Hal itu dikemukakan Kadisdik Kota Bandung Oji Mahroji, di sela Peresmian dan Pembukaan Axioo Centre di SMK MedikaCom, Jalan Soekarno-Hatta 619, Selasa (22/6/2010).
"Mereka yang di Rumah Cemara itu bisa mendapat beasiswa. Asal pihak sekolahnya mengajukan," kata Oji kepada detikbandung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau sekolah tidak mengajukannya, kita tidak tahu (ada siswi seperti itu). Yang jelas, sekolah-sekolah di Bandung sudah gratis. Bagi yang belum digratiskan, ada bawaku yang bisa diperuntukkan untuk dunia pendidikan," paparnya.
Menurutnya, ada tiga faktor penyebab siswi tersebut bekerja sebagai penjaja seks. Pertama ialah bentuk pengawasan orangtua yang kurang selektif.
Kedua pengaruh lingkungan atau pergaulan sekitarnya. Terakhir, yang bersangkutan sudah menikmati 'pekerjaannya' itu.
"Kita sudah memberikan pendidikan dan bekal di sekolah. Masalahnya, kita hanya mengawasi mereka (siswa-siswi, red) hanya lima jam. Di luar
itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat. Dan tentunya, itu kembali ke pribadi masing-masing," pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, dari 200 PSK yang dibina Rumah Cemara, ada 20 di antaranya pelajar. Mereka rata-rata berasal dari keluarga tak mampu. Namun mereka menjadi PSK, mayoritas untuk memenuhi gaya hidupnya seperti membeli handphone atau sepasang sepatu mahal.
(ern/ern)











































