Bergerak dari Kesadaran Politik

Kampung Napi Jadi Kampung Teladan (9)

Bergerak dari Kesadaran Politik

- detikNews
Kamis, 29 Okt 2009 13:01 WIB
Bergerak dari Kesadaran Politik
Bandung - Yang menarik dari gerakan warga RT 04 RW 01 Kelurahan Babakan Asih adalah, warga bukan digerakkan oleh kaum intelektual, melainkan mantan narapidana. Ini terjadi karena kesadaran politik warga sudah terbangun.

Dari 500 jiwa warga RT 04, mayoritas berprofesi sebagai pedagang juga pengrajin sablon juga pernak-pernik dari resin. Tidak ada pegawai negeri sipil atau pejabat.

Yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi tidak banyak, kurang dari 20 orang. Di antara mereka yang pernah kuliah, bahkan sampai pasca sarjana. Namun bukan mereka yang menggerakkan warga, melainkan para mantan napi yang masuk dalam Kartoen Ervat.

"Mereka yang punya pendidikan justru jarang terlibat, cenderung cuek. Tidak melihat kenyataan bahwa yang bekerja ini adalah para residivis. Universitasnya di Kebon Waru," ujar Ketua RT 04 Ahmad Ruyani.

Sementara Reggi Kayong Munggaran yang konsisten mendampingi warga mulai tahun 2000 menyimpulkan, kondisi ini membuktikan bahwa pergerakan masyarakat tidak melihat status sosial. Semuanya tergantung dari kesadaran.

Demikian banyaknya isu yang harus dibahas bersama, ternyata bisa ditarik titik awal untuk bergerak yakni kesadaran politik.

"Masyarakat perlu memahami bagaimana kelalaian terhadap keseimbangan lingkungan, ekologi dan lainnya berimbas pada kehidupan mereka. Ini yang disebut dengan kesadaran politik. Dalam konteks pergerakan masyarakat, kalau kesadaran politik tidak tumbuh, dengan sendirinya kesadaran ekologi, kesadaran ekonomi dan lainnya juga tidak akan muncul," papar mantan aktivis LBH Bandung lulusan Fakultas Hukum Unisba ini.

Setelah terbukti warga mampu bergerak sendiri membenahi lingkungannya seperti menanggulangi banjir, menciptakan lingkungan bersih dan nyaman hingga membuat sistem yang menunjang kebutuhan warga, tahap selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan kemampuan ekonomi warga.

"Sekarang sedang dirancang konsep ekonomi bersama. Misalnya ada yang punya home industri meski skala kecil, bisa memanfaatkan tenaga warga sekitar yang membutuhkan kerja. Lebih jauh lagi, sudah ada gagasan untuk membuat unit usaha yang stake holdernya warga. Tetapi ini tidak dibuat instan, karena harus dibangun dulu kesepahaman sehingga hasilnya tidak prematur," sambung Reggi. Kondisi masyarakat yang homogen, menjadi keunggulan yang memungkinkan konsep ekonomi bersama diterapkan.

Efek dari gerakan warga RT 04 RW 01 Kelurahan Babakan Asih ini, imbasnya mulai dirasa lebih luas. Para pemuda dari RT-RT lain mulai menjalin komunikasi, untuk belajar bagaimana mengawali usaha menggerakkan warga. Tidak itu saja, oleh masyarakat sekitar, RT 04 sudah dilihat "beda" sehingga sering dikunjungi untuk sekadar lewat atau bahkan berkenalan dan ngobrol.

"Dulu waktu Pak Tisna Sanjaya datang ke sini, ia sempat berkata bahwa daerah ini bisa menjadi salah satu tempat yang menarik bahkan untuk turis. Sekarang saya mulai percaya karena sudah terasa. Anak-anak sekolah semakin sering bermain di sini, sekadar berfoto di mural. Artinya daerah ini sudah semakin dikenal baik, jauh sekali perubahannya dibanding ketika dulu masih dianggap rawan dan penuh sampah," tutur Reggi.
(lom/lom)


Berita Terkait