"Ini tumpukannya sudah sampai ke jalan, jadi mobil atau motor yang mau belok kiri langusng suka mentok karena ada sampah. Jadi ke belakangnya suka macet," ujar Ujang (30) saat ditemui detikbandung di Pasar Simpang Dago, Jumat (17/12/2010).
Selain menimbulkan kelacetan, pedagang dan warga yang berbelanja di Pasar Simpang mengaku tidak nyaman dengan menumpuknya sampah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kebetulan tiap hari ke pasar, ngeliat sampah dari beberapa hari lalu kok seperti yang tidak diangkut, menumpuk. Dari kemarin waktu ke sini udah bau. Jadi hari ini saya pakai masker biar enggak terlalu kecium baunya," ujar Ena.
Selain Ena, yang merasa tidak nyaman dengan adanya tumpukan sampah tersebut adalah Onih (40) seorang pedagang sayur yang lapaknya berada dekat dengan tumpukan sampah.
"Biasanya setiap hari pagi-pagi ada yang ngangkut. Tapi udah beberapa hari ini enggak. Jadi numpuk-numpuk terus, dan bau. Untung tidak hujan. Kalau hujan tambah bau," keluhnya.
Pantauan detikbandung, penumpukan sampah terjadi di depan Pasar Simpang tepatnya sekitar 30 meter sebelum lampu merah Simpang Dago. Tampak beberapa pemulung mengais-ngais sampah. Petugas sampah pun tampak merapikan sampah-sampah yang berceceran hingga memenuhi setengah badan jalan.
Tumpukan sampah sudah mencapai diameter 4 meter dengan panjang 10 meter. Selain bau, lalat pun beterbangan di sekitar sampah. Sebagian tumpukan sampah yang menghadap ke jalan, ditutupi terpal berwarna oranye.
(avi/avi)










































