Dalam pertemuan nanti malam yang rencananya akan digelar di Hotel Puri Khatulistiwa, ada tiga tuntutan yang ingin disampaikan.
Pertama, meminta rektor IPDN meminta maaf secara terbuka di media cetak dan elektronik selama 7 hari berturut-turut. Kedua, meminta rektor IPDN mundur dari jabatannya. Tiga menyediakan ruang publik untuk masyarakat Jatinangor. Dan keempat, meminta IPDN peduli pada pengembangan masyarakat Jatinangor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat disinggung kebenaran isu SARA yang berkembang yang keluar dari mulut rektor IPDN, Dudi mengaku belum tahu kebenarannya secara pasti. Namun, pihaknya sudah melakukan identifikasi terhadap isu tersebut.
"Kami memang tidak dengar secara langsung karena statement itu ada dalam apel. Tapi kami sudah melakukan identifikasi. Dari beberapa data yang didapat, betul pak nyoman berkata seperti itu," jelasnya.
Sementara dalam pertemuan malam ini, direncanakan sekitar 100 perwakilan warga akan hadir. Diharapkan, hasil dari pertemuan tersebut didapat hasil memuaskan bagi semua pihak.
"Nanti perwakilan yang datang sekitar 100 orang. Itu dari berbagai elemen masyarakat," pungkasnya.
Warga di kawasan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, dilanda isu tak sedap yang berhembus dari kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Isu itu menyebutkan kalau Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi menghina orang Sunda. Warga pun mendesak Nyoman meminta maaf.
Isu dari SMS itu mulai menyebar luas pada Rabu (12/1/2011). Informasi yang dihimpun Nandang, SMS itu muncul setelah adanya kabar Nyoman berucap kalimat yang menyinggung orang Sunda. Perkataan Nyoman itu kabarnya dilakukan saat memberi sambutan di hadapan banyak orang dalam acara 'Evaluasi Kinerja di Lingkungan IPDN' di Kampus IPDN Sumedang, Rabu (12/1/2010).
(ors/tya)










































