praktik monopoli terjadi. Karena hanya taksi Primkop-AU yang hanya boleh masuk dan mengambil penumpang di sekitar area bandara.

Sementara taksi dari perusahaan lain tidak diperbolehkan mengambil penumpang bahkan masuk ke dalam area bandara. Hal ini tentunya tidak masalah bila pelayanan yang diberikan baik dan memuaskan. Namun apa yang dialami Irvan tidak mencerminkan hal itu.

Saat itu, Irvan mengaku baru pulang dari luar kota. Dengan bawaan yang cukup banyak dia membutuhkan taksi atau kendaraan yang bisa mengantarnya pulang ke rumahnya di daerah Padasuka, Kota Bandung. Sempat terbersit dipikirannya untuk memesan taksi onilne.

Dia bertanya ke salah satu petugas keamanan bandara menanyakan apakah boleh taksi online masuk ke area bandara. Tapi, katanya, tidak boleh tanpa menjelaskan alasannya.

"Dengan jingjingan delapan buah sepertinya tidak mungkin digeret jalan keluar, the only option ya itu (pakai taksi bandara)," tulisnya, Senin (3/7) lalu.

Dia langsung mendatangi counter pemesanan taksi. Kemudian dia mendapat tiket. Di dalam tiket tersebut tertera tujuan dan tarif yang harus dibayarkan. Dari Bandara Husein ke Padasuka dikenai tarif Rp100 ribu. Angka tersebut dinilai Irvan cukup mahal.

Padahal bila menggunakan jasa taksi online tarifnya tidak mencapai Rp 100 ribu. Untuk Uber dengan rute yang sama Rp 50.500, Grab Rp 55.000, Go-car Rp 55.000.
"Kalau pake Blue Bird pun saya yakin ga akan Rp100 ribu," ujarnya.

Dengan terpaksa dia tetap memilih taksi bandara. Setelah itu dia langsung mendatangi tempat berkumpulnya taksi untuk mendapat nomor antrean dan sopir taksi yang akan mengantarnya. Dia kemudian meminta taksinya itu untuk menjemput didepan area pintu kedatangan.

Namun lagi-lagi dia dikecewakan, karena sopir taksinya menolak. Bahkan dia diminta untuk membawa barang bawaannya itu sendiri. "Kirain bisa atau ditawarin bantu angkatin. Yowis saya bulak balik nyebrang mindahin barang-barangnya (sendiri)," ucapnya.

Dia melanjutkan, diperjalanan dari pintu keluar kedatangan sampe area drop off ada lima orang yang menawarkan jasa taksi. Irvan tidak mengetahui apakah orang-orang tersebut merupakan sopir taksi bandara atau bukan.

"Terus kalau non taksi bandara enggak boleh ambil penumpang terus mereka siapa? Jelas-jelas nangkring nawarin taksi dari depan pintu kedatangan," ujarnya.

Terlepas dari semua itu, Irvan merasa tidak mendapat pelayanan yang memuaskan. Mahalnya tarif ditambah pelayanan yang kurang baik tentu akan berdampak terhadap bisnis yang mereka jalankan.

"So penentuan tarif yang memukau namun tidak disertai dukungan service yang setara, sudah tentu ini sangat merugikan konsumen. Di era kek gini, tinggal tunggu waktu aja apakah akan survive atau tidak," tandasnya.


Baca Juga: Ridwan Kamil akan Bicara ke TNI AU Soal Parkir dan Monopoli Taksi di Bandara

Irvan bukan satu-satunya orang yang mengeluhkan tarif taksi bandara yang berlokasi di Jalan Padjadjaran tersebut. Tahun 2016 lalu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil juga sudah banyak menerima keluhan dari warga. Ia pun berjanji akan mencari solusi. Namun hingga saat ini monopoli taksi di Bandara Husein Sastranegara masih terjadi.

"Saya sudah baca (keluhan warga), kan satu-satu yah. Bandaranya udah. Nah berikutnya, itu sudah dirapatkan sebenarnya. Sudah rapat antara Dishub, Angkasa Pura dan TNI AU," ujar Emil, sapaan karib Ridwan Kamil di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Senin (11/4/2016) lalu.

(avi/avi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT