Meski awalnya Veni ragu-ragu memberi keterangan apalagi seputar hubungannya, namun ia kemudian menjelaskan bagaimana peristiwa penembakan di kosan di Jalan Leuwianyar pada Minggu (6/10/2013).
Veni menuturkan ia mengenal Rio di sebuah warung lesehan pada Februari 2012 lalu. Sejak itu, hubungan mereka makin dekat, namun Veni yang merupakan janda itu menyebut kedekatan mereka biasa saja dan hanya sekedar teman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Veni awalnya sempat mengaku berprofesi tukang gorengan, namun setelah itu ia mengaku dirinya adalah seorang pemandu lagu. Pada April 2013, Veni dicarikan kos oleh Rio di daerah Leuwipanjang dan akhirnya menyewa sebuah kamar. "Saya sebelumnya tinggal dengan ibu saya," kata Veni yang tidak memiliki anak dari suami terdahulunya itu.
Pada Sabtu (5/10/2013), Rio diakui Veni datang ke kosannya, namun menurutnya itu untuk meminjam uang. Saat ditanya apakah Rio memijat dirinya yang sedang sakit saat itu, Veni membantahnya.
"Cuma pegang kepalanya saja trus bilang kalau sakit jangan dibiarin," akunya.
Hingga kemudian lewat tengah malam keduanya berjalan-jalan dan makan di luar. Sampai sekitar pukul 4.10 WIB tiba di kosan kamar Veni terlihat terbuka pintunya dan rak sepatu di depan kamar berantakan.
Saat diperiksa, barang yang hilang yaitu Surat Janda serta Ijazah SD sampai SMA, sementara uang Rp 2 juta tidak hilang. Karena Veni merasa tidak ada orang yang masuk kecuali penghuni kos, Veni pun mengetuk pintu kamar Tina yang berada di sebelah kamarnya.
"Tina bilang enggak tahu. Pas saya tanya-tanya terus dia bilang 'Ari enggak tahu gimana. Itu mah derita lo'," tutur Veni menirukan ucapan Tina.
Rio pun ikut menghampiri Veni dan Tina di depan kamar Tina. "Teh maaf yah kalau ditanya itu yang bener aja. Kami di sini engga pernah cari masalah, segimana kalian ribut, ganggu tetangga, kami enggak ngapa-ngapain," kata Veni lagi.
Rio pun ikut berbicara di situ, sampai dari dalam kamar terdengar ucapan yang menyinggung. "Alah, Pret! Mentang-mentang aparat," begitu terdengar suara dari dalam.
Hal itu menyulut emosi Rio hingga kemudian sempat terjadi perkelahian antara Rio dan teman lelaki Ade yang bernama Ele. Sampai kemudian terdengar suara letusan senjata ke udara.
Veni yang berada di luar pintu masih mendengar ada yang berbicara dengan menggunakan bahasa Sunda yang artinya "Apa, nakut-nakutin? Jangan mentang mentang punya senjata," kata Hendi alias Ele.
Rio pun kembali memuntahkan tembakan ke atas dan lantai. Sampai tembakan keempat, Veni mendorong Rio hingga ia jatuh pingsan. Setelah itu ia mengaku tak sadarkan diri hingga kemudian dibangunkan lalu dibawa pergi Rio.
Keterangan Veni ini tak ada yang dibantah Rio.
(tya/ern)










































