Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Bandung menggelar aksi simpatik di depan Gedung Sate untuk memperingati May Day, Sabtu (1/5/2010).
Salah satu tuntutan mereka yaitu menolak PHK massal terhadap pekerja media.
Ketua AJI Bandung Agus Rakasiwi menyatakan selain menolak PHK Massal, AJI juga menuntut upah layak bagi jurnalis dan pekerja media lainnya.
Dalam orasinya Agus memaparkan, tahun 2010 merupakan musim gugur bagi pekerja media di Indonesia. Pada November 2008 sampai April 2009 AJI mencatat hanya 100 pekerja media yang dipecat. Kini data tersebut melonjak tajam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PHK massal dialami 144 pekerja media paska diakuisisi kelompok Kompas Gramedia, lalu 50-an pekerja Suara Pembaruan dan kelompok media grup Lippo lainnya serta puluhan pekerja stasiun TV Anteve," ujar Agus saat menyampaikan orasi.
Agus mengatakan konflik ketenagakerjaan adalah imbas ketidakjelasan kerja hingga masalah kesejahteraan pun bermunculan.
Pada Mei 2009 misalnya, 60 pekerja Harian Aceh Independen juga jadi korban PHK massal. Sementara di Kendari sejumlah wartawan Kkendari TV mengalami nasih serupa.
Selain itu, Agus juga mengkhawatirkan pemberangusan serikat pekerja atau union busting di sejumlah industri media.
Dijelaskan Agus, berdasarkan riset AJI Indonesia terbaru, masih banyak jurnalis digaji di bawah standar minimun kota dan kabupaten.
Membaca situasi tersebut, dikatakan Agus, melalui May Day, AJI Bandung mengajukan 3 tuntutan yaitu menolak PHK massal, dirikan serikat pekerja dan lawan union busting, serta tuntut upah layak bagi jurnalis dan pekerja media lainnya.
"Buruh pers bersatulah dan lawan ketidakadilan," seru Agus.
Dalam aksi tersebut, Agus bersama sekitar 10 anggota AJI lainnya, membentangkan poster masing-masing di antaranya bertuliskan, ' Jurnalis Juga Buruh', Ayo Bersatu, Lawan PHK Massal Terhadap Pekerja Media, Lawan Union Basting, Tolak Ampolop dan Tuntut Upah Layak Jurnalis'.
(ema/ema)










































