UNESCO meminta Kota Bandung untuk mengirimkan tim Pencak Silat ke Paris untuk mempertontonkan Pencak Silat yang akan dinominasikan dalam warisan budaya tidak benda UNESCO.
"Kedatangan saya, dalam rangka menjelaskan program-program yang kita lakukan di UNESCO. Pertama menominasikan pencak silat dalam warisan budaya tidak benda. Ini Insya Allah akan masuk di tahun 2018 untuk nominasi di tahun 2019," ujar Fauzi usai pertemuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk melakukan itu kita biasanya mengadakan acara acara mengenai pencak silat dan pertunjukan yang mana akan kita lakukan di bulan mei tahun 2017. Jadi saya sudah sampaikan programnya ke pak wali, dan Alhamdulillah menyetujui," ucapnya.
Misi kedua lanjut Fauzi, yakni untuk memasarkan angklung. Indonesia melalui Bandung berencana untuk memberikan satu set angklung kepada UNESCO.
"Angklung sudah kita catat di UNESCO tahun 2010. Untuk angklung kami berhak juga untuk memberikan satu set angklung baik itu berupa angklung yang biasa atau angklung robot yang sudah digerakkan dengan robot. Itu juga kami dapat dukungan dari Pak Wali, Insya Allah dalam beberapa bulan lagi kita dapat menyerahkan pada UNESCO untuk menjadi salah satu yang ditampilkan di gedung UNESCO di Paris," terangnya.
Menanggapi hal itu Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengungkapkan pihaknya mendukung dan akan mengirimkan angklung serta tim pencak silat ke Paris.
"Kalau Bandung dipercaya oleh komunitas pencak silat untuk mengirimkan dan mewakili diplomasi ini makanya kita akan dukung, salah satunya kita akan mengirimkan pencak silat. Jadi ini mah pencak silat bela diri yang ada ngibingnya juga kan, itu melestarikan musik tradisi. Bajunya bisa didekor-dekor jadi bisa melestarikan seni busana tradisional. Kalau Bandung dipercaya oleh komunitas pencak silat untuk mengirimkan dan mewakili diplomasi ini makan kita akan dukung," terangnya.
Selain itu Bandung juga akan mengirimkan dua jenis angklung untuk dihadiahkan kepada UNESCO.
"Selain pencak silat, kita ingin angklung yang bisa kita hadiahkan kepad UNESCO. Karena di UNESCO itu ada ruang ruang yang menampilkan karya budaya. Karena angklung identik dengan tatar parahyangan, kita juga akan berikan angklung dua tipe yaitu angklung set dan angklung robot yang bisa bunyi sendiri," tandasnya.
(avi/ern)











































