Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat Anang Sudarna pada wartawan di kantornya, di Jalan Naripan, Senin (25/5/2015).
"Kualitas udara di Kota Bandung semakin buruk, terutama saat akhir pekan karena terjadi lonjakan jumlah kendaraan," ujar Anang.
Ia mengatakan, pada tahun 2013, Kota Bandung mendapat rangking 1 sebagai Kota dengan polutan rendah. Namun pada tahun 2014, posisinya menurun menjadi peringkat ke-6.
Anang menyebut penambahan beban karbonmonoksida (CO) di akhir pekan pada akhir pekan dapat mencapai 2.500 Kg per hari. Bahkan kadar timbal dalam darah dari anak-anak telah mencapai 46 persen. Angka ini sudah melebihi standar World Health Organization (WHO) yakni 10 persen.
"Kadar polutan itu dilihat di tiga titik yang dipantau yaitu di Jalan Soekarno Hatta, Jalan Pajajaran, dan Jalan BKR," katanya.
Selain karena lonjakan jumlah kendaraan di akhir pekan, polusi di Kota Bandung makin buruk akibat kondisi kepadatan lalu lintas. Kemacetan semakin sering terjadi akibat jumlah kendaraan semakin banyak sementara lebar dan panjang jalan sangat terbatas.
Fakta lain menyebutkan polusi semakin parah akibat topografi dan geografi Kota Bandung yang berupa cekungan. Kondisi tersebut membuat udara buruk sulit untuk dihempaskan angin.
"Sebenarmya Kota Bandung berbahaya untuk tempat tinggal. Karena posisi Bandung yang cekung maka CO tidak terbawa angin, malah ngulibek (berpusar)," tutur Anang.
BPLHD akan memasang alat pantau polusi berupa Air Quality Monitoring System (AQMS). Selain Bandung, Bekasi, Bogor dan kota besar lainnya akan dipasang alat serupa. Sehingga jika kondisi polusi memburuk alat tersebut bisa memantau langsung.
"Polusi tinggi sangat berbahaya, bisa menimbulkan hujan asap," jelasnya.
(Tya Eka Yulianti/Erna Mardiana)











































