Sebelum memulung, sang nenek tersebut pernah berdagang. Namun bisnis dilakoninya bangkrut.
Baca juga: Kisah Nenek Eti, Manusia 'Gerobak' Sebatang Kara di Bandung
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pernah jualan kredit baju gitu, tapi pada enggak bayar. Terus jualan kopi banyak yang berutang juga," ujar Nenek Eti kepada detikcom ditemui di Jalan Suniaraja, Sabtu (3/6) lalu.
Kini penghasilan utamanya hanyalah memulung plastik bekas air minum dalam kemasan. Jika lagi beruntung, penghasilannya satu hari bisa Rp 20 ribu hingga 25 ribu.
"Kalau sepi ya di bawah itu. Apalagi sekarang bulan Ramadan kan sedikit yang minum," ucapnya.
Eti sudah enam tahun menghuni gerobak kayu. Foto: Avitia Nurmatari |
Enam tahun lalu, Eti datang dari Brebes, Jawa Tengah, untuk mencari peruntungan di Bandung. Ia sebatang kara ini pulang kampung tiap beres Hari Raya Idul Fitri.
"Daripada di Brebes saya bergantung ke saudara, saya lebih suka cari uang sendiri. Pulang kalau habis Lebaran pakai bus," tutur Eti.
Meski renta, Eti masih kuat mendorong gerobak kayu. Dinginnya cuaca malam hari di Bandung sudah menjadi sahabat baik. Bagi dia, tidur di dalam gerobak beralaskan kasur tipis dan ditutup spanduk itu sudah cukup.
"Saya kalau punya uang lebih ingin jualan kopi lagi. Memulung sekarang sudah susah, karena banyak juga yang jadi pemulung di sini," ucap Eti. (avi/bbn)












































Eti sudah enam tahun menghuni gerobak kayu. Foto: Avitia Nurmatari