Varian Baru COVID XBB.1.5 Menyebar Cepat, Sudah Ada di Indonesia?

ADVERTISEMENT

Varian Baru COVID XBB.1.5 Menyebar Cepat, Sudah Ada di Indonesia?

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 06 Jan 2023 16:05 WIB
Getty Images
Jakarta -

Sub-varian Covid baru menimbulkan kekhawatiran di Amerika Serikat karena menyebar dengan cepat. Beberapa kasus juga telah dicatat di Inggris.

Sub-varian ini belum ditemukan di Indonesia. Namun, epidemiolog WHO telah mengatakan sub-varian baru ini adalah yang paling mudah menular dibandingkan sub-varian lainnya yang sudah dideteksi sejauh ini, dan telah ditemukan di 28 negara di seluruh dunia.

Jadi, apa yang perlu Anda ketahui tentang XBB.1.5?

Apa itu XBB.1.5 dan apa saja gejalanya?

Ini adalah cabang dari varian Covid Omicron yang mendominasi secara global dan muncul setelah varian Alfa, Beta, Gamma, serta Delta.

Omicron telah 'mengungguli' semua varian virus Corona sebelumnya, sejak muncul pada akhir 2021. Bahkan setelah kemunculannya, sudah banyak sub-varian yang bahkan lebih menular daripada varian aslinya.

Gejala XBB.1.5 dianggap mirip dengan galur Omicron sebelumnya, tetapi masih terlalu dini untuk memastikannya. Kebanyakan orang mengalami gejala seperti pilek.

Baca juga:

Apakah XBB.1.5 lebih menular atau berbahaya dibandingkan varian sebelumnya?

XBB.1.5 merupakan revolusi dari XBB dan pertama kali diidentifikasi di India pada Agustus 2022, tetapi belum diklasifikasikan sebagai "Variant of Concern (VOC)" oleh otoritas kesehatan.

Mutasi XBB mampu mengalahkan pertahanan kekebalan tubuh, tetapi kualitas yang sama ini juga mengurangi kemampuannya untuk menginfeksi sel manusia.

Profesor Wendy Barclay dari Imperial College London mengatakan XBB.1.5 memiliki mutasi yang dikenal sebagai F486P, yang mampu mengikat sel sambil terus menghindari kekebalan. Itu membuatnya lebih mudah menyebar.

Dia mengatakan perubahan evolusioner ini seperti "batu loncatan", karena virus berevolusi untuk menemukan cara baru melewati mekanisme pertahanan tubuh.

Pada Rabu (04/01), Ilmuwan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi XBB.1.5 memiliki "keunggulan dalam pertumbuhan", dibandingkan dengan semua sub-varian lain yang diketahui sejauh ini.

Namun, mereka mengatakan tidak ada indikasi pertumbuhan itu lebih serius atau berbahaya dari varian Omicron sebelumnya.

Baca juga:

WHO mengatakan akan terus mencermati studi laboratorium, data rumah sakit, dan tingkat infeksi untuk mengetahui lebih lanjut tentang dampaknya terhadap pasien.

Di mana XBB.1.5 menyebar? Apakah sudah ada di Indonesia?

Lebih dari 40% kasus Covid di Amerika Serikat diperkirakan disebabkan oleh XBB.1.5. Hal itu menjadikannya sebagai sub-varian dominan di negara tersebut.

Pada awal Desember, XBB.1.5. hanya menyumbang 4% kasus, tetapi dengan tingkat infeksi yang ada sekarang, sub-varian ini menyalip Omicron versi lainnya.

Tingkat rawat inap di rumah sakit Covid juga telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir di seluruh AS.

Sementara itu di Indonesia belum ditemukan sub-varian XBB.1.5. Varian yang mendominasi di Indonesia saat ini adalah XBB dan BA.5, kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Siti Nadia Tarmizi.

"Masih terus dilakukan surveilans genomik dan juga kasus, dilakukan terus menerus," kata Nadia kepada BBC News Indonesia.

Meskipun lonjakan kasus Covid terjadi di sejumlah negara, sebagiannya didorong oleh kemunculan sub-varian baru, Indonesia sudah tidak lagi mensyaratkan hasil tes Covid bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).

Juru bicara Kementerian Kesehatan, dr. Mohammad Syahril, pada bulan Desember lalu mengatakan penemuan varian-varian virus corona baru di Indonesia tidak memunculkan gelombang infeksi baru.

"Omicron BA.2.75 dan BF.7 itu sudah ada di Indonesia. Tapi, baik-baik saja. Artinya, tidak terjadi lonjakan yang signifikan. Kedua, tidak menyebabkan hospitalisasi maupun kematian," ujar Syahril dalam acara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Selain itu sero survei yang dilakukan Kemenkes bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia pada Juli 2022 menunjukkan bahwa 98,5% warga Indonesia sudah mempunyai antibodi antibodi SARS-CoV-2 - baik dari infeksi maupun vaksinasi, imbuhnya.

WHO mengatakan dalam rilis pers bahwa kemampuan sub-varian XBB mendorong gelombang infeksi baru tampaknya tergantung pada imunitas populasi, serta cakupan vaksinasi Covid-19.

An at-home Covid test

Kasus Covid, rawat inap, dan kematian telah meningkat di AS dalam beberapa minggu terakhir. (Getty Images)

Apakah para ilmuwan mengkhawatirkan XBB.1.5?

Profesor Barclay mengatakan dia tidak terlalu peduli dengan dampak virus tersebut pada populasi yang sudah divaksinasi.

Namun, dia mengkhawatirkan efeknya pada orang yang rentan, termasuk orang yang mengalami gangguan kekebalan tubuh, yang kurang mendapat manfaat dari suntikan vaksin Covid.

Profesor Hunter mengatakan dia tidak melihat bukti bahwa XBB.1.5 lebih ganas. Itu berarti kemungkinan virus tersebut membuat "Anda masuk ke rumah sakit atau membunuh Anda" lebih kecil dibandingkan varian Omicron yang ada.

Dia menambahkan: "Sungguh ironis setiap orang berfokus pada varian yang kemungkinan muncul dari China, tetapi XBB.1.5 muncul di AS."

Profesor David Heymann dari London School of Hygiene and Tropical Medicine mengakui bahwa masih banyak yang harus dipelajari tentang varian terbaru ini.

Namun, dia mengatakan hal itu tidak mungkin menimbulkan masalah besar di negara-negara yang memiliki tingkat vaksinasi dan infeksi yang tinggi sebelumnya.

Dia justru khawatir dengan negara-negara seperti China, di mana penggunaan vaksin rendah dan kekebalan alami kecil karena lockdown yang lama.

"China perlu berbagi informasi klinis tentang orang yang terinfeksi untuk melihat bagaimana varian berperilaku pada populasi yang tidak kebal," kata Profesor Heymann.

Simak juga video 'WHO Tak Terima Data Covid-19, Ini Kata China!':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT