Masih Misterius, Dokter Inggris Dua Kali Terinfeksi Virus Corona

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 18 Des 2020 18:29 WIB
Jakarta -

Seorang dokter dan ahli epidemiologi di Inggris, Dr John Wright, sangat kaget ketika tes usap mandiri yang ia lakukan menunjukkan dirinya positif terinfeksi virus corona.

Ia dua kali melakukan tes swab ini, namun hasilnya sama: positif.

"Saya sampai tak percaya [dengan hasil tes]. Saya ulangi lagi, namun hasilnya tetap sama," ujar Wright.

Hasil PCR swab keesokan harinya juga menunjukkan dirinya positif terkena virus corona.

Wright pada pertengahan tahun menjalani tes, dan hasilnya ketika itu adalah ia terkena virus corona, meski tidak menunjukkan gejala.

Karena merasa pernah terkena virus inilah, ia beranggapan telah imun dan "tidak akan terkena lagi".

Hasil tes yang menunjukkan dirinya positif Covid-19 membuatnya bertanya-tanya: apakah tes pertama beberapa bulan lalu tidak akurat? Atau apakah dimungkinkan seseorang terkena Covid-19 dua kali?

Hasil tes positif ini menggagalkan rencana Wright mengunjungi ayahnya yang berusia 89 tahun. Selama tahun ini, karena karantina wilayah, ia hanya sekali mengunjungi ayahnya.

Ayahnya terkena serangan jantung pada gelombang pertama pandemi Covid-19 di Inggris dan sekarang akan menjalani operasi kanker. Jadi, kunjungan dan pertemuan ini menjadi sangat penting bagi ayahnya.

Namun hasil tes yang menunjukkan positif membuat Wright harus melakukan isolasi di rumah selama 10 hari.

Yang membedakan dari hasil tes pertama beberapa bulan lalu adalah, sekarang ia menunjukkan gejala. Ia juga kehilangan indra penciuman.

Kasus seseorang terkena virus corona dua kali bisa dikatakan sangat jarang.

Kasus pertama ditemukan Agustus lalu, ketika seorang pasien di Hong Kong positif virus corona untuk kedua kalinya.

Sejak itu, satu kantor berita Belanda menemukan 27 kasus reinfeksi di sejumlah negara, dari Qatar hingga Brasil.

Mungkin ada kasus-kasus serupa lainnya yang tidak tercatat, namun para ahli sepakat angkanya sangat kecil, yang mengindikasikan bahwa dua kali terkena virus corona tidak sering terjadi.

Ketika mengetahui Wright kembali positif, insting pertamanya adalah menyimpulkan bahwa ia beberapa bulan lalu sebenarnya tidak terserang virus corona. Ia juga berpikiran bahwa tes beberapa bulan lalu tersebut tidak akurat.

Ia lantas mendiskusikan situasi yang ia alami ini dengan Profesor Paul Klenerman, guru besar di Universitas Oxford yang memimpin penelitian tentang imunitas nasional pada Covid-19.

Terinfeksi varian virus yang berbeda?

Virus corona

Wright memperkirakan mungkin ia terkena varian baru virus corona, yang berbeda dengan yang pertama. (Getty Images)

Juni lalu, Wright ikut studi Klenerman di mana ia menjalani tes antibodi dan tes T-cell. Ketika itu, tes antibodi menunjukkan negatif sedangkan tes T-cell (sel T) memperlihatkan positif.

Tes antibodi adalah tes darah untuk mengetahui apakah seseorang pernah terkena Covid-19 sebelumnya.

Tes sel T, satu tipe sel darah putih yang membunuh virus, juga ditujukan untuk mengetahui apakah seseorang pernah terkena virus corona.

Sel T memerangi infeksi dan sel ini bisa membantu menambah antibodi ketika kita terkena infeksi lagi.

Tanggapan Klenerman adalah apa yang terjadi dengan Wright sangat menarik.

Klenerman mengatakan mungkin saja kekebalan yang terbangun luntur seiring dengan berlalunya waktu. Meski luntur, sel T masih memiliki semacam memori yang bisa mendeteksi bahwa tubuh terinfeksi Covid-19.

Hal ini membuat Wright bertanya-tanya apakah sel T di tubuhnya sebenarnya mendeteksi jenis virus corona lain, seperti pilek biasa. Tapi Klenerman mengatakan masih terlalu awal untuk mengambil keputusan ini.

Klenerman menekankan kita tak tahu hingga kapan daya tahan tubuh ini bertahan, baik yang pernah terkena Covid ataupun yang disuntik vaksin. Penelitian yang dilakukan Klenerman diharapkan membantu memberikan jawaban.

"Klenerman dan timnya akan melakukan tes lagi untuk menyelidiki lebih lanjut [kasus yang saya alami]," kata Wright.

Jika memang Wright terinfeksi lagi, salah satu penjelasannya adalah ia terkena varian baru dari virus corona yang beredar di Inggris.

(ita/ita)