Hal itu terlihat dari adanya fakta masih ada bayi gizi buruk di Indonesia. Salah satunya Keyza Yulianti (4), bayi gizi buruk asal Braga, Kota Bandung.
"Alokasi dana kesehatan di APBN harusnya ditambah, tapi fokusnya bukan hanya sarana dan prasarana fisik. Yang paling penting pencegahan di usia dini, khususnya masalah gizi agar tidak terjadi hal seperti ini," ujar anggota Komisi VI Itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara akademis maupun teknis, Syarif mengaku tidak terlalu mendalami soal dana kesehatan. Namun, fakta di lapangan masih ditemui bayi gizi buruk.
"Ada beberapa kasus seperti ini seperti di Tasikmalaya dan Garut misalnya. Ini menunjukkan kebijakan di bidang kesehatan tidak bertumpu pada orientasi pencegahan di usia dini," jelasnya.
Menurutnya, selama ini politik anggaran di APBN lebih fokus pada pembangunan fisik seperti pembangunan rumah sakit dan pengadaan alat-alat kedokteran.
"Kenapa? Karena itu yang bisa dijadikan proyek. Sebab kalau usaha penyuluhan untuk mengubah cara hidup masyarakat memang (dipandang) tidak menarik (untuk proyek)," tandas Syari
(ors/ern)










































