Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Paguyuban Rajut Muda Bandung, Cepi Andriana, kepada wartawan, usai acara silaturahmi dengan bakal calon wali kota Bandung, Ridwan Kamil, di kawasan sentra rajut Binong Jati, Selasa (2/4/2013).
"Yang kita butuhkan infrastuktur, showroom, dan pelatihan tenaga ahli. Kemudian dari segi pemasaran aksesnya masih kurang," ujar Cepi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah mengajukan anggaran sebesar Rp 6 Miliar di tahun anggaran 2010. Tapi belum juga cair, katanya anggarannya tidak mencukupi," ungkapnya.
Padahal menurut Cepi, jika dana tersebut sudah cair, bisa dipakai untuk membangun showroom dan lahan parkir untuk memudahkan pembeli yang datang ke kawasan Sentra Rajut.
"Selain itu, kita juga ingin mengajukan ada akses jalan dari Kiaracondong, karena kalau dari depan (Gapura Binong Jati-red) itu jalanya kecil, dan terlalu jauh ke dalam," terangnya.
Saat ini dalam satu hari total pengiriman produk sentra rajut ini mencapai 48 ribu lusin atau senilai Rp 1,2 Miliar. Pemasaran terbesar yakni ke Pasar Tanah Abang sekitar 75 persen.
"Biasanya kalau yang datang ke sini, itu pembeli retail baik dari Bandung maupun luar Bandung. Kalau yang dari luar Bandung itu kebanyakan melalui travel agent, pakai bis. Tapi kan ke sini tidak bisa masuk bis," sesalnya.
Menanggapi keluhan para perajin tersebut, Ridwan Kamil yang biasa disapa Kang Emil meminta mereka untuk tidak berkecil hati dan tetap terus berkarya sambil berharap dan berupaya ada berubahan yang lebih baik.
Menurutnya perubahan itu harus diusahakan secara nyata dan terus menerus. Tidak boleh hanya menunggu dan berprilaku pasif. "Bukan hanya berharap orang lain yang melakukan perubahan namun kita juga harus terlibat dalam proses perubahan tersebut," katanya.
(avi/ern)











































