Tak diketahui siapa yang mengkoordinir ratusan warga dan pedagang ini. Karena aksi ini dilakukan hampir bersamaan dengan aksi yang dilakukan di Saung Budaya Sunda (Sabusu) tempat massa dari Aliansi Masyarakat Sunda berkumpul.
Aksi ini berlangsung selama sekitar 30 menit. Massa yang juga terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak itu hanya berteriak-teriak mengungkapkan kekecewaan mereka lalu membubarkan diri pada pukul 16.30 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka kebanyakan pedagang yang sebelumnya berjualan di Masjid sekitar IPDN. Tapi mereka tidak boleh berjualan setelah ada kebijakan rektor saat ini. Selain itu yang ikut aksi ini adalah warga sekitar, bukan dari kelompok kami," ujar Dudi di depan kampus IPDN, Jalan jatinangor-Sumedag, Minggu (16/1/2011).
Ia menegaskan aksi di depan kampus bukanlah settingan dari Aliansi Masyarakat Sunda. "Bukan settingan, ini akumulasi warga sekitar dan para pedagang yang sebelumnya jualan di dalam," katanya.
Sementara itu Kapolres Sumedang AKBP Nurullah, langsung menurunkan sekitar 100 personel di sekitar kampus. "Kita siapkan 100 personel kalau kurang kita tinggal dibantu dari polsek," katanya di tempat yang sama.
Namun Nurullah menolak disebut kecolongan atas aksi di depan kampus tersebut. "Ngga kecolongan, ini karena banyak warga yang nonton makanya kelihatan banyak," elaknya.
Masih di lokasi yang sama, Camat Jatinangor Nandang Suparman mengatakan aksi tersebut merupakan gerakan spontanitas yang dilakukan karena adanya ketidakpuasan terhadap IPDN.
"Ini diindikasikan sebagai bentuk klimaks ketidakpuasan warga terhadap individu di IPDN itu sendiri. Aksi disini tidak jelas siapa yang mengkoordinirnya," kata Nandang.
Pantauan detikbandung hingga saat ini para petugas masih berjaga. Sementara puluhan warga masih ada yang bertahan untuk nongkrong di depan Kampus IPDN. Di depan Kampus IPDN terpasang 4 spanduk dari Aliansi Masyarakat Sunda.
Di tembok bagian depan juga terpasang kertas dengan berbagai tulisan yang sepertinya ditempel oleh warga dan demonstran yang melakukan aksi. Diantaranya pada kertas tersebut tertulis 'Untuk IPDN, Berdayakan Warga Jatinangor', 'Warga Jatinangor Siap Melawan Pada Siapapun yang Ingin Memecah Belah Persatuan'.
(tya/tya)











































