Pemasukan dan Pengeluaran Naik

Delman Laku di Saat Banjir

Pemasukan dan Pengeluaran Naik

- detikNews
Sabtu, 20 Feb 2010 11:12 WIB
Pemasukan dan Pengeluaran Naik
Bandung - Atep (27) sedang duduk santai di kursi belakang delmannya. Cuaca siang itu cukup cerah, walau genangan air hingga setinggi 75 sentimeter hanya berjarak kurang dari
sepuluh meter dihadapannya.

Kondisi banjir seperti ini seolah menjadi berkah tersendiri untuknya, saat angkutan kota tak bisa melewati kawasan yang menghubungkan Baleendah dan Dayeuh Kolot akibat banjir.

"Tentu saja namanya musibah mah tidak bersyukur. Tapi saya manfaatkan untuk nyari rezeki lebih sambil nolong orang," ujar pria berkaus lusuh ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Atep mengaku memasang tarif lebih tinggi dari biasanya. Jika biasanya tiap penumpang dipatok untuk membayar Rp 2 ribu, kini bisa merogoh kocek hingga Rp 5 ribu. Namun untuk pelajar, tarifnya bisa Rp 3 ribu saja.

"Ya namanya juga anak sekolah mah uangnya kan terbatas," tuturnya.

Ia beralasan kenaikan tarif ini karena medan yang berat. Menembus banjir menurutnya bukanlah perkara mudah, karena membutuhkan tenaga yang lebih besar dari kudanya. "Kan kehambat sama air, jadi butuh tenaga lebih dari kuda saya," ungkapnya.

Perawatan kuda pun dipastikan meningkat akibat menembus genangan air kotor. Atep mengatakan, tiap habis kerja kudanya harus dimandikan dengan air hangat. Jika tidak, kuda miliknya bisa mengalami gatal-gatal.

Selain itu, hujan yang kerap datang tiba-tiba pun bisa mengakibatkan hewan pendulang rezekinya ini sakit. Maka, pakan yang diberikan pun harus ditambah dengan vitamin.

Pendapatan Atep per harinya bisa mencapai Rp 150 ribu. Sedangkan kalau tidak banjir paling juga hanya Rp 50 ribu. "Pemasukan memang naik, tapi untuk perawatan kan naik juga," imbuhnya.

Selain Atep, ada pula Yayan (31) yang sama-sama memanfaatkan banjir untuk mendulang rupiah. Delmannya dalam sehari bisa bolak-balik menembus banjir hingga 7 kali.
Akhirnya, pangkalan sebelumnya di Pasar Baleendah pun ia tinggalkan.

"Abis pemasukannya lebih banyak," ungkap ayah dua anak ini.

Seperti kusir delman lainnya, ia melayani penumpang dari bibir banjir di RW 9 Kelurahan Andir Kec Balendah hingga seberang gedung PLN di Kec Dayeuh Kolot. Banjir sepanjang lebih dari 300 meter itu dilaluinya dengan delman tua warisan ayahnya. Ia mengaku menjalani profesi ini secara turun temurun.

"Enggak ada pekerjaan lain, akhirnya narik delman juga seperti Bapak," imbuhnya.

Namun soal tarif, ia mengaku tidak mematok harga seperti kusir lain. Ia menilai penumpang memiliki kesadaran sendiri untuk membayar lebih. Dalam sekali mengendarai delmannya, seorang penumpang bisa membayar dua hingga lima ribu rupiah. Namun ia tidak memungkiri uang yang ia dapat tetap lebih tinggi dari biasanya.

"Pastilah lebih, makanya saya ke sini," ujarnya sambil memasang senyum lebar.

Yayan pun mengakui, perawaran kuda miliknya kini jauh lebih repot karena harus menembus banjir. Namun dengan pemasukan yang lebih tinggi, kusir manapun menurutnya akan tergiur untuk membuka rute yang tidak tertembus angkutan umum ini. Akhirnya, ia dan keluarganya bisa makan malam dengan menu yang lebih baik dari biasanya.

"Ya, biasanya ikan asin mulu, sekarang istri bisa masak yang lain," tutupnya sambil tertawa.

(ema/ema)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads