"Sungai yang terancam, Citepus, Cikapundung itu karena kirmir sudah tua. Kirmir banyak yang sudah retak," ujar Kasi Pemeliharaan dan Drainase Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung Deni Saputra saat acara Bandung Menjawab di Balai Kota, Jalan Wastukancana, Kota Bandung, Selasa (7/3/2017).
Selain itu, ada lima kawasan yang juga kirmirnya rawan ambrol, di antaranya yakni Malabar, Cilentah belakang pasar Ancol, Sungai Citiis, dan Sungai Cibereum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Deni, rata-rata usia kirmir di Kota Bandung sudah ratusan tahun. "Di Cilentah Sungai Cikapundung hampir 10 keluarga. Di Malabar lebih dari 10 keluarga. Itu mereka tinggal di sepadan sungai. Mereka terancam," ungkap Deni.
Sebagai solusi, Dinas PU berupaya melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang berada di sepadan sungai untuk merelakan sebagian lahan tempat tinggalnya dijadikan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos). Sehingga rumah tidak berada langsung di bibir sungai.
Namun sayangnya, kata Deni, banyak warga yang menolak. "Sebagian besar enggak mau dijadikan fasum fasos. Mereka itu tidak punya sertifikat karena sepadan sungai itu kan milik pemerintah," terang Deni.
Menurut Deni, guna memperbaiki atau antisipasi kirmir ambrol, petugas cukup kesulitan lantaran sungai sudah dipenuhi bangunan.
"Kalau kami melakukan sosialisasi fasilitas, warga menanyakan pengganti rumahnya apa. evakuasinya seperti apa. Mau mengambil matrial saja susah. Sudah padat sekali," tutur Deni. (avi/bbn)











































