Pilu Keluarga Kehilangan Istri-9 Anak Akibat Banjir Terparah Afrika Selatan

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 09 Mei 2022 16:09 WIB
BBC
Jakarta -

Provinsi KwaZulu-Natal di Afrika Selatan masih terguncang akibat dihantam banjir terparah di negara itu dalam 60 tahun terakhir. Banjir itu menewaskan sekitar 435 orang pada April lalu.

Kini pemakaman massal tengah berlangsung. Menurut laporan wartawan BBC, Pumza Fihlani, banyak keluarga tidak bisa menguburkan kerabat mereka karena jenazahnya belum ditemukan akibat terseret arus deras.

Di dalam sebuah tenda putih yang berdiri di lereng bukit, di luar Pietermaritzburg, ibu kota KwaZulu-Natal, ratusan orang duduk dengan kepala menunduk di depan enam peti jenazah. Sebuah lagu gereja yang menyentuh menembus kesunyian yang sedih.

Cobaan yang tak bisa terbayangkan harus dihadapi keluarga Mdlalose. Istrinya, Slindile Mdalose, 43 tahun, dan sembilan anak berumur dua hingga 10 tahun tewas akibat banjir itu. Kejadian yang menghancurkan KwaZulu-Natal tersebut adalah bencana alam paling mematikan pada sejarah negara itu.

Baca juga:

Keluarga itu sedang tertidur ketika arus air deras menyapu dan meratakan rumah mereka. Sudah tiga minggu berlalu, beberapa jenazah belum ditemukan.

"Sejujurnya kami marah, kami mati rasa. Kami tidak bisa menggunakan kepala kami. Terlalu banyak hal yang harus dipahami," kata paman anak-anak itu, Thokozani Mdlalose, kepada BBC.

Thokozani mengenakan kacamata berwarna untuk menyembunyikan kesedihannya, walaupun, suaranya yang terisak dan bibirnya yang bergetar menyingkap perjuangannya untuk tetap tenang.

"Ketika Anda harus membagi kesedihan, Anda memikirkan yang ini, Anda memikirkan lain. Terlalu banyak. Sulit kehilangan satu orang. Lebih buruk kehilangan dua. Kehilangan sepuluh kerabat tidak pernah terbayangkan," katanya.

Pelayat di pemakaman

Keluarga dan teman-teman berduka atas meninggalnya 435 orang akibat banjir. (BBC)

Pemakaman massal Slindile Mdalose dan kelima anaknya, yaitu Uyanda, Lubanzi, Ziyanda, Asanele, Lulama, berlangsung di pagi yang sejuk. Slindile juga berstatus bibi dari empat anak yang masih hilang.

"Mengetahui bahwa kami belum menemukan mereka, mungkin mereka membusuk di suatu tempat di luar sana, saya tidak memiliki kata-kata untuk menggambarkan kesedihan yang ada di dalam diri saya sekarang. Saya bahkan tidak dapat berpikir," kata Thokozani.

Dia menceritakan, kesembilan anak itu hidup penuh keceriaan, tawa, dan membawa kegembiraan bagi seluruh keluarga.

Kakak Slindile dan bibi dari anak-anak, Nonkululeko Mdlalose, mengatakan dia terakhir kali berbicara dengan saudara perempuannya di telepon beberapa jam sebelum mereka meninggal. Saat itu dia tahu bahwa saudara perempuannya sedang ketakutan.

Nonkululeko mengatakan, hujan saat itu sangat deras. Dia tidak pernah melihat arus sederas itu sebelumnya. Mereka sempat berharap hujan itu akan mereda dan tidak menimbulkan bencana.

"Saya tidak pernah merasakan sakit seperti ini. Saya pikir saya adalah orang yang kuat, tapi ternyata tidak, bahwa kami akan membutuhkan bantuan, saya menyadari kami membutuhkan konseling. Ini terlalu berat untuk ditanggung siapa pun," tuturnya.

Mereka bukan satu-satunya keluarga yang berduka. Banjir telah menewaskan 435 orang. Puluhan korban belum ditemukan dan membuat keluarga mereka berduka.

Kurang lebih 200 jenazah telah dikuburkan sejauh ini. Setidaknya 59 mayat belum diambil oleh keluarga mereka dari kamar mayat.

Anjing pelacak telah digunakan untuk mencari mayat yang terkubur di bawah reruntuhan

Anjing pelacak telah digunakan untuk mencari mayat yang terkubur di bawah reruntuhan. (Getty Images)

Layanan Pemakaman Icebolethu, salah satu rumah duka terbesar di KwaZulu-Natal, sejauh ini telah menguburkan lebih dari 70 korban.

Salah satu pihak pengelolanya, Mthokozisi Bhengu, menyebut mayat-mayat itu tidak dalam keadaan baik karena mereka telah terendam air. Jenazah itu, kata dia, harus segera dikubur agar kondisinya tidak semakin parah.

"Para keluarga memiliki praktik budaya yang ingin mereka ikuti, seperti mengubur setiap orang dalam keluarga dalam satu waktu, tapi kami harus meyakinkan mereka bahwa orang yang dicintainya masih hilang," ujar Mthokozisi.

"Jadi ketika mereka masih mencari yang lain, sebaiknya mereka mengubur yang ada di kamar mayat dan menjaga martabat mereka," katanya.

Terkait jenazah yang belum diklaim keluarga, pihak rumah duka mengatakan, belum ada konsensus tentang apa yang harus dilakukan kepada mereka.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan oleh para petugas adalah mengekstrak DNA jenazah dan menyimpan informasinya. Mereka berharap, jika anggota keluarga korban datang mencari orang yang mereka cintai, mereka dapat dibawa ke kuburan mereka. Ini diharapkan akan memberi kepastian.

Sebagian jalan Caversham di Pinetown telah hanyut pada 12 April 2022 di Durban, Afrika SelatanGetty ImagesPemerintah menyatakan banjir itu sebagai bencana nasional.

Pemerintah dan donor swasta telah menawarkan bantuan untuk menutupi biaya pemakaman tetapi proses klaim dikatakan birokratis dan lambat. Situasi itu menyebabkan penundaan dalam proses penguburan.

Ketua Asosiasi Pemakaman Afrika Selatan, Nomfudo Mcoyi, mengatakan penundaan itu bisa dihindari.

"Di masa depan, pemerintah harus mendatangkan pakar sejak awal krisis. Biarkan kami memberi tahu Anda cara terbaik untuk melakukan ini," katanya.

Mcoyi menambahkan, penundaan menyebabkan lebih banyak trauma dan stres bagi keluarga.

"Kami bisa melakukan penguburan dengan mudah tanpa tubuh membusuk," katanya.

Kembali ke pemakaman di sebuah bukit, pejabat KwaZulu-Natal, Sihle Zikalala, menyebut pemerintah sedang bekerja untuk membantu keluarga korban.

Tentang rekonstruksi rumah korban banjir, Zikalala berkata pemerintah berupaya mengidentifikasi tanah yang cocok untuk menampung pemukiman baru.

Ribuan orang kehilangan rumah dan tinggal di tempat penampungan di seluruh provinsi ini.

"Tugas untuk membangun kembali KwaZulu-Natal tidak dapat dicapai hanya oleh pemerintah. Ini membutuhkan semangat solidaritas dan patriotisme baru yang telah kita lihat di provinsi ini ," katanya.

Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, mengakui bahwa diperlukan dana sekitar US$68 juta (sekitar Rp981 miliar) untuk membangun kembali KwaZulu-Na.

Perjalanan menuju kehidupan seperti sedia kala masih panjang bagi banyak warga daerah ini. Ini harus dilalui mereka yang kehilangan keluarga maupun yang kehilangan rumah atau mata pencaharian.

Sebelum kehancuran yang disebabkan oleh banjir ini akhirnya dapat benar-benar dihitung, banyak warga lokal akan terus membutuhkan bantuan.

(ita/ita)