Peryataan tersebut diungkapkan Tisna Sanjaya ketika dihubungi detikbandung, Kamis (7/5/2009). Menurutnya, isi film yang ditawarkan di dalam Romeo-Juliet tidak ada maksud untuk menjelekkan satu golongan tertentu, terlebih secara etnik.
"Film merupakan bentuk ekspresi orang lain, sesensitif apapun filmnya seharusnya didiskusikan bukan muncul kekerasan," kata Tisna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu hal biasa yang ada di keseharian, tapi pembacaan keseluruhannya bukan untuk berbuat rasis, tetap harus dikritisi," jelas Dosen Seni Rupa ITB ini.
"Apalagi Bandung tidak punya kultur kekerasan dan sering diidentikkan dengan kota kreatif atau kota perenungan," sambung Tisna yang mengaku dekat dengan Heru Joko dan beberapa pentolan Viking lainnya.
Tisna mengaku cukup terkejut ketika mengetaui rekannya tersebut ditetapkan menjadi tersangka kasus pemukulan terhadap sutradara film Romeo-Juliet Andibanchtiar Yusuf atau akrab disapa Ucup.
"Masa, padahal nggak usah main pukul, kalau gitu sama dengan gerakan ormas yang suka pukul-pukulan," seloroh Tisna
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (ahy/ern)










































