Bermain Musik dari Barang Sampah

Bermain Musik dari Barang Sampah

- detikNews
Kamis, 05 Mar 2009 11:00 WIB
Bermain Musik dari Barang Sampah
Bandung - "Saya tak pernah menyesal gagal sekolah, didalam kegagalan itu saya menemukan-menemukan hal lain yang tidak bisa didapatkan di dalam dunia sekolah," kalimat tersebut meluncur dengan senyum dari mulut Dodong Kodir.

Dodong Kodir yang akrab dengan sebutan Kang Dodong, lahir di Tasik 8 November 1951. Umurnya yang sudah lebih setengah abad, tidak menyurutkan semangat seni dan. Rambutnya yang gondrong sebahu sudah memutih sebagian seakan menjadi saksi kisahnya selama ini.

Kang Dodong salah satu musisi tanah sunda yang unik. Musikalitasnya tidak diragukan. Tapi orang sering bertanya tentang penciptaan musik Dodong. Ya, sedari dulu orang tidak percaya Dodong adalah seniman yang berkutat dengan dengan sampah. Seolah alat musik pabrik, sampah disulapnya mampu mengeluarkan suara yang unik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bermodalkan ide, kepedulian dan kreativitas, sudah lebih dari 100 buah alat musik ia ciptakan dari sampah, dan berbagai acara seni dan festival juga sudah ia sambangi, baik di dalam negeri maupun diluar negeri, bertaraf nasional maupun internasional.

Semuanya berawal saat Dodong bekerja pada Studio Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). Ia seorang pengrawit, sebutan untuk pemain musik karawitan. Ia biasanya memainkan suling. Dan, permainan musik karawitan itu ia pelajari otodidak dari radio.

Dodong biasa menyaksikan pertunjukkan karawitan atau teater di tempatnya bekerja. Saat menyaksikan pertunjukan mahasiswa, ia merasa efek suara yang dimainkan monoton. Dan, situasi itu mendorongnya mencari bentuk efek suara yang lain.

"Kadang efek suara petir dan banjir dibuat dari alat gamelan yang sama. Jadi tidak ada beda,"ujar dodong

Lantas muncul ide untuk membuat 'sesuatu'. Ia memulainya dengan sebuah bambu berukuran besar yang sudah rusak. Entah pikiran apa yang menggelayutinya, Dodong lantas mencari suara yang pas dari bambu tersebut. Hasilnya suling bambu yang tidak biasa.

Ukurannya jauh lebih besar dibanding suling sunda pada umumnya. Dan tentu saja suara yang dikelurkan pun berbeda. Dari situ kang Dodong mulai bereksplorasi dengan membuat alat-alat yang lain.

Dari kaleng bekas, Bambu, Paralon sampai Tempat makan ayam tak luput dari ide liar dirinya, menyihir mereka menjadi alat bunyi-bunyian yang unik. Kadang alat musik itu hanya terbuat dari sebuah pencukur jenggot bekas. Meski sederhana, alat-alatnya tetap punya tampilan visual yang artistik.

Hasil suara yang dihasilkan alat sampah Kang Dodong semakin digemari dan mulai banyak orang meminjam alatnya. Tak jarang orang-orang memesan minta dibuatkan. Seperti sat seniman Bandung, Harry Dim minta dicarikan suara lalat.

"Saat itu saya dari pagi keluar rumah dan langsung nogkrong di tempat sampah" ujar Kang Dodong semangat.

kemudian Kang Dodong merekam bunyi lalat dalam otaknya dan berusaha menerapkannya pada benda-benda di tempat sampah itu. Hasilnya, suara lalat dari sebuah pensil dan plastik.

Kang Dodong hanya berharap jika sudah punya rezeki ia ingin membuat sebuah galeri atau bahkan museum untuk menyimpan alat musik sampah buatannya.

Jika hal itu terwujud ia berharap galeri atau museum nanti bisa berguna, entah untuk penelitian atau sekedar dikunjungi wisatawan baik dalam dan luar negeri.

Namun, dari semua hal hebat tentang alatnya, Dodong tidak sedang mencari uang dari sampah. Ia malah tidak ingin ada sampah berenang di sungai, tergelatak di jalan atau bahkan dibiarkan menumpuk.

Semangat terhadap penanganan sampah ini yang selalu ia kejar dan tanamkan pada orang yang memintanya bernyanyi, menjadi pembicara atau sekadar bertemu di jalan.

"Jadi ketika ada yang membuang sampah langsung ditilang saja," ujar Dodong.




Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (rks/rks)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads