Pihak Unisba belum meyakini karena belum ada bukti otentik yang meyakinkan bahwa Rudi menjadi korban tewas di Suriah dan bergabung dengan ISIS.
"Bagi kami ini belum membuktikan bahwa Rudi menjadi korban tewas WNI karena belum ada yang menunjukan wajah dan identitas," ujar Taufik dalam jumpa pers di Rektorat Unisba di Jalan Tamansari, Selasa (8/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taufik menilai terlalu prematur untuk menghubungkan informasi tewasnya salah satu WNI di Suriah dengan dokumen ijazah alumni Unisba.
"Untuk menghubungkan informasi dan dokumen (ijazah) masih prematur. Sehingga semoga apa yang kita dapatkan bisa diteliti lebih lanjut," kata Taufik.
Apalagi, lanjut Taufik, dari dokumen yang diunggah ke sosial media, yakni ijazah dan lainnya, seperti persyaratan untuk melamar pekerjaan.
"Saya rasa sangat janggal bila orang yang bergabung dengan ISIS untuk berperang tapi membawa ijazah, transkrip nilai dan SKCK. Surat-surat seperti itu kan digunakan untuk melamar pekerjaan," jelasnya.
Baca juga: Rudi Alumnus Unisba yang Disebut Gabung ISIS Sempat Pamit Pergi ke Singapura
Sementara itu berdasarkan informasi yang dihimpun pihak Unisba dari keluarganya. Rudi yang merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Unisba angkatan 2008 dan lulus tahun 2014 ini meminta izin orang tuanya untuk bekerja di Singapura.
"Rudi berangkat sejak November 2014 ke Singapura. Kami curiga yang bersangkutan ditawari pekerjaan di luar negeri dengan iming-iming gaji yang besar," tandasnya. (avn/ern)











































