Elnino Datang, Petani Diminta Semai Kering

Elnino Datang, Petani Diminta Semai Kering

- detikNews
Selasa, 28 Jul 2009 15:33 WIB
Bandung - Puncak musim hujan yang harusnya terjadi pada Desember dan Januari diprediksi akan mundur, jika gejala elnino melanda Indonesia. Hal itu akan berakibat pada kerugian produksi pertanian. Karena itu, para petani diminta untuk mempercepat laju tanamnya.

Hal itu disampaikan Rizaldi Boer, Ketua Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia di Lapan, Jalan Pasteur, Selasa (28/7/2009). Menurutnya jika gejala elnino terjadi, maka musim penghujan yang biasa datang pada November akan mundur menjadi Maret atau April 2010.

"Dengan begitu musim hujan nanti akan pendek. Tapi kepastian elnino datang atau tidak nanti akan ditentukan pada Agustus," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, kata dia, pihaknya akan mempersiapkan percepatan laju tanam. Hal itu dilakukan agar para petani dapat berproduksi meski musim hujan lebih pendek dibandingkan biasanya.

"Biasanya petani mempersiapkan masa tanamnya 10 hingga 20 hari setelah memasuki musim hujan, namun untuk masa elnino ini kita menginstruksikan agar mempersiapkan lahan mereka sebelum masuk musim hujan, biar waktunya efektif. Itu untuk mengejar target produksi, meski tak akan seperti musim biasanya," kata dia.

Dikatakannya percepatan laju tanam itu biasa juga disebut semai kering atau gogo rancah. Para petani menamam bibit di kebun dulu baru memindahkannya ke sawah ketika musim hujan masuk.

Menurut Rizaldi program ini sudah dilakukan pada 2006-2007 saat elnino melanda, namun belum terlalu efektif. "Tapi saat itu kita bisa meminimalisasi penurunan produksi," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan elnino biasanya akan melanda Pulau Jawa, terutama di bagian timur dan tengah. "Para petani di Jatim dan Jateng yang kena langsung, namun dampaknya dirasakan lebih besar oleh petani di Jabar. Sebab para petani di Jateng dan Jatim sudah terbiasa mengalami kekeringan," jelasnya.

Sosialisasi percepatan laju tanam di Jabar juga masih cukup sulit, salah satunya karena informasi mengenai iklim seperti ini tak dilembagakan dengan baik. "Informasi mengenai iklim hanya diterima saja oleh kabupaten dan kota, tidak menjadi sebuah kebijakan," sesalnya.

Selain itu, terkadang para petani juga mempunya cara tersendiri untuk menamam. "Potensi kehilangan produksi pada 2002 mencapai 2 ton untuk seluruh Indonesia, kami harap pada tahun ini tidak ada," harap Rizaldi.

(tya/ern)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads