×
Ad

Jerman Kekurangan Tenaga Kerja, Datangkan dari India

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 25 Mar 2026 17:39 WIB
Handirk von Ungern-Sternberg memutuskan untuk mencoba menghubungkan tenaga kerja dari India dengan industri di Jerman. (BBC)
Jakarta -

Industri dan dunia bisnis Jerman terus menghadapi kesulitan akibat kekurangan tenaga kerja terampil, seiring banyaknya staf lanjut usia yang pensiun dan sedikitnya kandidat muda untuk menggantikan mereka. Guna mengatasi masalah tersebut, negara itu semakin banyak merekrut pekerja dari India.

Bagi Handirk von Ungern-Sternberg, semuanya dimulai dengan sebuah email yang masuk ke kotak suratnya pada Februari 2021. Email itu datang dari India.

Inti pesannya adalah: "Kami punya banyak orang muda yang termotivasi dan mencari pelatihan vokasional, dan kami ingin tahu apakah Anda tertarik."

Saat itu, Von Ungern-Sternberg bekerja untuk Lembaga Pengrajin Terampil Freiburg di Jerman barat daya, sebuah kamar dagang yang mewakili para pekerja terampil, mulai dari tukang batu dan tukang kayu, hingga tukang daging dan pembuat rotiserta perusahaan yang mempekerjakan mereka.

Email tersebut datang pada saat yang tepat.

"Banyak pengusaha yang putus asa, tidak bisa menemukan siapa pun untuk bekerja bagi mereka," kata Von Ungern-Sternberg. "Jadi kami memutuskan untuk mencoba."

Von Ungern-Sternberg lantas berupaya menghubungi ketua serikat tukang daging setempat. Tukang daging di seluruh Jerman saat itu menghadapi kesulitan besar. Sektor ini memang sedang mengalami penurunan tajam.

Dari 19.000 usaha kecil keluarga pada 2002, jumlahnya merosot menjadi kurang dari 11.000 pada 2021. Para pengusaha hampir mustahil menemukan anak muda yang mau mengikuti program magang.

"Perdagangan daging itu pekerjaan berat," kata Ketua Serikat Tukang Daging Jerman, Joachim Lederer. "Dan selama sekitar 25 tahun terakhir, anak-anak muda memilih jalur lain," ujarnya.

Di India, di Magic Billionagen tenaga kerja yang mengirim email pertama itu berhasil merekrut 13 anak muda ke Jerman pada musim gugur 2022 untuk memulai magang sebagai tukang daging di kota-kota kecil di sepanjang perbatasan dengan Swiss. Mereka juga menghabiskan sebagian waktu di perguruan tinggi.

Di antara mereka adalah Anakha Miriam Shaji, 21 tahun. Seperti banyak rekannya, ini adalah pertama kalinya ia meninggalkan India.

Dia masih ingat rasa antusiasnya. "Saya ingin melihat dunia," katanya. "Saya ingin meningkatkan standar hidup saya. Saya ingin jaminan sosial yang baik."

Anakha datang untuk bekerja dengan Lederer di Kota Weil am Rhein, di ujung barat daya Jerman, yang berbatasan dengan Swiss dan Prancis.

Tiga tahun kemudian banyak hal telah berubah. Von Ungern-Sternberg tidak lagi bekerja di kamar dagang.

Sebagai gantinya, ia mendirikan agen tenaga kerja sendiri, India Works, bermitra dengan Aditi Banerjee dari Magic Billion, untuk membantu membawa lebih banyak pekerja muda India ke Jerman.

Dari 13 orang pertama itu, kini ada 200 anak muda India yang bekerja di toko-toko daging Jerman.

Baca juga:

Jerman sedang mengalami krisis demografi. Menurut sebuah studi pada 2024, ekonomi negara itu perlu menarik 288.000 pekerja asing per tahun. Jika tidak, tenaga kerja bisa menyusut hingga 10% pada 2040, demikian laporan lembaga kajian Bertelsmann Foundation.

Ketika generasi baby boomer memasuki masa pensiun, tidak cukup banyak anak muda Jerman untuk menggantikan mereka, akibat rendahnya angka kelahiran. Namun, India memiliki banyak anak muda.

"India adalah negara dengan 600 juta orang berusia di bawah 25 tahun," kata Banerjee. "Hanya 12 juta orang yang masuk ke angkatan kerja setiap tahun. Jadi ada surplus tenaga kerja yang sangat besar."

India Works sedang mempersiapkan untuk membawa 775 anak muda India ke Jerman tahun ini untuk memulai program magang. Bidang profesi yang akan mereka masuki sangat beragam. Misalnya, saat ini ada pembangun jalan, mekanik, tukang batu, dan pembuat roti.

Sejak kedua negara menandatangani Migration and Mobility Partnership Agreement pada 2022, pekerja terampil India lebih mudah bekerja di Jerman. Kemudian pada akhir 2024, Jerman mengumumkan akan meningkatkan kuota visa kerja terampil bagi warga India dari 20.000 orang per tahun menjadi 90.000 orang setiap tahun.

Data resmi Jerman menunjukkan bahwa pada 2024 terdapat 136.670 pekerja India di negara itu, naik dari 23.320 orang pada 2015.

Aditi Banerjee berkata India punya tenaga kerja muda, sedangkan Jerman punya lapangan pekerjaan. (BBC)

Kaum muda India yang mendapatkan pekerjaan di Jerman melalui India Works memberikan penjelasan serupa mengenai keputusan mereka mencoba peruntungan di negara baru: kesulitan mencari pekerjaan di India, gaji yang lebih tinggi di Eropa, serta ambisi untuk menata kehidupan sendiri.

Salah satunya adalah Ishu Gariya, 20 tahun, yang setelah menyelesaikan sekolah menengah di India sempat mempertimbangkan kuliah dan bekerja di bidang komputer.

"Tapi saya tidak ingin membuang uang untuk gelar ini lalu bekerja di perusahaan dengan gaji rendah," katanya.

Akhirnya ia meninggalkan pinggiran Kota Delhi untuk sebuah desa di kawasan Black Forest, Jerman, tempat ia magang menjadi pembuat roti.

Sif kerjanya baru selesai pukul tiga pagi dan ia mengenakan jaket tebal untuk menahan dingin musim dingin. Namun ia merasa bahagia.

Ishu Gariya bekerja sebagai tukang roti di Jerman. (BBC)

"Kami mendapat gaji tinggi di sini," katanya. "Jadi saya bisa membantu keluarga saya [di kampung halaman] secara finansial."

Ia juga mengatakan bahwa ia menyukai udara bersih di pedesaan Jerman.

Ajay Kumar Chandapaka, 25 tahun, datang dari Hyderabad untuk bergabung dengan Spedition Dold, sebuah perusahaan angkutan yang berbasis di sebuah desa di luar kota Freiburg. Ia memiliki gelar sarjana teknik mesin.

"Sulit sekali bagi saya untuk mendapatkan pekerjaan di India," katanya. "Jadi saya pikir Ausbildung akan menjadi peran yang lebih baik bagi saya."

Ausbildung adalah istilah Jerman untuk pelatihan atau magang.

BBCAjay Kumar Chandapaka kini menjadi pengendara truk kontainer di Jerman.

Lederer, yang mengambil dua orang dari kelompok pertama, kini memiliki tujuh anak muda India yang bekerja untuknya. Dia mengatakan bahwa para pekerja baru ini telah menyelamatkan usahanya.

"Ketika saya memulai 35 tahun lalu, ada delapan toko seperti milik saya dalam radius 10 km," katanya. "Sekarang hanya saya yang tersisa. Saya tidak akan bisa bertahan dalam bisnis hari ini tanpa India."

Di jalan yang sama, di Balai Kota Weil am Rhein, Wali Kota Diana Stcker dari partai konservatif Christian Democratic Union of Germany juga bersiap merekrut pekerja dari India.

Pemerintah kota telah mengidentifikasi dua pemuda yang akan datang ke Jerman akhir tahun ini untuk bekerja sebagai guru taman kanak-kanak.

"Kami sudah mencari guru di seluruh Jerman," katanya. "Tapi mereka benar-benar sulit ditemukan."

Pernah menjadi anggota Bundestag Jerman, Stcker terpilih sebagai wali kota pada 2024.

Ia mengakui kesulitan Jerman dalam menemukan talenta muda di berbagai bidang dan mengatakan hanya ada satu solusi.

"Kita harus mencari ke luar negeri. Itu satu-satunya kemungkinan."

Tonton juga video "Wacana PBB Lakukan Efisiensi Anggaran-Tenaga Kerja di 2026"




(ita/ita)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork