Ditemui di pameran open house ITB beberapa waktu lalu, Tatang Nugraha (23) yang sudah menjadi alumni ini, menerangkan kalau penelitian tersebut berawal dari tugas akhir seorang mahasiswa pada tahun 2003. Tugas akhir tersebut akhirnya menjadi tugas bersama yang dikembangkan oleh mahasiswa lainnya sampai sekarang.
Menurut Tatang cukup memakan waktu untuk membuat jamur tersebut menjadi produk jadi. Pihak SITH di bawah bimbingan dosen I Nyoman P.A awalnya ingin meyakinkan pihak Kimia Farma bahwa jamur kayu memiliki kandungan anti koloesterol. Kemudian diteliti LIPI, yang hasilnya memang jamur kayu mengandung anti kolesterol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah satu minggu, simpan potongan kecil miselium jamur atau kumpulan dari spora jamur ke dalam medium tersebut. Setelah hari ke 25 miselium jamur dipindahkan ke medium lain untuk diekstraksi. Jamur dalam MPD dibagi ke dalam 15 toples berisi serbuk gergaji dan gula pasir. Esktraksi jamur menghasilkan larutan lopastatin yang merupakan zat anti kolesterol.
Baru pada tahun 2009 ini, ungkap Tatang, jamur tersebut diproduksi secara industri dalam bentuk kapsul dan serbuk. Rencananya memang akan produksi massal, tapi saat ini masih melalui jalur-jalur prosedural untuk mendapatkan izinnya.
Tatang sendiri belum memastikan apakah kelak produk jamur tersebut akan dijual secara komersil kepada masyarakat atau tidak. (ema/ern)










































