ADVERTISEMENT

Warga Rusia Hindari Mobilisasi ke Ukraina: Saya Akan Patahkan Kaki-Tangan

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 24 Sep 2022 08:30 WIB
Sejumlah pengunjuk rasa menentang yang turun ke jalan pada hari Rabu (21/09) diberikan surat panggilan tentara cadangan untuk bertempur. (Getty Images)
Moskow -

Bagi kebanyakan lelaki Rusia, keputusan Kremlin memanggil 300.000 tentara cadangan untuk berperang di Ukraina adalah sesuatu yang mengejutkan.

Bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar, perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan dengan negara tetangga Rusia itu tampak begitu jauh. Tapi begitu Presiden Vladimir Putin berpidato, perintah itu jadi sangat nyata. Sebab mereka akan dikirim ke medan pertempuran -- suatu hal yang tak pernah terbayangkan oleh siapa pun.

Percakapan soal pengiriman tentara cadangan itu langsung meledak disertai kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Pelbagai rencana dibuat demi menghindari pengiriman ke garis terdepan.

"Ini seperti film fiksi ilmiah dari tahun 1980-an. Agak menakutkan, sejujurnya," kata Dmitry yang bekerja di sebuah kantor di St Petersburg. Beberapa pekerja di kantor itu juga tidak bisa meneruskan pekerjaan mereka karena terpaku pada pidato Putin di layar televisi, komputer, dan ponsel.

Dmitry memilih pamit dari kantor setelah makan siang dan pergi menukar mata uang Rubel dengan mata uang dolar Amerika Serikat di bank terdekat.

Pria 28 tahun ini sebelumnya pindah rumah setelah dikunjungi polisi, karena ikut terlibat dalam aksi demonstrasi anti-perang. Dia meyakini keputusan pindah itu akan membuat pihak berwenang kesulitan untuk menemukannya.

"Saya tidak yakin apa yang harus dilakukan selanjutnya: terbang dengan pesawat berikutnya ke luar negeri atau tinggal di Rusia sedikit lebih lama tapi dikejar oleh polisi."

Sergei --bukan nama sebenarnya-- sudah mendapat panggilan untuk menjadi tentara cadangan.

Mahasiswa PhD berusia 26 tahun dan dosen di sebuah universitas terkemuka di Rusia ini tadinya menunggu kiriman bahan makanan di malam sebelum Putin berpidato, ketika tiba-tiba bel pintu berbunyi. Namun sebaliknya, dia dihadapkan pada dua pria berpakaian sipil sambil menyorongkan surat-surat militer dan memintanya untuk tandatangan.

BBC memiliki salinan dokumen itu. Di situ tertera, Sergei diminta menghadiri pusat perekrutan tentara cadangan pada Kamis (22/09).

Sergey, seorang mahasiswa PhD tanpa pengalaman tempur, diberikan dokumen militer.

Sergey, seorang mahasiswa PhD tanpa pengalaman tempur, diberikan dokumen militer. (BBC)

Kremlin mengatakan hanya orang-orang yang telah melaksanakan dinas militer, memiliki keterampilan khusus, dan pengalaman tempur yang akan dipanggil sebagai tentara cadangan. Akan tetapi Sergei tidak memiliki pengalaman militer. Ayah tirinya khawatir, sebab mangkir dari panggilan mobilisasi ini dikategorikan sebagai tindak pidana di Rusia.

Ayah tirinya bekerja di sebuah perusahaan minyak milik negara dan beberapa jam kemudian diminta untuk membuat daftar karyawan yang dikecualikan dari dari dinas militer.

Dalih gangguan mental, kecanduan narkotika

Banyak lelaki Rusia kemudian mencari cara untuk menghindari panggilan menjadi tentara cadangan.

Di Moskow, Vyacheslav mengatakan dia dan teman-temannya mulai mencari kenalan di bidang medis untuk membantu mereka.

"Kesehatan mental atau pengobatan untuk kecanduan narkotika tampaknya pilihan yang pas, karena murah dan gratis," katanya.

"Jika kami dilempari batu dan ditangkap saat mengemudi, mudah-mudahan SIM kami akan dicabut dan kami harus menjalani perawatan. Kami tidak bisa memastikan tapi mudah-mudahan itu cukup untuk menghindari pengiriman [menjadi tentara]."

Adik iparnya nyaris terhindar dari pemanggilan karena tidak ada di rumah ketika petugas menelepon. Ibunya melihat dokumen yang mengharuskan dia melapor untuk bertugas antara tanggal 19 dan 23 September.

"Dia sekarang mengunci diri di satu ruangan dan menolak keluar," kata Vyacheslav. "Dia punya dua anak kecil berusia tiga dan satu tahun: apa yang harus dia lakukan?"

Seorang pria lainnya dari Kaliningrad mengatakan kepada BBC bahwa dia akan melakukan apa saja untuk menghindari wajib militer: "Saya akan mematahkan lengan saya, kaki, bahkan saya rela masuk penjara. Apapun saya lakukan untuk menghindari itu semua."

Ribuan orang Rusia bergabung dalam protes anti-perang di kota-kota di seluruh Rusia pada Rabu malam (21/09).

Banyak yang mengatakan mereka diberikan surat panggilan di jalan atau di dalam tahanan polisi.

Organisasi hak asasi manusia OVD-Info mencatat ada 10 kantor polisi di Moskow yang memberikan surat kepada pengunjuk rasa. Setidaknya satu orang di Distrik Vernadsky Moskow menolak untuk menandatangani dan diancam dengan tindak pidana.

Seorang perempuan berkata kepada media online independen Mediazoba bahwa suaminya ditahan saat protes anti-perang berlangsung di Arbat, pusat kota Moskow.

Dia lantas dibawa ke kantor polisi, disodori surat panggilan dan diminta menandatanganinya ketika sedang direkam oleh polisi. Dia diberitahu agar datang di pos perekrutan pada hari Kamis.

Baca juga:

Mikhail yang berusia 25 tahun meninggalkan Rusia ke negara tetangga Georgia pada awal perang dan hanya kembali ke kampung halamannya di Ural selama beberapa hari. Dia telah berencana untuk kembali, tapi khawatir dengan ancaman senjata nuklir Presiden Putin.

"Kami dalam keadaan panik. Di kota saya banyak yang sudah menerima surat panggilan, tapi saya tidak terdaftar di sini."

Dia baru-baru ini mendapat pekerjaan yang baik di Tbilisi, namun itu jadi tidak berguna karena eskalasi militer Vladimir Putin meningkat.

"Pada 21 September, dia berhasil membuat kekacauan yang pertama kali dia buat pada 24 Februari [awal invasi]," ucap Mikhail. "Saya sudah tidak peduli lagi, saya hanya mau hidup untuk hari ini."

Eksodus warga Rusia

Antrean panjang telah terjadi di sepanjang perbatasan wilayah Rusia, ketika orang-orang berusaha meninggalkan negara itu demi menghindari panggilan menjadi tentara cadangan di Ukraina.

Kremlin menyebut laporan adanya eksodus itu dan para pria yang melarikan diri dari medan pertempuran terlalu dibesar-besarkan.

Namun di perbatasan Georgia, antrean kendaraan mengular hingga berkilometer telah berlangsung. Termasuk di antaranya orang-orang yang mencoba kabur dari perang.

Seorang pria yang tidak mau disebutkan namanya berkata kepada wartawan BBC Rayhan Demytrie, bahwa dia telah mengambil paspornya dan hendak menuju wilayah perbatasan tanpa bekal apapun. Sebab dia termasuk dalam kelompok yang berpotensi dikirim ke Ukraina.

Beberapa saksi mata memperkirakan antrean mobil di pos pemeriksaan Upper Lars sekitar lima kilometer. Sementara kelompok lain mengatakan butuh tujuh jam untuk melintasi perbatasan.

Video dari lokasi menunjukkan sejumlah pengemudi meninggalkan mobil atau truk mereka untuk sementara di tengah kemacetan lalu lintas.

Georgia adalah salah satu dari sedikit negara tetangga yang bisa dimasuki oleh warga Rusia tanpa perlu mengajukan permohonan visa.

Finlandia, yang berbatasan langsung sepanjang 1.300 kilometer dengan Rusia, juga tidak mengharuskan visa bagi warga Rusia. Negara itu melaporkan peningkatan lalulintas dari Rusia, meskipun masih dalam jumlah yang terkendali.

Destinasi lain yang dapat dijangkau lewat udara seperti Istanbul dan Beogard atau Dubai telah kehabisan tiket seiring melonjaknya harga setelah panggilan tentara cadangan itu diumumkan.

Adapun Menteri Dalam Negeri Jerman memberi isyarat orang Rusia yang melarikan diri dari wajib militer akan diterima di negaranya. Nanct Faeser mengatakan pembelot yang terancam akan dilindungi berdasarkan kasus per kasus.

Simak Video 'Alasan Warga Ramai-ramai Tinggalkan Rusia':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT