Taliban Larang Perempuan Afghanistan Plesiran di Taman Bermain Kabul

ADVERTISEMENT

Taliban Larang Perempuan Afghanistan Plesiran di Taman Bermain Kabul

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 30 Nov 2022 11:16 WIB
Jakarta -

Jerit kegembiraan membahana ketika sejumlah anak menikmati sensasi bianglala, mobil mainan, dan rollercoaster kecil di sebuah taman bermain di pusat Kota Kabul.

Ayah-ayah mereka duduk bersama di wahana tersebut, sekadar mengawasi, dan ada pula yang mengambil foto - momen kebahagiaan yang langka di Afghanistan di tengah pemberitaan yang seringkali begitu suram.

Namun di balik kegembiraan itu terselip kesuraman. Kaum ibu tidak bisa berbagi kebahagiaan dan kenangan dengan anak-anak mereka di taman bermain tersebut setelah Taliban memutuskan untuk melarang para perempuan berkunjung ke taman-taman di Kabul.

Saat kami berkunjung, puluhan pria bersama anak-anak mereka sedang menikmati wahana-wahana permainan tersebut.

Perempuan yang paling dekat dengan taman ini, termasuk kami, hanya bisa memandang dari kejauhan dari sebuah restoran. Kaum hawa baru-baru ini juga dilarang masuk ke kolam renang dan pusat kebugaran di kota.

Aturan ini sepertinya akan diterapkan ke seluruh wilayah Afghanistan.

Baca juga:

Afghan men on a ride at an amusement park in Kabul

Pria masih diizinkan untuk menikmati wahana permainan di taman-taman. (BBC)

Ketika Taliban makin membatasi apa yang bisa dibatasi, remaja putri dan perempuan dewasa makin takut apa yang akan terjadi ke depannya.

Beberapa orang mengatakan langkah ini tidak akan berpengaruh ke sebagian besar wilayah negara. Tapi bagi sebagian besar orang saat ini, keluar malam adalah hal mewah yang tak mampu dibeli.

Bagi banyak gadis Afghanistan, ini bukan tentang skala dampaknya, tapi simbol dari langkah tersebut - dan apa yang terungkap dari niat Taliban sejak menguasai Afghanistan pada Agustus 2021.

"Tiap hari, sebagai perempuan di Afghanistan, kami terbangun dengan kebijakan-kebijakan pembatasan yang baru. Kami hanya duduk dan menunggu kebijakan-kebijakan selanjutnya," kata seorang pelajar perempuan. Namanya tidak disebutkan dengan alasan keselamatan.

"Saya beruntung bisa menyelesaikan sekolah menengah sebelum Taliban berkuasa. Tapi saya takut sekarang, soalnya ada kemungkinan universitas akan ditutup sepenuhnya untuk perempuan. Mimpi saya akan berakhir."

Dia baru-baru ini mengikuti ujian masuk universitas dan kecewa bahwa jurusan yang akan ia ambil - jurnalisme - tidak lagi tersedia untuk perempuan. Ini merupakan kebijakan pembatasan lain untuk perempuan yang diterapkan Taliban.

"Saya tak bisa menggambarkan betapa sulitnya ini. Kadang saya ingin berteriak keras," katanya, rasa frustrasi terdengar jelas dari suaranya. "Saya tak punya harapan."

Baca juga:

Afghan people visit an amusement park in Kabul on March 28, 2022.

Di musim semi, perempuan masih bisa mengunjungi taman-taman di ibu kota. (AFP)

Ketia ruang publik makin membatasi perempuan Afghanistan, beberapa dari mereka berusaha mencari cara untuk melawan tindakan sewenang-wenang Taliban.

Aktivis Laila Basim adalah salah satu pendiri perpustakaan untuk perempuan. Perpustakaan ini memiliki ribuan buku dengan ragam bahasa dan kajian yang bermacam-macam.

"Dengan ini, kami ingin menunjukkan kepada Taliban, bahwa perempuan Afghanistan tidak akan tinggal diam, dan tujuan kedua kami adalah untuk mengembangkan budaya membaca di kalangan perempuan, khususnya perempuan yang tidak mendapat pendidikan," katanya.

Dia bertekad menentang dominasi pria yang memerintahkan negaranya, dan telah terlibat dalam banyak protes sejak tahun kemarin.

"Kami tak takut mati atau menciut dari ancaman Taliban terhadap keluarga kami. Apa yang kami takutkan adalah [perempuan] tersingkir dari lingkungan masyarakat," katanya.

Dia melihat terjadi peningkatan pembatasan terhadap perempuan sebagai hal yang mengkhawatirkan dan menyedihkan.

"Ini membuat saya kesal, untuk memikirkan semua kemerdekaan yang telah direnggut. Orang-orang dari negara lain sudah mengeksplorasi planet Mars, dan kami di sini masih bergelut dengan hak-hak dasar," katanya.

Laila Basim

Laila Basim mengatakan akan bertekad melawan Taliban meskipun akan menghadapi ancaman. (BBC)

Beberapa pekan lalu, aktivis HAM perempuan Zarifa Yaghoubi dan tiga lainnya ditahan. Meskipun terdapat banyak seruan supaya mereka dibebaskan, termasuk dari PBB dan lainnya, tapi tidak ada tanggapan dari Taliban.

Pekan lalu, 12 orang termasuk tiga perempuan dicambuk di depan ribuan orang di sebuah stadion sepak bola di Afghanistan.

Dari langkah-langkah yang diambil Taliban ini, tampaknya kelompok garis keras ini ingin mengembalikan rezim mereka seperti di tahun 1990an.

"Kebijakan-kebijakan terbaru Taliban sama seperti 20 tahun lalu. Kami berupaya untuk memberitahu mereka bahwa aturan itu sudah tidak layak digunakan di abad ke-21," kata Laila Basim.

Jarak terdekat dari perpustakaan yang didirikan oleh Laila adalah kantor polisi moral Taliban, bagian dari kementerian kebajikan dan keburukan - wilayah terlarang lainnya bagi perempuan.

"Kami telah menempatkan sebuah boks di pintu gerbang. Para perempuan bisa menyampaikan keluhan melalui boks tersebut. Direktur kami akan pergi ke gerbang dan menemui perempuan itu sebagai tanda hormat," kata salah satu juru bicara kementerian moralitas, Akif Muhajer.

Dia membela keputusan larangan perempuan berada di taman, dengan mengatakan hukum Syariah Islam memang tidak mengizinkan keberadaan perempuan di taman.

"Selama 15 bulan kami memberikan kesempatan kepada saudari kami untuk menikmati jalan-jalan di taman. Kami sudah menyuruh mereka untuk mengikuti praktik menggunakan jilbab, tapi sebagian mengabaikannya. Kami memisahkan hari bagi pria dan perempuan untuk pergi ke taman, tapi itu tidak diindahkan," katanya.

Ketika ditanya kenapa mereka menekan orang-orang yang memprotes hak-hak perempuan, Mohammad Akif Muhajer mengatakan: "Di setiap negara, siapa pun yang menyuarakan perlawanan pada pemerintah akan ditangkap. Di sejumlah negara, mereka bahkan dibunuh.

"Kami belum melakukan itu. Tapi tentu saja, kalau seseorang bertekad menentang kepentingan nasional, mereka akan dibungkam."

Mohammad Akif Muhajer, spokesman for the Taliban's Vice and Virtue Ministry

Juru bicara menteri moralitas Taliban membela pembatasan untuk perempuan, mengatakan bahwa hal itu dibenarkan oleh hukum Islam. (BBC)

Kata-kata dan tindakan dari kementerian ini menyangkal sikap keras Taliban terhadap perempuan, dan siapa pun yang kritis terhadap kebijakan mereka. Hal ini bertolak belakang dengan citra moderat yang pernah diungkapkan pihak Taliban pada awal-awal berkuasa tahun lalu.

"Suatu saat kami mungkin akan diberitahu bahwa perempuan sudah tidak boleh keluar rumah lagi," kata seorang pelajar perempuan. "Segalanya bisa terjadi di Afghanistan."

Kekecewaan terhadap komunitas internasional juga terlihat di kalangan perempuan Afghanistan.

"Dunia telah membelakangi kami," kata Laila Basim. "Orang-orang berpengaruh di seluruh dunia sekarang mendukung perempuan Iran, tapi bukan perempuan Afghanistan.

"Apa yang terjadi pada kami bahkan tidak lagi menjadi halaman muka pemberitaan. Kami merasa hancur dan terlupakan."

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT