Militer Israel mengumumkan akan memperluas serangan darat dan udara terhadap kelompok milisi Hizbullah di Lebanon. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Israel mungkin sedang merencanakan invasi besar-besaran.
Israel meningkatkan operasi terhadap kelompok bersenjata dan partai politik Hizbullah setelah organisasi ini menembakkan roket ke Israel awal Maret lalu, menyusul serangan AS-Israel terhadap Iran.
Pada Minggu (22/03), serangan udara Israel merusak Jembatan Qasmiyeh, jalur penting yang menghubungkan Lebanon selatan dengan Lebanon tengah, dekat Kota Tyre.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan udara Israel di Jembatan Qasmiyeh di Lebanon selatan pada 22 Maret 2026. (Getty Images)
"Pihak berwenang Israel mengatakan bahwa kelompok tersebut [Hizbullah] menggunakan jembatan-jembatan itu untuk mengirim bala bantuan ke selatan Lebanon," kata koresponden BBC di Timur Tengah, Hugo Bachega.
"Namun kenyataannya, itu adalah jembatan-jembatan sipil, infrastruktur penting milik negara yang digunakan oleh penduduk sipil.
"Kekhawatiran di Lebanon adalah bahwa ini bisa menjadi bagian dari strategi Israel untuk memutus Lebanon selatan dari bagian negara lainnya, menjelang potensi invasi darat skala besar," kata Hugo.
BBC
Banyak warga Lebanon khawatir Israel berusaha menciptakan zona penyangga di selatan negara itu, mirip dengan yang terjadi pada 1980-an dan 1990-an.
Lebih dari satu juta orang telah mengungsi sejak operasi pengeboman Israel dimulai. Ada kekhawatiran bahwa "banyak keluarga yang telah dipaksa meninggalkan rumah mereka tidak akan pernah bisa kembali".
Ini adalah episode terbaru dalam permusuhan puluhan tahun antara Israel dan Hizbullah, dan ini bukan kali pertama Israel menginvasi Lebanon.
Setidaknya pada enam kesempatan sebelumnya, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di wilayah negara tetangganya itu.
1978: Operasi Litani, dikenal di Lebanon sebagai Invasi Israel Pertama
Pada 14 Maret 1979, Israel melancarkan operasi untuk mendorong anggota Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang berbasis di Lebanon menjauh dari perbatasan.
Operasi ditempuh setelah PLO menggelar serangan gerilya yang menewaskan sedikitnya 30 warga sipil di Israel utara.
PLO sepenuhnya berbasis di Lebanon setelah diusir dari Yordania pada 1970.
Israel bergerak maju hingga Sungai Litani, tetapi kesulitan menghadapi pasukan PLO yang mundur.
Getty ImagesPrajurit Israel berpatroli di Lebanon selatan pada 1978.
PLO menyatakan gencatan senjata dua minggu kemudian. Israel lalu menarik pasukan akhir tahun itu tetapi mendukung milisi Kristen, Tentara Lebanon Selatan, untuk menguasai wilayah perbatasan.
Menjelang akhir Operasi Litani pada Juni 1978, lebih dari 1.100 warga Lebanon dan Palestina diyakini telah tewas.
- Israel sudah empat kali menginvasi Lebanon, apa bedanya dengan invasi kali ini?
- Cerita WNI di Lebanon yang menempuh studi di tengah eskalasi konflik Hizbullah dan Israel
Pasukan penjaga perdamaian dari Pasukan Interim PBB di Libanon (Unifil) yang baru dibentuk dikerahkan di sepanjang perbatasan de facto (dikenal sebagai Garis Biru).
Sejak 1978, lebih dari 300 tentara dari berbagai negara tewas dalam tugas. Misi ini kemudian dikenal sebagai misi penjaga perdamaian PBB paling berbahaya.
1982: Operasi Perdamaian untuk Galilea (Invasi Israel Kedua)

Israel menginvasi Lebanon pada 1982 untuk menghancurkan ribuan anggota PLO. (AFP)
Operasi Litani tidak mengakhiri bentrokan PLO-Israel di perbatasan.
Setelah Duta Besar Israel ditembak dan terluka oleh organisasi Palestina di London pada 3 Juni 1982, pasukan Israel di bawah Menteri Pertahanan Ariel Sharon melancarkan operasi jauh lebih besar dengan melibatkan ribuan prajurit dan ratusan kendaraan.
Serangan dimulai pada 6 Juni 1982. Kala itu pasukan Israel mencapai pinggiran ibu kota hanya dalam hitungan hari. Dari sana, mereka membombardir Beirut Barat yang berpenduduk mayoritas Muslim.
Setelah pengepungan lebih dari dua bulan, ribuan petempur Palestina dievakuasi melalui laut.
Pasukan Israel juga bertempur dengan tentara Suriah di timur dan menghancurkan puluhan pesawat mereka dalam salah satu pertempuran jet terbesar dalam sejarah.
BBC
Pemerintah Lebanon memperkirakan bahwa pertempuran menewaskan sekitar 19.000 warga sipil dan personel bersenjata Lebanon, Palestina, dan Suriah, meskipun angka ini diperdebatkan.
Israel mengatakan 376 tentaranya tewas antara Juni dan September 1982.
Namun itu bukan akhir kekerasan.
- Siapa Hizbullah dan apakah mereka akan berperang dengan Israel?
- Enam operasi kontroversial Mossad Pengejaran anggota Nazi hingga penyelundupan Yahudi Etiopia
Setelah presiden terpilih Lebanon dari kelompok Kristen tewas akibat bom mobil pada 14 September 1982, pasukan Israel mengizinkan milisi Kristen memasuki kamp pengungsi Palestina Sabra dan Shatila. Di kedua lokasi itu, mereka membantai banyak warga sipilperkiraan berkisar antara 700 hingga 3.500 orang.
Pasukan Israel mundur dari Lebanon tengah setahun berikutnya, lalu menarik diri ke "zona keamanan" sekitar 19 kilometer dari perbatasan pada 1985. Namun, pasukan Israel tidak sepenuhnya keluar hingga 18 tahun kemudian.
Hizbullah kemudian dibentuk untuk melawan pasukan asing ini di Lebanon. Kelompok tersebut dipersenjatai dan didanai Iran.

Hizbullah muncul dari milisi Syiah yang dibentuk Iran untuk melawan Israel setelah invasi 1982. Kelompok tersebut dianggap sebagai organisasi teroris oleh Israel dan banyak negara lain, termasuk UK dan AS. (Getty Images)
1993: Operasi Akuntabilitas (Perang Tujuh Hari)
Puluhan target Hizbullah dibombardir selama seminggu mulai 25 Juli 1993.
Israel mengatakan serangan ini sebagai respons terhadap serangan roket terhadap posisi mereka di Lebanon dan Israel utara. Israel juga mengatakan operasi ini bertujuan "menghentikan [Hizbullah] menjadikan Lebanon selatan sebagai basis teror".
Hizbullah menyatakan roket mereka ditembakkan sebagai respons terhadap serangan helikopter Israel sebelumnya.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melepaskan ribuan tembakan artileri dan mengklaim telah menewaskan 50 kombatan Hizbullah. PBB memperkirakan 130 warga sipil tewas dan 300.000 lainnya mengungsi.
IDF mengatakan dua warga sipil Israel dan satu tentara tewas.
1996: Operasi Grapes of Wrath (Agresi April)

Konflik 1996 memaksa banyak penduduk mengungsi dari zona konflik di kedua sisi perbatasan (Getty Images)
Operasi IDF berikutnya di Lebanon mengikuti pola serupa tetapi berlangsung dua kali lebih lama.
Gempuran dimulai pada April setelah roket ditembakkan ke Israel, dan sekali lagi Israel membalas dengan ribuan tembakan artileri, yang menurut PBB menewaskan lebih dari 200 orang, sebagian besar warga sipil.
Lebih dari 100 orang tewas ketika IDF menyerang posisi PBB di Qana, tempat para warga sipil mencari perlindungan.
IDF mengatakan taktik mereka adalah menyerang desa-desa Syiah di Lebanon selatan "dengan tujuan membuat warga bergerak ke utara menuju Beirut, sehingga menekan pemerintah Suriah dan Lebanon untuk mengambil tindakan nyata melawan Hizbillah".
Hizbullah menembakkan ratusan roket ke Israel, melukai sekitar 55 warga sipil menurut PBB.
Ratusan ribu warga Lebanon dan puluhan ribu warga Israel mengungsi. Gencatan senjata tercapai pada 27 April.
2006: Perang Lebanon Kedua
BBC
Menyusul penangkapan dua tentara Israel oleh Hizbullah pada 12 Juli 2006, pasukan Israel menyerang Lebanon selatan dan Beirut melalui udara, darat, dan laut selama lebih dari sebulan.
Serangan menargetkan posisi Hizbullah dan infrastruktur sipil, termasuk bandara internasional Beirut.
Invasi darat tidak maju sejauh upaya sebelumnya, dan Hizbullah menganggap perang ini sebagai kemenangan.
Gencatan senjata yang ditengahi PBB berlaku pada 14 Agustus.
Di bawah resolusi PBB, hanya penjaga perdamaian Unifil dan tentara Lebanon yang boleh ditempatkan di selatan Sungai Litani, tetapi ini tidak pernah ditegakkan.
Lebih dari 1.125 warga Lebanon, sebagian besar warga sipil, tewas dalam konflik 34 hari tersebut, serta 119 tentara Israel dan 45 warga sipil.
2023: Serangan lintas-perbatasan
Hizbullah menembakkan roket ke posisi Israel di wilayah perbatasan sengketa untuk mendukung warga Palestina di Gaza sehari setelah serangan Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023.
Pada 9 Oktober 2023, Hizbullah mulai menargetkan Israel utara.

Israel mengatakan Hizbullah menembakkan ribuan roket ke Israel utara dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel setelah serangan 7 Oktober 2023. (Getty Images)
Aksi saling balas terus berlanjut hingga 17 September 2024, ketika pertikaian meningkat setelah alat pager Hizbullah yang disabotase Israel meledak dan sehari kemudian, walkie-talkie juga meledak, menewaskan 39 orang dan melukai ribuan lainnya.
- Cerita WNI di Lebanon: Ledakan pager, walkie-talkie dan deklarasi perang 'lebih mengerikan dibanding serangan udara'
- Pager meledak tewaskan 12 orang dan lukai ribuan lainnya, Hizbullah salahkan Israel Bagaimana bisa meledak?
- Bagaimana ledakan pager di Lebanon mengubah dinamika di Timur Tengah?
Seminggu kemudian Operasi Northern Arrows dimulai. Saat itu, Israel melancarkan gempuran udara secara intensif terhadap Hizbullah. Lalu pada Oktober, tentara Israel melakukan invasi darat dengan tujuan memastikan kembalinya 60.000 warga Israel utara yang mengungsi akibat serangan roket.
Duta besar Israel untuk PBB mengatakan pada September 2024 bahwa Hizbullah telah menembakkan lebih dari 8.000 roket ke Israel utara dan Dataran Tinggi Golan sejak serangan 7 Oktober 2023.
Perang tersebut menewaskan 4.000 warga Lebanon dan 120 warga Israel, serta melemahkan Hezbollah secara signifikan.
Di bawah gencatan senjata yang ditengahi AS dan Prancis, Hizbullah setuju menarik pasukan bersenjata di selatan sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel. Israel juga setuju menarik pasukannya dari area tersebut.
Sejak gencatan senjata, kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.
Israel menuduh Hizbullah berusaha memulihkan kemampuan militernya, termasuk di selatan.
IDF juga melakukan serangan hampir setiap hari terhadap target yang mereka klaim terkait Hizbullah, dan pasukan Israel tetap menempati sedikitnya lima posisi di Lebanon selatan.
- Siapa Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah yang tewas dalam serangan Israel di Beirut?
- Apa yang perlu diketahui tentang serangan Israel terhadap poros perlawanan Hizbullah, Houthi, dan Hamas yang disokong Iran
- Siapa Hizbullah dan apakah mereka akan berperang dengan Israel?











































