Penyakit Lanjutan Ancam Nyawa Anak-anak di India Usai Sembuh dari Corona

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 29 Jun 2021 08:19 WIB
Kasus-kasus gangguan kesehatan pada anak terjadi ketika gelombang kedua virus mereda di India. (Getty Images)
Jakarta -

Bulan Juni, empat anak dirawat secara terpisah di sebuah rumah sakit di negara bagian Maharashtra, India, dengan gejala sesak napas dan tekanan darah rendah.

Ibu mereka telah tertular Covid-19 lebih dari sebulan silam. Anak-anak tidak menunjukkan gejala penyakit.

Di Rumah Sakit Kasturba dengan 1.000 tempat tidur di Sevagram, para pasien berusia muda ditemukan memiliki antibodi terhadap Covid-19, yang menunjukkan infeksi di masa lalu.

Saat ini mereka berjuang melawan kondisi langka, inflamatori dan berpotensi mengancam nyawa yang disebut sindrom inflamasi multi-sistem (MIS-C).

Kondisi ini biasanya berkembang empat hingga enam pekan setelah anak-anak dan remaja pulih dari Covid-19.

Di Rumah Sakit Kasturba, dua anak yang sakit telah pulih, sementara dua lainnya dirawat di ruang perawatan intensif.

Baca juga:

"Saya khawatir dengan kondisi ini. Kami tidak tahu seberapa dalam masalah ini.

"Yang mengkhawatirkan kami masih tidak memiliki data tentang beban penyakit ini di India," kata dokter SP Kalantri, pengawas medis rumah sakit.

Ketika gelombang kedua yang mematikan dari virus corona mereda, ahli penyakit anak-anak di seluruh India melaporkan lebih banyak kasus dari kondisi langka tetapi serius ini.

Ini lantaran para dokter masih melaporkan kasus itu, tapi tidak jelas berapa banyak anak yang terdampak sejauh ini.

Amerika Serikat telah melaporkan lebih dari 4.000 kasus dan 36 kematian akibat penyakit itu.

Di Rumah Sakit Gangaram Delhi, dokter Dhiren Gupta, pusat intensif perawatan anak-anak, telah menangani lebih dari 75 pasien, berusia antara empat dan 15 tahun, sejak Maret, ketika gelombang kedua dimulai.

Rumah sakitnya telah membuka bangsal MIS-C dengan 18 tempat tidur.

Dia memperkirakan ada lebih dari 500 kasus serupa di ibu kota dan daerah sekitarnya.

Hampir 1.500 km jauhnya, di kota barat Pune, dokter Aarti Kinikar, dokter anak yang bekerja di sebuah perguruan tinggi kedokteran milik pemerintah dan rumah sakit, melihat 30 kasus seperti itu sejak April.

Tiga belas anak yang sakit, berusia empat hingga 12 tahun, masih dirawat di rumah sakit.

Sebagian besar dari mereka menderita miokarditis, penyakit yang ditandai peradangan otot jantung.

"Jumlahnya terlalu banyak setelah gelombang kedua," kata Kinikar.

Di Solapur, sebuah kota kecil di Maharashtra, dokter anak dr Dayanand Nakate, telah menangani hingga 20 pasien, kebanyakan berusia antara 10 dan 15 tahun, dalam sebulan terakhir.

Dua pekan lalu, pemerintah negara bagian Maharashtra menjadikan MIS-C sebagai "penyakit yang dapat dilaporkan", yang diwajibkan oleh hukum untuk dilaporkan kepada pihak berwenang.

Para dokter mengatakan kondisi ini merupakan hasil dari respons imun yang ekstrem terhadap virus, yang dapat menyebabkan peradangan pada organ vital.

Gejalanya sering menyerupai penyakit lain pada awalnya: demam tinggi dan terus-menerus, ruam, mata merah, kelenjar getah bening yang meradang, sakit perut, tekanan darah rendah, sakit pada badan, dan lesu.

Beberapa gejala mirip dengan penyakit Kawasaki, kondisi langka lainnya yang terutama menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun.

"Sindrom ini benar-benar spektrum kondisi dari penyakit ringan seperti Kawasaki hingga kegagalan multiorgan," ujar dr Jhuma Sankar, guru besar ahli penyakit anak-anak di Institut Ilmu Kedokteran Seluruh India (AIIMS) Delhi.

Gelombang peradangan, kata dokter, dapat menyebabkan hasil yang menakutkan: septic shock, gagal pernapasan, dan mempengaruhi banyak organ seperti jantung, ginjal, dan hati.

Anak-anak yang menderita kondisi ini juga menunjukkan gejala neurologis, demikian temuan penelitian di AS.

Dr Gupta memberi tahu saya bahwa sebagian besar anak yang sakit di rumah sakitnya memerlukan perawatan perawatan serius.

Sepertiganya harus memakai dukungan ventilator hingga seminggu.

Para ahli mengatakan suntikan steroid, antibiotik, imunoglobulin atau IVIG - dibuat dari darah donor dan mengandung jutaan antibodi yang sehat - dan dukungan oksigen dapat membantu anak-anak pulih.

Yang mengkhawatirkan, 90% anak-anak yang dirawat di rumah sakit Dr Gupta karena kondisi tersebut telah tertular Covid-19 tanpa menunjukkan gejala apa pun, katanya.

Dia mengatakan anak-anak menjadi sakit dengan sindrom inflamasi dua sampai enam pekan setelah pemulihan.

"Satu-satunya kekhawatiran saya adalah anak-anak ini tidak boleh jatuh dan berada dalam keadaan darurat yang ekstrem.

"Orang tua perlu mewaspadai dan membawa anak-anak yang telah pulih dari Covid dan mengalami gejalanya untuk segera ke dokter anak.

Young teenager girl with medical face mask in dark room at home quarantine due to covid 19 or coronavirus outbreak

Anak-anak dianggap hanya 1-2% dari semua kasus infeksi virus corona. (Getty Images)

"Yang juga mengkhawatirkan saya adalah apakah kita memiliki sumber daya dan fasilitas yang cukup untuk merawat pasien muda ini jika ada lonjakan kasus," " kata dr Gupta.

Kondisi peradangan tetap jarang, dan jika dirawat tepat waktu, angka kematian tampaknya rendah: hanya satu dari 23 pasien di empat rumah sakit Mumbai yang menderita kondisi tersebut dan diperiksa sebagai bagian dari penelitian, meninggal.

Royal College of Pediatrics and Child Health di Inggris - di mana kondisinya disebut Pediatric Multisystem Inflammatory Syndrome atau PIMS - mengatakan angka kematian belum tersedia, tetapi mengatakan kematian "akan sangat jarang".

Di Pune, misalnya, dokter anak menyusun selebaran instruksi untuk orang tua dan memberikan pelatihan online kepada petugas kesehatan dan pengasuh untuk merawat anak yang sakit di rumah.

Yang masih belum sepenuhnya jelas adalah apa yang menyebabkan kondisi ini.

Apakah ini terkait dengan penumpukan antibodi setelah infeksi Covid? Atau apakah sindrom ini berkembang setelah infeksi dengan sendirinya? Mengapa sejumlah kecil anak terpengaruh?

"Ini masih secuil misteri," ujar dr Banik.

Kapan harus mencari bantuan?

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS) merekomendasikan orang tua harus segera mencari perawatan darurat jika anak-anak mereka menunjukkan salah satu dari tanda-tanda peringatan ini atau tanda-tanda lain yang berkaitan:

Kesulitan bernapas

Nyeri atau tekanan di dada yang tidak kunjung hilang

Kebingungan baru

Ketidakmampuan untuk bangun atau tetap terjaga

Kulit, bibir, atau dasar kuku pucat, abu-abu, atau biru, tergantung pada warna kulit

Sakit perut yang parah

(Sumber: Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS)

Simak juga 'Kasus COVID-19 di India Turun 90 Persen!':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)