China Luncurkan Kampanye 'Piring Bersih', Untuk Apa?

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 14 Agu 2020 17:58 WIB
Presiden China Xi Jinping menegaskan perlunya meningkatkan kesadaran 'krisis' terkait makanan (Getty Images)
Jakarta -

China melakukan kebijakan baru untuk mengurangi sampah makanan setelah Presiden Xi Jinping menyebut bahwa jumlah sampah makanan "mengejutkan dan mengganggu".

"Kampanye Piring Bersih" diluncurkan setelah Xi menyoroti bahwa Covid-19 telah "membunyikan alarm" dampak makanan.

Dia menambahkan bahwa China harus "menjaga kesadaran akan krisis tentang keamanan pasokan makanan".

Kampanye ini muncul beberapa pekan setelah banjir besar menerjang China selatan yang menghancurkan ladang petani dan meluluh-lantakkan hasil panen.

Kantor berita pemerintah China, Global Times, berusaha meremehkan apa yang disebutnya sebagai "sensasi media" bahwa China sedang menuju krisis pangan, yang diperburuk oleh epidemi.

TV pemerintah juga mengkritik orang yang menyantap makanan dalam jumlah besar kemudian disiarkan secara langsung di media sosial.

Menyusul pernyataan Xi, asosiasi industri katering Wuhan mendesak restoran di kota itu untuk membatasi jumlah porsi makanan bagi mereka yang makan di restoran - dengan menerapkan sistem di mana kelompok pengunjung harus memesan satu hidangan kurang dari jumlah mereka.

Jadi melalui sistem yang dijuluki "N-1", satu kelompok berisi 10 orang hanya bisa memesan sembilan hidangan.

Namun kemungkinan sistem akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan, di negara yang dianggap sopan untuk memesan lebih dari jumlah yang dibutuhkan.

Dalam sebuah kelompok, piring kosong kerap dianggap sebagai petanda dari tuan rumah yang buruk - mencerminkan jumlah makanan yang tidak cukup yang dipesan oleh para tamu.

Ide dari "N-1" menuai kritik di media sosia, dengan beberapa di antaranya mengatakan itu "terlalu kaku".

"Bagaimana jika seseorang pergi ke restoran sendiri? Berapa makanan yang dia bisa pesan? No?," tanya seorang warganet di situs Weibo.

Lainnya mengatakan bahwa kebanyakan restoran tidak menyia-nyiakan makanan, dan membandingkannya pada jamuan makan mewah yang diadakan oleh pejabat negara.

Kantor berita pemerintah CCTV juga mengundang para warga yang biasa menyiarkan langsung aktivitas mereka makan makanan dalam jumlah besar.

Biasa dikenal dengan "Mukbang" - siaran langsung ini populer di berbagai wilayah di Asia, termasuk China.

Menurut CCTV, beberapa dari mereka muntah setelah melakukan siaran langsung karena kesulitan mengolah makanan yang mereka makan.

Ini bukan kali pertama China meluncurkan kampanye anti-sampah makanan.

Pada 2013, kampanye "Operasi Piring Kosong" diluncurkan - menargetkan resepsi dan jamuan mewah yang diadakan oleh para pejabat.

Menurut WWF China, ada sekitar 17 sampai 18 juta ton sampah makanan di China pada 2015.

(ita/ita)