Rabu (2/5/2012) sekitar pukul 21.00 WIB, Amanda beserta kedua orang tuanya berkumpul di dalam rumah bilik ukuran 4 x 6 meter. Satu jam sebelumnya hujan deras mengguyur kawasan Jalan Ranca Bulan Dalam, RT 8 RW 6, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap. Nira (10) dan Andika (9 bulan) turut mengisi kehangatan suasana rumah. Sedangkan kakak paling besar, Angga (16), sedang bercengkerama di rumah tetangga.
"Semalam itu lagi nonton tv. Terus Amanda ditanya mamah. Ada PR (pekerjaan rumah) enggak? Amanda jawab ada. Mamah nyuruh Amanda mengerjakan PR," jelas Nira, kakak Amanda, saat ditemui di rumah uwaknya yang tak jauh dari lokasi kejadian, Kamis (3/5/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar pukul 21.30 WIB, malapetaka datang tiba-tiba. Dinding pembatas setinggi 4 meter dan lebar 12 meter ambruk. Tanah penyangga ikut longor. Mereka sempat tertimbun dan nyaris terkubur hidup-hidup.
"Ternyata beneran Amanda enggak sekolah hari ini," terang Nira yang mengetahui adiknya itu meninggal.
Ai, ibu korban, tampak shock. Ia terkulai lemas di kasur dengan luka memar di kaki. "Amanda kadieu (ke sini). Dimana Amanda," teriak Ai sambil berkali-kali menyebut anak ketiganya itu.
Keluarga, dan tetangga terus menenangkan Ai. Jenazah Amanda dimakamkan siang tadi sekitar pukul 11.00 WIB di TPU Kebon Opat yang tak jauh dari rumah. Akibat kejadian tersebut, Endang menjalani perawatan di RS Salamon lantaran kaki kiri patah.
(bbp/ern)










































