detikcom menjumpai nenek Eti di kawasan Suniaraja, Sabtu (3/6) lalu. Malam itu sekitar pukul 22.00 WIB, sang nenek tersebut masih terjaga. Sewaktu dihampiri, senyum ramahnya mengembang dari dalam gerobak.
Sambil tetap duduk di gerobaknya, Eti berkisah soal kesehariannya. "Saya setiap hari dorong gerobak aja, memulung. Malam tidur di sini," kata Eti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eti selama ini sebatang kara. ia tidak memiliki anak. Suaminya meninggal beberapa tahun silam.
Eti tinggal di gerobak kayu berukuran 1,5 x 1 meter.Foto: Avitia Nurmatari |
Hanya gerobak yang selalu setia menghangatkannya dari dinginnya malam. "Ada adik di Brebes, tinggal di rumah orang tua. Tapi orang tua sudah meninggal. Saya daripada merepotkan saudara, cari uang sendiri saja di sini," tutur Eti.
Di dalam gerobaknya ada kasur lipat tipis serta baju-baju seadanya. Kalau bersih-bersih, biasanya nenek Eti menyambangi tempat mandi umum. Untuk makan sahur, ia biasanya membeli Rp 10 ribu.
"Untuk biaya makan saja sudah 10 ribu rupiah satu hari. Sekarang selama bulan puasa lebih sedikit. Karena kan sedikit juga yang minum," ujar Eti. (avi/bbn)












































Eti tinggal di gerobak kayu berukuran 1,5 x 1 meter.Foto: Avitia Nurmatari