"Berdasarkan prediksi BMKG, Desember ini hingga Juni tahun depan (2014) memasuki cuaca ekstrem di Jabar. Maka itu perlu antisipasi lokasi-lokasi rawan bencana alam," jelas Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jabar Dadang Ronda kepada wartawan di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Selasa (17/12/2013).
Tekstur wilayah Jabar terdiri dari pegunungan dan perbukitan yang rentan terjadi pergerakan tanah. Mengingat curah hujang tinggi, kata Dadang, perlu langkah-langkah antisipasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Kabupaten Bogor, titik perhatian BPBD Jabar tertuju pada 30 kecamatan yang dianggap rawan longsor. Untuk Cianjur lokasinya di wilayah selatan, seperti Sindangbrang dan Campaka. Daerah Garut titiknya di bagian selatan, salah satunya Pameungpeuk.
"Kalau di Tasikmalaya terdapat delapan kecamatan yang rawan longsor. Ciamis ada beberapa titik seperti daerah Cihaurbeuti, Pandawangan, Panjalu, dan Panumbangan," ujar Dadang.
Wilayah Kabupaten Subang tak lepas dari sorotan BPBD Jabar. Lokasi rawan longsor di Subang berada di kawasan Ciater dan Sagalaherang. Untuk Kabupaten Sumedang, lanjut Dadang, titik rawan longsor ialah daerah Cadas Pangeran dan Cikalong.
"Sukabumi tergolong lebih rawan pergerakan tanah. Contohnya di Kecamatan Soding. Untuk Kabupaten Majalengka, dari 30 kecamatan yang terdata, 10 di antaranya sebagai titik rawan longsor," ucap Dadang.
Untuk pencegahan, kata Dadang, BPBD Jabar berkoordinasi dengan pengurus BPBD di tiap daerah untuk memantau perkembangan situasi. Komunikasi terkini disampaikan dari daerah ke pengurus provinsi via komunikasi jarak jauh. Masyarakat setempat yang bermukim di titik-titik rawan bencana longsor diminta tetap waspada.
"Kami tetap antisipasi dan deteksi dini. Selain itu, mendidik dan melatih para komunitas setiap daerah di titik rawan bencana alam soal cara-cara penanggulangan bencana. Kami juga bekerjasama dengan pihak Pekerjaan Umum (PU) untuk menyediakan kendaraan alat berat," tutur Dadang.
(bbp/ern)











































