Jerman Izinkan Warga Disuntik Vaksin Corona Beda Merek, Apa Lebih Manjur?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 23 Jun 2021 15:40 WIB
Berlin -

File picture (March 2021) of German Chancellor Angela Merkel

Merkel pertama kali menerima dosis vaksin AstraZeneca pada bulan April dan kemudian dosis Moderna beberapa hari yang lalu (Getty Images)

Kanselir Jerman Angela Merkel menerima vaksin Moderna sebagai suntikan kedua, setelah sebelumnya disuntik dengan Oxford-AstraZeneca. Apa ada dampak menerima dua vaksin berbeda?

Kanselir berusia 66 tahun itu divaksinasi beberapa hari yang lalu setelah mendapatkan dosis AstraZeneca pada bulan April.

Para ahli percaya dosis campuran vaksin COVID bisa menjadi ide yang bagus, tetapi terlalu dini untuk mengatakan dengan pasti.

Merkel akan mengundurkan diri tahun ini setelah 16 tahun memimpin.

Pada bulan Maret, Jerman, bersama dengan negara-negara Eropa lainnya, sempat menghentikan peluncuran vaksin AstraZeneca setelah sejumlah kasus pembekuan darah dilaporkan.

Jerman sebelumnya telah membatasi penggunaan vaksin itu di atas usia 60-an tahun, tetapi sekarang akan menawarkannya kepada semua orang dewasa, ungkap media Jerman Deutsche Welle.

Setelah awal yang lambat, peluncuran vaksinasi Jerman dipercepat dalam beberapa pekan terakhir.

Lebih dari setengah populasi negara itu kini telah menerima dosis vaksin pertama mereka.

Pada bulan April, juru bicara Merkel mengunggah foto sertifikat vaksinasinya untuk menunjukkan bahwa dia telah menerima suntikan.

Ada beberapa penelitian yang dilakukan terkait pencampuran vaksin yang berbeda.

Satu studi di Inggris menemukan bahwa orang dewasa lebih mungkin melaporkan efek samping ringan dan sedang setelah mencampur dosis vaksin AstraZeneca dan Pfizer.

Beberapa negara telah mempertimbangkan untuk mencampur vaksin dalam menghadapi kekurangan pasokan dan untuk meningkatkan perlindungan, sebagaimana dilaporkan kantor berita Reuters.

Pemerintah Provinsi Ontario dan Quebec Kanada mengatakan mereka berencana untuk mencampur vaksin dalam waktu dekat, di tengah ketidakpastian atas pengiriman vaksin Oxford-AstraZeneca dan kekhawatiran tentang pembekuan darah yang langka.

Analysis box by Michelle Roberts, health editor

BBC

Para ahli percaya bahwa dosis campuran vaksin COVID bisa menjadi ide yang sangat bagus.

Ini mungkin memberikan kekebalan yang lebih luas dan tahan lama terhadap virus Corona dan varian barunya, dan menawarkan lebih banyak fleksibilitas terkait peluncuran vaksin.

Studi sedang berlangsung, tetapi beberapa negara sudah mengizinkan pencampuran vaksin itu.

Jerman awalnya membatasi penggunaan vaksin AstraZeneca (AZ) untuk orang di bawah 60 tahun karena tidak banyak data uji coba yang tersedia tentang kemanjuran vaksin itu pada orang yang lebih tua.

Kebijakan itu berbeda dengan keputusan pada bulan April, yang menawarkan vaksin kepada semua orang dewasa.

Beberapa minggu kemudian Merkel menerima dosis pertamanya.

Baru-baru ini, menyusul laporan pembekuan darah langka pada sejumlah kecil orang muda yang mendapat vaksin AZ, Jerman merekomendasikan bahwa orang di bawah 60-an yang telah menerima dosis pertama harus mendapat vaksin virus Corona yang berbeda untuk suntikan kedua, dengan alasan keamanan, sebagai tindakan pencegahan.

Merkel tidak cocok dengan kelompok usia ini, tetapi, bagaimanapun, dia memiliki Moderna daripada AZ untuk dosis keduanya.

Ini mungkin terbukti menjadi keputusan yang memberinya perlindungan yang lebih baik, tetapi sampai kita memiliki bukti dari penelitian yang besar, masih terlalu dini untuk mengatakannya dengan pasti.

Lihat juga video 'Jerman Buka Layanan Vaksinasi Corona untuk Umum':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)