Peryataan tersebut dikatakan oleh Ketua Bandung Heritage Harastoeti kepada detikbandung, Senin (23/3/2009). Menurutnya banyak dari pemilik bangunan cagar budaya yang mengeluhkan mahalnya biaya perawatan untuk bangunan tua.
"Pemilik merasa sudah tidak punya uang untuk merawatnya," kata Harastoeti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga bangunan yang seharusnya dipelihara lebih baik dijual kepada pemgembang oleh pemiliknya," kata Harastoeti.
Pembangunan hotel yang mengorbankan beberapa bangunan bersejarah sangat disayangkan oleh Harastoeti. Tidaklah terlalu masalah jika bangunan cagar budaya harus jatuh ke tangan pengembang selagi mampu menjaga keaslian dari bangunan cagar budaya.
"Yang terpenting adalah identitasnya," kata Harastoeti.
Pemerintah, imbuh Harastoeti, seharusnya dapat mengimbau kepada para pemilik bangunan cagar budaya untuk dapat menjaga bangunannya terutama pemerintah kota. Karena bangunan cagar budaya lebih banyak berada di pusat-pusat kota dan strategis untuk kegiatan komersil.
"Alasan ini pula kenapa banyak pengembang yang tega untuk merobohkan bangunan-bangunan tua," kata Harastoeti.
Saat ini ada sekitar 200 lebih bangunan yang masuk kriteria cagar budaya di kota Bandung. Jumlah tersebut didapatkan dari seribu lebih inventarisasi Bandung Heritage. Setelah disusutkan berdasarkan usia bangunan, nilai seharah, dan memiliki peran iptek untuk masyarakat, barulah bangunan termasuk pada bangunan cagar budaya.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.
(ahy/ahy)










































