Setiap tahun perayaan Imlek di Bandung tak jauh berbeda. Selain aktivitas sembahyang umat Tionghoa, bocah-bocah pemburu angpau pun menghiasi sejumlah vihara.
Contohnya di Vihara Satya Budhi, Jalan Vihara, Kota Bandung, Kamis (3/2/2011). Sekitar 50 bocah yang mayoritas belasan tahun ini tumplek di vihara tersebut sejak sore kemarin.
"Saya datang sama 13 teman lainnya dari Ciroyom. Ya, tiap Imlek datang ke vihara ini untuk cari angpau," jelas Ade (17).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bau dupa yang asapnya membuat mata perih, bukan penghalang bagi mereka. Tangan-tangan mungil itu memelas. Ucapan belas kasihan terlontar bersahutan kala para jemaat meningalkan lokasi vihara.
"Angpaunya Pa. Angpaunya...," ucap mereka mengikuti langkah kaki jemaat.
Suris (11) datang tanpa alas kaki. Meski matahari menyengat, jejak langkahnya begitu menyiratkan semangat. Suris mengaku putus sekolah saat kelas 5 SD.
"Baru dapat recehan dua ribu rupiah," ungkapnya saat jarum jam menunjukan pukul 11.00 WIB.
Jemaat yang hadir tak sedkit berbagi kebahagian perayaan Imlek tahun ini. Angpau yang dimaksud sang bocah itu rupanya bukan mata uang rupiah yang terbungkus amplop.
Setiap umat Tionghoa yang hendak pulang, dihampiri puluhan bocah-bocah pria dari berbagai arah. Uang dirogoh dibalik saku celana dan baju. Lalu rupiah berbentuk koin serta kertas diberikan ke sebagian bocah.
Ada pula yang memberikan uang koin dengan cara dilempar. Kontan saja, suasana pun berubah riuh. Bocah-bocah saling berebut.
"Saya tadi jatuh saat mau ngambil uang. Akhirnya terinjak-injak sama yang lain. Sakit," papar Ade.
Tidak hanya bocah pemburu angpau yang bersiaga di lokasi tersebut. Kaum dewasa pun turut nimbrung menanti peraya Imlek yang iba.
Potret kehidupan kaum minoritas ini seolah menjadi tradisi. Meski musiman, naluri bocah-bocah menggapai rupiah sesaat bakal terus melekat.
"Tahun kemarin juga cari angpau. Sekarang lagi. Imlek tahun depan, pasti memburu angpau lagi," ungkap Suris sembari menahan kantuk.
(bbp/avi)










































