Lima Alasan Mengapa Kesepakatan Damai Israel-UEA-Bahrain Dianggap Penting

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 15 Sep 2020 16:32 WIB
Penasehat keamanan Israel melakukan perjalanan udara bersejarah ke UEA pada 1 September lalu. (Reuters)
Jakarta -

Delegasi tingkat tinggi dari Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) akan menandatangani kesepakatan damai bersejarah, Selasa (15/09). Perjanjian yang dimediasi Amerika Serikat itu bakal diteken di Gedung Putih.

Menteri Luar Negeri Bahrain, Abdullatif bin Rashid Alzayani, juga akan menghadiri seremoni itu.

Alzayani akan menandatangani perjanjian terpisah mengenai normalisasi hubungan Bahrain dengan Israel. Rencana itu pekan lalu diumumkan Presiden AS, Donald Trump.

Berikut adalah sejumlah alasan mengapa kesepakatan damai ini sangat penting.

1. Negara-negara Teluk Persia akan dapat peluang besar di berbagai bidang, terutama perdagangan

Kesepakatan ini bakal menguntungkan UEA yang ambisius. Mereka saat ini bukan hanya berupaya menjadi kekuatan militer global yang disegani, tapi juga pusat bisnis dan wisata.

AS tampak menyokong kesepakatan damai itu dengan iming-iming senjata militer yang selama ini tak pernah didapatkan UEA, antara lain pesawat F-35 stealth fighter dan jet tempur elektronik EA-18G.

UEA sejauh ini telah menggunakan senjata muktahir dalam krisis keamanan di Libya dan Yaman. Namun mereka diyakini mengincar senjata lainnya untuk menghadapi Iran yang berada diseberang Teluk persia.

Israel dan AS selama ini membagikan data tentang Iran kepada UEA. Hal yang sama juga dilakukan Bahrain.

Sampai tahun 1969, Iran mengklaim Bahrain sebagai bagian dari wilayah kedaulatan mereka.

Sebaliknya, Pimpinan Bahrain yang berasal dari kelompok Sunni menganggap komunitas Syiah di negara mereka berpotensi menjadi pembelot untuk Iran.

UEA dan Bahrain selangkah lagi akan menjalani hubungan dengan Israel. Mereka mengincar perdagangan bebas, salah satunya karena Israel merupakan pemain besar dalam industri teknologi global.

Selama pandemi Covid-19, turis asal Israel pun diprediksi bakal mengincar wisata ke lokasi seperti padang gurun, pantai, dan pusat perbelanjaan di negara-negara teluk. Semuanya tampak menjadi ladang bisnis yang potensial untuk UEA dan Bahrain.

2. Israel membuka diri terhadap negara Arab

Menormalisasi hubungan dengan UEA dan Bahrain adalah pencapaian hebat untuk Israel.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu memegang teguh strategi yang pertama kali muncul dekade 1920-an, yaitu tentang 'Tembok Besi' antara negara orang-orang Yahudi dan negara Arab.

Gagasan itu menyebut bahwa, kekuatan Isarel pada akhirnya akan memaksa negara-negara Arab mengakui eksistensi mereka.

Masyarakat Israel pada umumnya gundah terkucil di Timur Tengah. Perdamaian dengan Mesir dan Yordania tidak pernah berlangsung mulus.

Israel mungkin lebih berharap hubungan dengan negara-negara Teluk jauh dari isu Yerusalem dan teritori yang mereka okupasi.

UEA

Seorang pria asal UEA mengenakan masker berlogo bendera negaranya, Israel dan AS, saat rombongan pesawat komersial langsung pertama dari Israel tiba di Abu Dhabi, 31 Agustus 2020. (EPA)

Memperkuat koalisi melawan Iran juga menjadi nilai plus bagi Israel. Netanyahu menganggap Iran sebagai musuh utama Israel. Dia berulang kali menyamakan pimpinan Iran dengan petinggi Nazi.

Netanyahu belakangan juga tak melanjutkan ketidaksetujuannya terhadap rencana kesepakatan senjata yang dibuat UEA.

Netanyahu di lingkup domestik juga terkepung. Dia menghadapi kasus korupsi yang mungkin akan membuatnya dipenjara.

Kebijakan Netanyahu terhadap penanganan pandemi virus korona yang awalnya berjalan mulus kini juga menghadapi kegagalan. Setiap minggu para penentangnya berdemo di luar kediamannya di Yerusalem.

Kesepakatan damai di Gedung Putih hari ini datang pada waktu yang tepat untuk Netanyahu.

3. Trump rayakan keberhasilan besar dalam politik luar negeri

Kesepakatan yang bakal segera diteken ini memberikan beragam keuntungan untuk Trump. Ini, salah satunya, akan menguntungkan strategi 'tekanan maksimum' AS untuk Iran.

Perjanjian damai ini juga dapat menjadi amunisi Trump menghadapi pemilihan presiden AS. Trump bisa menjadikan kesepakatan ini sebagai bukti atas klaimnya sebagai pembuat kesepakatan politik terhebat di dunia.

Donald Trump after announcing that Israel and the UAE have agreed to normalise relations (13 August 2020)

Donald Trump mengumumkan perjanjian yang disebutnya sebagai "Kesepakatan Abraham" di Gedung Putih, Agustus lalu (Reuters)

Keuntungan apapun yang Trump berikan untuk Israel, terutama bagi pemerintahan Benjamin Netanyahu, akan menyenangkan para pemilihnya dari kalangan Gereja Injili Kristen Amerika (American Christian Evangelical).

Kelompok ini merupakan basis elektoral terpenting Trump.

Aliansi 'sahabat Amerika' melawan Iran seharusnya dapat bekerja lebih lancar jika Teluk Arab terbuka. Kondisi itu dianggap lebih menguntungkan daripada merahasiakan hubungan dengan Israel.

Perjanjian perdamaian antara Israel dan Palestina yang disebut Trump dengan istilah 'kesepakatan abad ini' bukanlah permulaan.

Namun perjanjian Israel-UEA yang dikenal juga dengan 'Kesepakatan Abraham' itu mengubah keseimbangan kekuatan politik Timur Tengah secara signifikan. Trump mengklaim situasi itu sebagai kebijakan luar negeri yang sukses.

4. Palestina merasa dikhianati

Sekali lagi, Palestina menjadi pihak yang paling tidak beruntung. Mereka menuding 'Kesepakatan Abraham' sebagai sebuah pengkhianatan.

Perjanjian baru itu melanggar konsensus Arab yang sudah lama ada bahwa normalisasi hubungan dengan Israel bakal mempertaruhkan kemerdekaan Palestina.

Sekarang Israel memperkuat hubungan baru dengan negara-negara Arab. Di sisi lain, Palestina masih merana di bawah okupasi Israel di Yerusalem Timur dan Tepi Barat. Situasi itu ibarat membangun penjara terbuka di Gaza.

Putra Mahkota Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed Al Nahyan, penguasa de facto UEA, mengklaim salah satu syarat yang dia ajukan dalam kesepakatan dengan Israel adalah penghentian aneksasi sebagian besar Tepi Barat.

Palestinian Authority President Mahmoud Abbas puts his hand on his head during a meeting of the Palestinian leadership (18 August 2020)

Pimpinan Palestina mengutuk kesepakatan damai UEA dan Bahrain dengan Israel. (Reuters)

Namun karena tekanan internasional yang luar biasa, Netanyahu tampaknya mundur dari gagasan itu, setidaknya untuk saat ini. UEA menawarkan jalan keluar dari jalan buntu politik itu.

Kecemasan Palestina akan meningkat karena Bahrain ternyata juga bergabung dalam kesepakatan dengan Israel.

Bagaimanapun keputusan kesepakatan ini tidak akan pernah terjadi tanpa persetujuan Arab Saudi. Mereka merencanakan perdamaian antarnegara Arab yang menuntut kemerdekaan Palestina.

Status Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz, sebagai penjaga dua tempat paling suci umat Islam memberinya otoritas yang sangat besar. Sangat tidak mungkin Salman tiba-tiba mengenali Israel.

Sebaliknya, putra sekaligus ahli warisnya, Mohammed bin Salman, mungkin tidak segan-segan mengambil kebijakan itu.

5. Iran sakit kepala

Kesepakatan yang bakal diteken di Gedung Putih itu dikecam habis-habisan oleh para pemimpin Iran.

Kecaman itu lebih dari sekedar retorika. Kesepakatan Abraham membuat mereka benar-benar berada di bawah tekanan.

Sanksi AS sudah menyebabkan penderitaan ekonomi yang nyata untuk Iran. Saat ini mereka juga akan menghadapi persoalan besar lainnya.

Iranian students burn Israeli flags during a protest outside the UAE embassy in Tehran, Iran (15 August 2020)

Kesepakatan UEA dan Israel memicu demonstrasi di Iran. (EPA)

Pangkalan udara Israel berada cukup jauh dari Iran. Sementara UEA berada tepat di seberang Teluk Persia. Peta basis militer itu vital jika ke depan kembali muncul gagasan tentang serangan udara terhadap situs nuklir Ir

Israel, AS, Bahrain, dan UEA kini memiliki sejumlah opsi baru. Sebaliknya, Iran merasa ruang mereka untuk bermanuver menyempit.an.

(ita/ita)