Nyamuk 'Modifikasi' Terbukti Signifikan Kurangi Kasus Demam Berdarah

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 29 Agu 2020 16:44 WIB
Yogyakarta -

Sebuah studi mendapati bahwa menyuntikkan bakteri Wolbachia ke nyamuk penyebab demam berdarah, atau Aedes aegypti, dapat mengurangi tingkat infeksi demam berdarah pada manusia.

Hasil uji coba dari studi tersebut mendapati bahwa jumlah kasus demam berdarah di sejumlah area di Kota Yogyakarta, yang menjadi tempat pelepasan nyamuk dengan bakteri Wolbachia, turun 77% jika dibandingkan dengan area yang tidak diintervensi oleh nyamuk yang sudah 'dimodifikasi' tersebut.

"Uji coba ini telah memberikan hasil yang sangat menggembirakan, ini menunjukkan bukti yang sangat konklusif, yaitu pengurangan tingkat infeksi demam berdarah yang signifikan di wilayah-wilayah di Kota Yogyakarta, di mana kami melepas nyamuk-nyamuk berbakteri Wolbachia tersebut," kata Dr Katie Anders, direktur penilaian dampak di World Mosquito Program (WMP) dan salah satu periset utama dalam uji coba ini, kepada BBC News Indonesia (27/08).

Hasil uji coba dengan desain 'standar emas' itu adalah "icing on the cake" atas hasil kerja keras periset di laboratorium selama kurang lebih 10 tahun, kata Dr Katie.

"Kami menemukan bahwa pasien dengan demam berdarah lebih sering berasal dari area-area di Kota Yogyakarta tanpa nyamuk berbakteri Wolbachia, jika dibandingkan dengan area-area dengan nyamuk ber-Wolbachia.

"Ini dapat dilihat dari reduksi penyakit demam berdarah sebesar 77%, sebuah dampak yang sangat kuat, di wilayah-wilayah di mana kami melepaskan nyamuk ber-Wolbachia," jelas Dr. Katie.

Program ini adalah hasil kerja sama antara Monash University di Australia dengan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, dan didanai oleh Yayasan Tahija.

Riset ini sudah berlangsung sejak 2011, dengan lokasi uji coba pertama di Queensland, Australia.

Nyamuk-nyamuk berbakteri-Wolbachia ini baru dilepas pada tahun 2017 di Yogyakarta dalam skala besar.

Prof. Adi Utarini dari Fakultas Kedokteran UGM dan peneliti utama di uji coba WMP di Yogyakarta, mengatakan bahwa penurunan infeksi penyakit demam berdarah sebesar 77% itu adalah "sebuah penurunan yang luar biasa."

"Trial (uji coba) ini kan dilakukannya sejak 2017, dan ini memang bisa dibilang puncak kegiatan risetnya. Karena kita ingin membuktikan di masyarakat luas, bisa turun berapa sih demam berdarahnya dengan teknologi Wolbachia ini?

"Ketika kita sudah tahu sekarang buktinya, bahwa itu bisa menurunkan sampai 77%, dan ini sangat luar biasa, signifikan penurunan ini, maka dari ini kita mengembangkan model bagaimana ini agar bisa diimplementasi di wilayah-wilayah lain," ujarnya.

Sulitnya injeksi mikro ke telur nyamuk

Prof Adi menjelaskan bahwa bakteri Wolbachia secara alami ditemukan di banyak spesies serangga, seperti lalat buah dan kupu-kupu.

Dalam tubuh inangnya, bakteri ini dapat memperpendek usia serangga tersebut.

"Wolbachia itu inang aslinya adalah lalat buah. Awal mulanya Monash University menemukan bahwa Wolbachia ini bisa memperpendek usia lalat buah itu, dan Wolbachia itu sebetulnya ada di sebagian besar serangga alami, hampir 70% [bakteri itu] ada di serangga, termasuk lalat buah, kupu-kupu, dan sebagainya."

"Hanya saja dia tidak ada di Aedes aegypti," jelasnya.

Dr Katie Anders dari Monash University mengatakan bahwa proses penelitian di laboratorium atas bakteri ini, termasuk proses penyuntikan mikro ke nyamuk, memakan waktu satu dekade.

"Di Monash, kami meneliti di laboratorium selama satu dekade. Kami 'memperkenalkan' bakteri Wolbachia ini ke nyamuk demam berdarah, dan dengan 'memperkenalkan' saya maksud, secara harfiah, menyuntikkan bakteri tersebut ke telur-telur nyamuk yang sangat, sangat kecil sehingga ketika nyamuk tersebut tumbuh dewasa, mereka memiliki Wolbachia di dalam tubuhnya, yang sebenarnya tidak membahayakan atau mengubah perilaku mereka sama sekali."

"Namun ini berarti bahwa nyamuk demam berdarah tidak lagi bisa menyebarkan virus dengan efisien ke manusia sehingga mereka tidak bisa menyebarkan demam berdarah, virus zika dan chikungunya, secara efektif," jelas Dr Katie.

Berbicara kepada program Newsday di BBC World Service (26/08), Prof Cameron Simmons, periset dan direktur Institute of Vector Borne Disease di Monash University, mengatakan bahwa proses penyuntikan mikro tersebut 'sangat lama dan membosankan.'

"Ini adalah proses yang sangat, sangat lama dan membosankan...penyuntikan mikro bakteri Wolbachia dari lalat buah ke salah satu telur nyamuk Aedes aegypti perempuan. Proses infeksi nyamuk ini memakan waktu bertahun-tahun," ujarnya.

"Kami sekarang adalah petani-petani nyamuk yang memproduksi nyamuk ber-Wolbachia dan melepaskannya ke masyarakat agar mereka bisa mengurangi demam berdarah."

Dr Katie mengatakan bahwa periset membagi kota Yogyakarta menjadi 24 area, lalu secara acak memilih 12 area untuk melepas nyamuk-nyamuk demam berdarah yang sudah dimodifikasi, sementara 12 area lainnya tidak diintervensi.

Periset lalu mendorong masyarakat Yogyakarta yang menderita demam untuk memeriksakan diri ke puskesmas terdekat, di mana sampel darah mereka akan diambil dan calon pasien ditanyakan domisilinya.

Dari situ, periset mendapati bahwa sebagian besar pasien demam berdarah datang dari wilayah yang tidak diintervensi.

Dukungan masyarakat 'kunci sukses'

Prof Adi mengatakan bahwa kesuksesan uji coba pelepasan nyamuk ber-Wolbachia ini tidak akan tercapai tanpa dukungan masyarakat Yogyakarta.

Periset tidak akan melepas nyamuk-nyamuk ini jika warga setempat menolak.

"Masyarakat di Yogyakarta luar biasa, luar biasa dari beberapa hal. Ketika mereka bisa menerima ide [nyamuk dengan] Wolbachia ini, kalau masyarakat tidak menerima kan tidak mungkin penelitian seperti ini bisa dilakukan, itu support-nya luar biasa."

"Dalam studi ini, saya kira, salah satu kunci suksesnya adalah para masyarakat merespon dengan sangat baik teknologi ini," ujarnya.

Meski demikian, ia mengatakan beberapa warga dusun pernah menolak penelitian ini ketika pilot proyek dilakukan pada 2014.

"Hampir 96% masyarakat [di dusun tersebut] sudah setuju, jadi ini sudah bagus, tapi ada beberapa individu di masyarakat yang masih keberatan."

"Mereka buat surat menolak. Itu juga memberikan pembelajaran yang baik, karena info ke masyarakat harus sangat memadai sehingga masyarakat paham."

"Kadang-kadang [di rumah] yang terdapat anak kecil atau yang di rumah itu hanya ada orang lanjut usia yang sendirian, ya kita tidak lepaskan di rumah seperti itu karena biasanya mereka agak khawatir," jelasnya.

Selain karena kerja sama yang telah lama terjalin dengan UGM, Dr Katie mengatakan salah satu alasan mengapa Yogyakarta dipilih sebagai lokasi uji coba jangka panjang adalah karena ini adalah salah satu provinsi yang cenderung mencatatkan jumlah kasus demam berdarah tinggi.

"Yogyakarta adalah salah satu kota di Indonesia yang paling terdampak oleh demam berdarah, jadi dibutuhkan kendali demam berdarah yang efektif," kata Dr Katie.

Program uji coba ini juga dilaksanakan di bagian tengah Vietnam di saat uji coba dilaksanakan di Yogyakarta.

Meski demikian, uji coba di Yogyakarta adalah uji coba terbesar WMP sejauh ini dengan menggunakan metode penelitian berstandar emas, kata Dr Katie.

Program tersebut dilaksanakan di 12 negara di dunia di mana jumlah kasus demam berdarah biasanya tinggi, termasuk Indonesia, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Brazil, Kolombia, Sri Lanka, dan Meksiko.

Meringankan beban sistem kesehatan di tengah pandemi

Dr Katie mengatakan bahwa penurunan tingkat penyebaran demam berdarah di Yogyakarta dapat meringankan beban sistem kesehatan yang tengah disibukkan oleh pandemi COVID-19.

"Dengan melakukan intervensi yang efektif terhadap demam berdarah, kami bisa setidaknya mencegah kenaikan jumlah pasien demam berdarah saat musim hujan, yang sejak dulu telah membebani sistem-sistem kesehatan di negara-negara seperti Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya," kata Dr Katie.

"Yang kami sangat harapkan adalah uji coba ini dapat mencegah potensi terjadinya wabah demam berdarah yang besar, berbarengan dengan wabah COVID-19."

"Kami melihat itu terjadi di Singapura, Myanmar, dan Thailand yang mengalami epidemi demam berdarah besar tahun ini, selain COVID-19."

Prof Adi menambahkan bahwa pandemi COVID-19 mungkin meniadakan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk di banyak tempat karena penerapan pembatasan sosial.

"Kalaupun misalnya situasi COVID-19 itu membuat masyarakat mungkin agak berkurang intensitas pemberantasan sarang nyamuk, pertemuan-pertemuan untuk mensosialisasikan demam berdarah, saya kira kontribusi kami adalah membuat lingkungan itu lebih aman karena harapannya ketika nyamuk sudah ber-Wolbachia, maka dia akan menghambat penularan demam berdarah ke orang."

"Kalau dalam bahasa kasual, ibaratnya gak perlu ngapa-ngapain juga gak apa-apa karena nyamuknya sudah aman."

(nvc/nvc)