Imam bercerita, saat awal-awal ia menjalani hobi sebagai pengibar bendera, hilir mudik ledekan dan sindiran masuk ke telinganya. Hingga ia mendapat julukan 'Imam Kelebet' dari teman-temannya.
"Saya disebut Imam Kelebet sama teman-teman saya karena sering mengibar-ngibarkan bendera. Awanya sebel banget disebut Imam Kelebet, tapi apa boleh buat," kisahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulai dari tiang bendera, hingga sang saka merah putih, ia siapkan dari rumah. Tiang bendera yang ia pakai hasil karyanya sendiri. Begitupun bendera, ia sengaja membeli bendera merah putih dengan berbagai ukuran.
"Ada ceritanya soal tiang ini. Awalnya ketika diminta untuk menjadi pengibar bendera, saya suka bingung mencari tiangnya. Akhirnya saya membuat sendiri sebuah tiang yang fleksibel, yang bisa dibawa-bawa. Bisa ditarik, dibaut, bisa dipakai menurut kebutuhan ruangan. Tekniknya seperti antena radio," ujarnya.
Tak hanya itu saja, Imam juga tetap memperhatikan penampilan. Ia selalu menyesuaikan konstumnya dengan acara yang akan ia hadiri. Mulai dari pakaian PDL hingga pakaian etnik.
"Kalau seragam saya menyesuaikan. Standarnya pakai PDL gunung. Kalau resmi sekali, saya pakai jas. Kalau acara anak muda saya pakai baju putih hitam atau putih biru jeans. Acara budaya biasanya pakai etnik sunda,"terangnya.
Dengan menggunakan motor vespa, serta membawa tas golf yang berisi tiang portable dan bendera, Imam siap diundang kemana saja untuk didaulat sebagai pengibar bendera.
(avi/ern)











































