"Sepatu ini milik saudara anaknya paman, saya pinjam sudah lima bulan. Mungkin rusak karena setiap hari saya pakai jalan ke sekolah. Alhamdulillah sudah punya sepatu pengganti, tapi sepatu itu (rusak) enggak akan saya buang. Mau saya simpan," tutur Juhdi saat ditemui detikcom di rumahnya, Kampung Padajaya, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jumat (10/3/2017).
Bantuan berupa sepatu dan peralatan sekolah berikut seragam baru berdatangan dari sejumlah pihak ke kediaman Juhdi. Ia bersemangat saat menceritakan kedatangan anggota Polres Cianjur yang mengajaknya berbelanja sejumlah peralatan sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Viral Kisah Sepatu 'Menguap' Bocah SD di Cianjur
Selain sepatu bola, Juhdi mendapatkan tas dan seragam baru. Semua barang-barang itu ia memilihnya sendiri, semua pembayaran ditanggung oleh polisi. "Saya sempat diajak jalan-jalan dulu berkeliling Cianjur, selama ini saya paling jauh main ke pasar cipanas," tutur Juhdi yang bercita-cita menjadi tentara.
Ali (33), ayah kandung Juhdi, sehari-harinya bekerja sebagai buruh di perkebunan sayuran milik tetangganya dengan penghasilan Rp 20 ribu - Rp 35 ribu sehari. Setelah ibunda Juhdi meninggal, Ali menikah lagi dan tinggal bersama istrinya di tempat lain. Kini Juhdi tinggal bersama nenek dan pamannya.
"Bapak kadang suka nengok ke rumah. Suka mau kasih jajan, saya tolak. Saya bisa kumpulin uang sendiri, kalau panen sayuran seperti wortel, saya suka bantu memungut yang berceceran. Lalu saya jual lagi ke tengkulak. Satu kantong bisa dapat lima ribu rupiah, uangnya saya simpan untuk jajan atau keperluan lain," ujar Juhdi.
Foto: ist |
"Kalau bapak datang kerumah sepatu saya umpetin dibawah kursi atau dibawah kasur. Saya enggak mau bikin pusing bapak," ucap Juhdi.
Sementara itu, Ali menuturkan, anaknya ini pernah berangkat ke sekolah menggunakan sandal. "Dia berangkat sekolah pakai sandal, karena gak mau keliatan pakai sepatu itu. Alasan dia karena sedang hujan takut sepatunya rusak," kata Ali.
Baca juga: Viral Sepatu 'Menguap' Bocah Cianjur, Begini Cerita Sang Ayah
Mendengar cerita itu, Eddy Kusnadi, salah seorang guru Juhdi, mengelus dada. "Juhdi pernah datang pakai sendal, saat itu dia nggak cerita apa-apa. Dia memang nggak banyak bicara anaknya, dia cuma menyanggupi saja sanksi yang saya berikan," kata Eddy.
"Saat itu dia saya beri soal matematika. Dia mengisi jawabannya dan menyerahkan ke saya tanpa memberikan penjelasan apa-apa," ucap Eddy.
Eddy ialah guru yang memposting kisah tentang sepatu 'menguap' milik Juhdi di akun Facebook miliknya, pada 6 Maret 2017. Juhdi menutupi kondisi sepatunya itu selama lima bulan lamanya. Kendati berkali-kali menjadi inspektur upacara, Juhdi tetap setia menggunakan sepatu berkondisi rusak.
"Mungkin kemarin itu kondisi lubang yang menguap semakin membesar, sampai akhirnya bisa terlihat dengan jelas kondisinya," ujar Eddy. (bbn/bbn)











































Foto: ist