Dana dari Uni Eropa Stop, IMPACT Mulai Cari Uang Sendiri

Dana dari Uni Eropa Stop, IMPACT Mulai Cari Uang Sendiri

- detikNews
Kamis, 17 Nov 2011 14:08 WIB
Bandung - Program Integrated Management for Prevention and Control and Treatment of HIV/AIDS (IMPACT) kini mulai mencari dana sendiri untuk meneruskan program yang telah dilakukan lima tahun terakhir. Sebelumnya, program ini didukung dengan pendanaan oleh Uni Eropa.

Pelaksana program ini yaitu Universitas Padjadjaran, RS Hasan Sadikin dan tiga universitas di Eropa yaitu Radboud Nijmegen, Antwerp Belgium dan Maastricht. Lima tahun terakhir dari 2006, Uni Eropa membiayai seluruh kegiatan IMPACT. Berakhir November 2011 dan tidak diperpanjang.

"Setelah ini kita akan cari funding sendiri. Minimal untuk mempertahankan program yang ada," ujar Bachti Alijahbana, Kepala Unit Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Unpad saat ditemui di sela-sela acara 3rd Bandung Infection Disease Symposia, International Research Seminar in Infection Disease, Innovation for Better Care of Infection Disease di Hotel Aston Primera Pasteur, Jalan Djunjunan, Kamis (17/11/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pelaksanaannya, IMPACT mengembangkan dan mengimplementasikan pendekatan berbasis bukti untuk menentukan apa yang sesuai dan berhasil dalam pencegahan HIV di sekolah, rumah sakit, masyarakat dan lapas.

Bachti mengatakan, selama 5 tahun, IMPACT telah berhasil meningkatkan layanan komprehensif di 2 klinak RSHS yaitu Klinik Teratai dan Klinik Metadon. Juga memperkuat layanan labolatorium perawatan untuk pasien HIV atau adiksi di rumahsakit, puskesmas, dan lapas Banceuy.

Untuk pencegahan, IMPACT juga menerapkan pendidikan pencegahan penyalahgunaan narkoba, pendidikan kesehatan reproduksi dan keterampilan hidup terkait HIV/AIDS sebagai sebuah kurikulum yang efektif di tingkat SMP.

"IMPACT telah memberikan kesempatan bagi dosen dan peneliti di Unpad untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam melakukan penelitian yang lebi baik dalam bidang HIV, TB dan infeksi oportunistik lainnya. Ini juga meningkatkan praktik layanan di Klinik Teratai dan Klinik Metadon di RSHS," tuturnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Delegasi Uni Eropa, Colin Crooks mengatakan kerjasama ini merupakan kebutuhan bersama untuk mengatasi ancaman HIV.
"Uni Eropa terus mendukung negara-negara berkembang untuk pengendalian epidemi HIV dengan kontribusi hampir 60 persen dana untuk Global Fund for Aids, Tubercolosis dan Malaria, dimana Indonesia mendapatkan US$ 150 juta untuk pengendalian HIV," katanya.
(tya/ern)


Berita Terkait