Hal ini mengemuka dalam diskusi mengenai "Rencana tata ruang kota menuju Bandung Bermartabat" yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi profesi, yaitu Alumni Planologi ITB, Ikatan Arsitektur Indonesia Jabar, dan IALI di kantor detikbandung, Jalan Lombok 33, Senin (8/9/2008).
Planolog ITB Nia Pontoh menyatakan yang berperan penting terhadap penataan ruang dan wilayah sebuah kota terletak adalah pemimpinnya. "Jika niatnya pemimpin ingin membangun sebuah kota yang nyaman bagi warganya dengan ruang terbuka hijau yang banyak, maka semua kebijakannya akan mengacu pada komitmen awal. Kalau memang komersil yang dikejar, ya kebijakannya hanya akan menitikberatkan pada komersil sebuah kota," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang sama dikatakan oleh Ketua Bandung Creative City Forum, M Ridwan Kamil. Menurutnya kesemrawutan tata ruang di Bandung selama ini karena wali kota Bandung tak memiliki komitmen dan kebijakan yang bagus mengenai tata ruang.
"Selain itu di sini pun tak ada transparansi rencana pembangunan. Misal di daerah Buahbatu, kita tidak tahu kenapa apartemen dibangun di sana. Begitu pula Baksil, kita tidak tahu apa rencana pemerintah di sana," tandasnya.
Kadistarcip Juniarso Ridwan pun mengaku sepakat jika keberhasilan tata ruang berdasarkan pemimpinnya. "Ya saya setuju jika pemimpin memang mempunyai peran penting dalam tata ruang," ujarnya. (ern/ern)
