ADVERTISEMENT

Siasat Inggris Terungkap: Dalangi Kudeta-Perjanjian Rahasia dengan Iran

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 31 Agu 2022 12:39 WIB
Syekh Saqr dari Sharjah dicopot dari kekuasaannya oleh kudeta yang disokong Inggris. (BBC)
Jakarta -

Perjanjian rahasia yang mengakhiri kekuasaan Kerajaan Inggris di Timur Tengah terungkap dalam film dokumenter terbaru yang dibuat BBC News Arabic dan Persia. Secrets & Deals: How Britain Left the Gulf berisi rincian tentang bagaimana Inggris membiarkan Iran mengambil kendali atas sejumlah pulau yang dipersengketakan, serta laporan saksi mata tentang kudeta yang didalangi Inggris.

Musim dingin 1967-1968 adalah masa krisis bagi ekonomi Inggris. Banyak pemimpin Arab yakin Inggris diam-diam membantu Israel meraih kemenangan atas tetangga-tetangga Arabnya dalam Perang Enam Hari pada Juni 1967. Israel berhasil merebut Yerusalem Timur, Tepi Barat, Gaza, Semenanjung Sinai, dan Dataran Tinggi Golan.

Sebagai pembalasan, negara-negara Teluk yang kaya minyak mulai menjual cadangan mata uang Inggris mereka.

Nilai poundsterling pun jatuh. Terdesak untuk menghemat uang, pemerintahan Partai Buruh yang dipimpin Harold Wilson memutuskan sudah waktunya mengakhiri komitmen pertahanan Kerajaan Inggris di Timur Tengah.

Inggris tidak pernah secara resmi memiliki koloni di Teluk, tetapi telah menjadi kekuatan asing yang terkemuka di sana sejak abad ke-18.

Emirat-emirat Arab yang terdiri dari Bahrain, Qatar, dan negara-negara Trucial (Abu Dhabi, Dubai, dan tetangga mereka yang lebih kecil) menandatangani perjanjian keamanan dengan Inggris.

PetaBBC

Perjanjian tersebut memberi kewenangan kepada Inggris untuk mengendalikan kebijakan pertahanan dan kebijakan luar negeri mereka, sementara para pemimpin lokal lebih banyak mengawasi urusan domestik.

Pada 1965, syekh yang paling progresif secara politik, sosial, dan pendidikan di negara-negara Trucial, Saqr bin Sultan al-Qassemi dari Sharjah, membuat masalah dengan Inggris.

Tindakannya yang menyinggung Inggris ialah mendekati Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, sosok andalan gerakan nasionalis Arab.

Syekh Saqr kemudian digulingkan dalam kudeta yang didalangi Inggris. Dia digantikan oleh sepupunya.

Secara resmi, keluarga yang berkuasa sepakat dia harus dilengserkan.

Cara penggulingan adalah dengan mengundang Syekh Saqr ke Dubai untuk sebuah pertemuan. Padahal, pertemuan itu adalah jebakan karena pasukan militer lokal Inggris, Trucial Oman Scouts, sudah menunggu kedatangannya. Syekh Saqr lantas dikirim ke pengasingan.

Film ini mengungkapkan bagaimana Inggris mengatur kudeta tersebut. Sir Terence Clark (belakangan menjadi duta besar Inggris di Irak) mengatakan kepada BBC untuk pertama kalinya bagaimana kudeta dilakukan:

"Satu detasemen Trucial Oman Scouts kami tiba. Mereka melucuti pengawal Saqr.

"Ketika saya melihat mereka duduk dengan tenang, saya mengatakan kepada Deputi Agen, 'Pesan telah disampaikan'. Ini adalah sinyal.

"Deputi Agen mengatakan kepada Syekh Saqr bahwa keluarga yang berkuasa telah memutuskan untuk mencopotnya.

"Syok, Syekh Saqr berdiri. Dia melihat anak buahnya duduk tanpa senjata. Dia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Dia harus menerima keputusan itu."

'Kami akan merebut pulau-pulau ini'

Begitu Inggris mengumumkan bahwa mereka bermaksud untuk menarik diri dari Teluk pada 1968, muncul ketegangan antara para pemimpin Arab dan Iran.

Perselisihan itu utamanya disebabkan oleh status Bahrain dan tiga pulau kecil namun strategis di dekat Selat Hormuz: Abu Musa, Tunb Besar, dan Tunb Kecil.

Sikap Shah (penguasa) Iran tentang penarikan Inggris itu tegas, menurut catatan rahasia yang menjelaskan pertemuan antara dia dan seorang menteri Inggris.

Shah Iran setuju untuk memberikan kemerdekaan ke semua wilayah yang diperintah negara-negara Arab dan berbatasan dengan Teluk, kecuali wilayah yang disebutnya "pulau itu". "Pulau itu" adalah Bahrain.

Iran secara historis mengklaim Bahrain dan ketiga pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya yang "dicuri" oleh Inggris.

Yang terjadi selanjutnya adalah ledakan diplomasi di belakang layar antara penguasa negara-negara Arab, Inggris, dan Shah Iran.

Inggris diam-diam sepakat untuk menyerahkan tiga pulau yang disengketakan kepada Shah Iran.BBCInggris diam-diam sepakat untuk menyerahkan tiga pulau yang disengketakan kepada Shah Iran.

Seperti yang diingat oleh mantan duta besar Inggris di Teheran dalam rekaman audio yang tidak pernah disiarkan sebelumnya: "London berkata, 'Baiklah, kita akan coba ini, tetapi ini adalah operasi yang sangat rumit karena kami tidak percaya Iran, Iran tidak percaya kami, dan Bahrain tidak percaya kami berdua (Inggris dan Iran).'"

Di depan umum, sikap Shah berubah. Ia melunakkan klaimnya tentang Bahrain dan membiarkan PBB mengambil tanggung jawab atas keputusan bahwa negara tersebut harus menjadi negara merdeka, berdasarkan survei yang diadakan pada 1970.

Pada musim panas 1971, bentuk negara-negara Teluk Arab yang saat ini kita kenal menjadi jelas. Bahrain dan Qatar merdeka sepenuhnya pada bulan Agustus, kemudian sebuah rencana ditetapkan bagi Abu Dhabi, Dubai, Sharjah dan empat emirat lainnya untuk mendirikan federasi baru yang disebut Uni Emirat Arab.

Namun masih ada tiga pulau yang disengketakan. Mereka diklaim oleh Iran tetapi diperintah oleh emirat-emirat yang akan menjadi bagian dari UEA pada Desember 1971.

Sebuah catatan rahasia Kementerian Luar Negeri Iran tertanggal Juni 1970 yang baru ditemukan mencatat Shah mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Inggris, Sir Alec Douglas-Home: "Pulau-pulau ini milik Iran dan harus dikembalikan ke Iran ... Apapun yang terjadi, kami akan mengambil pulau-pulau ini."

Di depan umum, para pejabat Inggris menegaskan bahwa ketiga pulau itu milik Negara-negara Trucial. Namun, kawat rahasia yang telah dibuka dan ditemukan oleh BBC mengungkap bahwa Sir William Luce, seorang administrator dan diplomat kolonial Inggris senior, diam-diam setuju dengan Shah Iran untuk menyerahkan dua dari tiga pulau itu ke Iran sebelum pasukan Inggris mundur pada Desember 1971.

Dokumen yang baru-baru ini dikeluarkan dari daftar dokumen rahasia menunjukkan bahwa meskipun belakangan ada banyak protes dari UEA tentang "pendudukan Iran" atas ketiga pulau pada 30 November 1971, Syekh Zayed dari Abu Dhabi dan Syekh Rashid dari Dubai - presiden dan wakil presiden pendiri UEA - sejatinya sudah diberitahu tentang keputusan Inggris sebelum pasukan Angkatan Laut Iran bergerak ke sana.

Dokumen-dokumen itu juga mengungkapkan bahwa Syekh Zayed setuju dengan keputusan tersebut.

Sementara itu, emir Sharjah menyetujui kesepakatan dengan Iran untuk berbagi kendali di wilayah Abu Musa, pada menit-menit terakhir. Ini berlangsung hingga 1992, ketika Iran mengambil kendali penuh atas pulau itu.

Pada Desember 1971 kehadiran Inggris di Teluk telah berakhir.

Saat ini, UEA masih membantah klaim kedaulatan Iran atas Abu Musa, Tunb Besar, dan Tunb Kecil. Hingga kini ketiga pulau tersebut masih menjadi sumber ketegangan antara Iran dan dunia Arab.

Simak juga video 'Boris Johnson Diberi Penghargaan Tertinggi Ukraina':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT