Novel-novel Ini Gambarkan Kengerian dan Trauma di Balik Pandemi Corona

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 17:40 WIB
Getty Images
Jakarta -

Bagaimana tiga karya fiksi yang rilis tahun ini bisa begitu erat kaitannya dengan pandemi covid-19 yang menyebabkan krisis di dunia saat ini? Caryn James mengulasnya.

Novel baru Emma Donoghue, The Pull of the Stars, yang berlatar belakang masa pandemi di tahun 1918, dijadwalkan untuk terbit tahun depan.

Namun, ketika dia menyerahkan manuskrip terakhir pada bulan Maret, tepat sebelum Covid-19 menghentikan dunia, penerbitnya dari Amerika Serikat dan Inggris menemukan keterkaitan yang tak terduga, sehingga mereka memaksa agar buku ini segera dicetak.

"Saya sempat merasa tidak yakin," jelas Donoghue tentang jadwal itu. Tetapi, lanjutnya, sebagai sebuah subyek, "Pandemi adalah hal luar biasa bagi seorang novelis.

Situasi pandemi adalah hal yang membahayakan kehidupan sehari-hari dan menimbulkan dilema etika".

Karya Donoghue ini adalah satu dari sejumlah novel yang ditulis sebelum pandemi, tetapi terbit sekarang, dalam suatu lanskap yang membuat mereka lebih tepat waktu dan lebih tajam daripada yang pernah dibayangkan sang penulis.

Hamnet, novel karya Maggie O'Farrell, merupakan sebuah cerita yang sangat mendalam tentang kehidupan dan pikiran istri Shakespeare dan anak laki-laki mereka, Hamnet, yang meninggal pada 1596, kemungkinan disebabkan oleh wabah pes.

Dalam buku The End of October karya Lawrence Wright yang penelitiannya dilakukan secara mendalam dan mengerikan, dikisahkan seorang ilmuwan yang melacak penyebaran virus baru ke seluruh dunia.

Virus ini menyebabkan diberlakukannya karantina, menimbulkan tingkat kematian yang mengerikan, dan gangguan sosial. Semuanya terasa sangat akrab di masa sekarang.

Meski berbeda gaya penulisan dan latar belakang, semua novel ini menggunakan pandemi sebagai lensa masyarakat di saat krisis.

Menggali dari sejarah atau sains, para penulis itu menekankan isu kesehatan masyarakat, tanggung jawab pemerintah dan perbedaan kelas masyarakat, dan dengan pandangan novelis mempertimbangkan bagaimana kekuatan-kekuatan itu mempengaruhi individu-individu.

Drama tingkat tinggi mengalir dari cara pandemi mengancam kebutuhan manusia yang paling dasar, kesehatan dan keluarga.

Elemen-elemen sosial dan personal yang luas menyatu dengan cantik dalam The Pull of the Stars yang dalam tetapi mengalir.

Tokoh dan narator utama novel ini, Julia, adalah perawat di sebuah bangsal bersalin di Dublin untuk para perempuan yang terkena flu. Julia berusia hampir 30 tahun dan tinggal bersama kakak laki-lakinya, yang sejak kembali dari medan pertempuran Perang Dunia Pertama tidak bicara sepatah kata pun karena begitu trauma.

Menceritakan pengalaman Julia selama tiga hari di bangsal perawatan, novel ini menampilkan daya tarik naratif, kehangatan emosional, dan ketajaman psikologis seperti yang disampaikan Donoghue dalam novel-novel sebelumnya.

Dia terkenal dengan novel terlarisnya di tahun 2010, Room, di mana dia juga menuliskan skenario untuk filmnya di tahun 2015.

Donoghue juga pernah menulis tentang masalah kesehatan, trauma dan keibuan dengan latar belakang yang lebih bersejarah dalam The Wonder (2016), yang berkisah tentang seorang perawat yang mendapat pelatihan bersama Florence Nightingale dan merawat seorang gadis religius yang mengaku sudah berbulan-bulan hidup tanpa makan.

Sementara Frog Music (2014), novel karya Donoghue yang lain, berlatar belakang peristiwa epidemi cacar di San Francisco pada 1876.

Salah satu kelebihan Donoghue adalah penggunaan riset untuk menjadikan pengalaman seorang tokoh tampak nyata. Dalam The Pull of the Stars, bab-bab diberi judul Red, Brown, Blue dan Black, yang melambangkan perubahan warna kulit seseorang ketika flu yang mereka derita bertambah parah.

Ada kisah-kisah tentang kehamilan dan kelahiran yang menyakitkan. Meski kita melihat peristiwa-peristiwa itu dari sudut pandang Julia, detail medis yang seringkali berdarah-darah digambarkan dengan tepat di dalam novel.

Bahkan pasien-pasien Julia memiliki sifat-sifat yang jauh berbeda. Salah satu tokoh digambarkan berasal dari kelas menengah, banyak menuntut dan ketakutan.

Tokoh lainnya seorang janda miskin, yang menolak pengobatan karena alasan agama.

Julia bekerja dengan sejumlah dokter yang penuh lagak gaya tetapi tahu lebih sedikit tentang persalinan daripada dirinya, dan dia tertarik pada tokoh relawan perempuan muda yang tidak berpendidikan tetapi cerdas, dan dikirim untuk membantu di bangsal.

Dengan tokoh utama perempuan bijak yang membuat keputusan hidup atau mati, novel ini tetap akan membuka mata dan mengharukan untuk diterbitkan kapan saja.

Tetapi dilema yang dihadapi orang-orang di tahun 1918 sangat relevan dengan situasi dewasa ini. Bagi Donoghue, pandemi dalam fiksi melampaui momen sejarah mereka.

"Bagaimana teman atau keluarga Anda saling berdebat untuk masalah-masalah seperti, apakah kita boleh memberi pelukan pada anak, atau apakah kita mengenakan masker," jelasnya.

"Demikian pula di tahun 1918, keputusan Anda yang paling biasa, seperti 'apakah saya akan naik trem meski saya sedang batuk?', menjadi pertanyaan yang sangat etis dan eksistensial."

PandemiDi dalam buku, keputusan sehari-hari seseorang - seperti apakah akan menggunakan trem ketika sedang batuk - menyebabkan masalah etika yang signifikan. (Getty Images)

Dalam The Pull of the Stars, gema dari pandemi saat ini melompat keluar. Tidak ada yang diperbolehkan mengunjungi rumah sakit, yang hampir tidak berfungsi karena begitu banyaknya kasus.

Di luar rumah sakit terpasang tanda, 'Dilarang berjabat tangan, tertawa atau mengobrol dengan jarak dekat'.

Di perjalanan menuju rumah sakit dengan menggunakan trem, Julia melirik judul surat kabar yang bertuliskan, 'Laporan Penambahan Kasus Influenza' dan berpikir,

"Apakah hanya laporannya saja yang meningkat, atau jangan-jangan pandemi ini adalah imajinasi kolektif."

Seorang biarawati perawat yang tiba di bangsal setelah melihat antrean di luar bioskop mencibir, "Laki-laki dan perempuan dewasa, serta anak-anak itu, semuanya berdesak-desakan untuk masuk ke kotak kuman besar".

Biarawati itu terdengar tak berperasaan, tetapi apalah bioskop, jika bukan sebuah kotak kuman yang besar?

Setiap saat Julia mengkhawatirkan kakaknya, dan bertanya-tanya tentang masa depannya sendiri. Akankah dia menikah? Menjadi seorang ibu?

Dengan menceritakan pengalaman di masa pandemi secara pribadi, Donoghue bersentuhan dengan tema-tema yang selalu ada: bagaimana kita menangani krisis, kebutuhan untuk terhubung dengan manusia lain, dan harga dari kehilangan hubungan itu.

Novel ini juga mengajak kita menengok momen yang kita alami sendiri. Julia berpikir: "Saya kesulitan untuk melihat seperti apa masa depan. Apakah kita bisa kembali normal setelah pandemi?"

Peramal-peramal yang tidak disengaja

Meski berbeda, Hamnet juga berkisah dengan sangat mendalam tentang keibuan. Hamnet Shakespeare, yang meninggal di usia 11 tahun merupakan figur utama dalam buku, tetapi karakter utamanya justru sang ibu.

Kita mengetahui nama istri Shakespeare adalah Anne Hathaway, tetapi O'Farrell menyebutnya Agnes, nama yang disebutkan ayah Anne dalam surat wasiatnya.

Perubahan nama tersebut menekankan betapa dalamnya O'Farrell membayangkan kehidupan seorang perempuan yang hampir tidak pernah disebut dalam sejarah.

Agnes fiktif adalah seseorang yang cerdas dan cakap, dapat memahami pikiran orang lain hanya dengan menggenggam tangan mereka.

Jika pandemi adalah tema umum dalam The Pull of the Stars, dalam Hamnet, kehadirannya bak bayang-bayang gelap yang menaungi sepanjang novel, seperti wabah pes yang membayangi Inggris sepanjang kehidupan Shakespeare.

Kala itu, wabah pes bermula di abad ke-14 sebagai 'Black Death'.

Wabah itu menyerang keluarga Agnes seperti kilat, digambarkan dengan detail yang tidak menyenangkan.

Hamnet muda menyaksikan betapa tersiksanya Judith, saudara kembarnya, dan bertanya kepada ibunya. "Dia terkena itu,' kata Hamnet dengan bisikan parau, 'Iya kan?"

Keragu-raguannya menjelaskan apa yang dimaksud dengan "itu".

Agnes mengenali gejalanya, bengkak atau benjolan yang "menonjol di kulit", di leher dan ketiak putrinya.

Hamnet ketakutan oleh bayangan yang muncul di pintu, "tinggi, berjubah hitam, dan di tempat di mana seharusnya ada wajah terdapat topeng mengerikan yang tidak berbentuk, runcing seperti paruh burung raksasa.

Ternyata sosok itu adalah dokter dengan topeng pelindung, yang enggan masuk ke dalam rumah tetapi harus menyampaikan pesan kepada keluarga mereka.

Mereka harus tetap tinggal di dalam rumah sampai 'wabah sampar berlalu'.

Lompatan imajinasi Farrell yang berani berakar dari abad ke-16, dan novelnya diselesaikan bahkan sebelum para ilmuwan mendengar tentang Covid-19, tetapi ketakutan dan kesedihan yang dialami tokoh-tokohnya selama wabah itu sama seperti yang kita alami sekarang.

The End of October, yang mulai ditulis Wright pada 2017, didasarkan pada penelitian dan wawancara dengan para ilmuwan yang telah lama melihat datangnya pandemi.

Novel ini bisa saja hadir sebagai peringatan, tetapi kemiripannya dengan krisis saat ini begitu mencengangkan, sehingga membuatnya seperti ramalan.

Wright adalah jurnalis terkenal yang telah menulis buku tentang 9-11 dan Scientology. Buku-bukunya tidak terlalu mirip karya sastra, tak seperti karya Donoghue atau O'Farrell.

Namun begitu, dia membuat narasi menarik, yang berfokus pada tokoh fiksi Henry Parsons, seorang spesialis penyakit menular yang bekerja di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, yang melakukan perjalanan ke Indonesia untuk menyelidiki laporan pertama tentang sebuah penyakit baru.

"Ini bisa jadi virus corona, seperti Sars atau Mers," Henry berspekulasi. Segera saja, penyakit fiktif yang disebut Kongoli flu itu menghancurkan perekonomian nasional dan menyebabkan krisis politik global.

Henry mengikuti jejak penyakit itu sampai ke Arab Saudi, di mana Mekah harus dikarantina selama musim haji.

Dalam kehidupan nyata, tahun ini ibadah haji dibatalkan, satu dari sedikit poin di mana kenyataan tidak seburuk yang dihadapi Henry.

PandemiNovel kontemporer Lawrence Wright, The End of October, ditulis berdasarkan riset dan wawancara dengan para ilmuwan yang sudah lama meramalkan datangnya pandemi. (Getty Images)

Wright menulis, krisis akhirnya dialami secara pribadi. Henry terus-menerus mengkhawatirkan istri dan dua anaknya di rumahnya, di Atlanta, di mana pasokan makanan terganggu dan jaringan listrik mati.

Usahanya untuk menghentikan penyakit ini berujung pada upaya untuk menyelamatkan keluarganya. Tetapi kekuatan The End of October ada dalam detail reportorialnya.

Sungguh menakjubkan dan mengerikan melihat betapa cerdiknya Wright memandang betapa lemahnya pemerintah dan kesiapan kesehatan umum sehingga menyebabkan malapetaka ketika pandemi melanda.

Di Washington yang fiktif, wakil presiden yang bertanggung jawab atas respons pandemi pemerintah, mendesak agar para ilmuwan menyampaikan kabar baik tentang vaksin kepada masyarakat Amerika.

Para ilmuwan memperingatkannya bahwa tidak ada vaksin atau pengobatan yang bisa segera tersedia, tetapi dia akan memelintir pernyataan itu dengan meyakinkan.

"Dapatkah kita meminta presiden mengatakan bahwa vaksin sedang dalam pengembangan?" Dia tidak ingin mendengar kata 'tidak'. Adegan ini sangat masuk akal sebagai berita yang dilaporkan hari ini.

Donoghue membuat pengamatan serupa terhadap para pemimpin politik selama pandemi sekarang ini. Ketika tengah mengedit novelnya, dia berkata:

"Saya mendengar para politisi mengatakan banyak kalimat sama dengan berbagai pesan yang keluar di tahun 1918, jaminan yang tidak jelas, yang tidak berdasarkan fakta ilmiah Sambil menulis buku ini saya berpikir, 'Saya akan lebih percaya ilmu pengetahuan daripada politik, sampai kapan pun'."

Seperti novelis-novelis lain yang muncul dengan buku tentang wabah secara tak sengaja pada tahun ini, Donoghue tidak membuat perubahan apa pun dalam bukunya untuk mengisahkan tentang virus baru. Dia tidak perlu melakukannya.

Short presentational grey lineBBC

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Eerily prescient 2020 plague novels di BBC Culture.

(ita/ita)