Pria Inggris Hilang Kewarganegaraannya dan Terancam Diadili Jihadis Suriah

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 18 Jul 2020 18:36 WIB
Damaskus -

Aliansi jihadis, yang mendominasi kelompok oposisi di wilayah Suriah barat laut, mengatakan akan mengadili seorang pria kelahiran Inggris, karena menjalankan sebuah organisasi yang dituduh menghasut.

Tauqir Sharif, asal London timur, ditahan sejak bulan lalu oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dan didakwa menggalang pendanaan untuk "proyek yang menghasut perpecahan".

Pada Selasa lalu, diumumkan bahwa Sharif telah dibebaskan dengan jaminan.

Inggris mencabut kewarganegaraan Sharif pada 2017, dan menuduhnya memiliki hubungan dengan kelompok yang bersekutu dengan Al-Qaeda.

Sharif, yang berhak atas kewarganegaraan Pakistan melalui garis ayahnya, membantah tuduhan tersebut. Namun dia mengakui terlibat pertempuran di Suriah dan membawa senapan AK47.

Sharif, yang juga dikenal dengan sebutan Tox, adalah pendiri Live Updates From Syria, sebuah organisasi yang disebutkan menyediakan bantuan kemanusiaan kepada orang-orang yang kehilangan tempat tinggal akibat perang saudara di negara itu.

Menurut laman Facebook organisasi itu, Sharif ditahan oleh pasukan bersenjata HTS di Provinsi Idlib pada 22 Juni lalu, tanpa penjelasan dan ditahan selama beberapa hari.

Keluarga, para kolega, dan pendukungnya lalu mengampanyekan di media sosial yang menyerukan pembebasannya. Mereka juga membagikan foto-foto aksi demonstrasi mendukung Sharif di kota Atmeh.

Belakangan, HTS mengatakan bahwa Sharif dituduh mengorganisir "transfer dana untuk mendukung beberapa proyek yang menghasut adanya perpecahan" di wilayah yang dikuasai kelompok oposisi.

The Syrian Observatory for Human Rights, sebuah kelompok pemantau berbasis di Inggris, melaporkan bahwa dia ditahan atas dugaan hubungannya dengan kelompok jihadis lainnya yang saling bersaing.

Selasa lalu, "kantor urusan media" HTS mengeluarkan pernyataan yang mengumumkan Sharif telah dibebaskan dengan jaminan, menyusul permintaan dari keluarganya.

"Pengadilan memberi tahu dia bahwa waktu persidangannya akan digelar setelah 15 hari ... dan selama pembebasannya dia dapat mempersiapkan pembelaannya," ungkap HTS.

A poster calling for Tauqir Sharif's is placed on a wall in Atmeh, Syria (1 July 2020)

Keluarga, para kolega, dan pendukungnya mengampanyekan di media sosial yang menyerukan pembebasannya. Mereka juga membagikan aksi demonstrasi di kota Atmeh. (AFP)

Rabu lalu, organisasi Live Updates From Syria mengunggah sebuah video di Facebook, yang disebutkan menunjukkan bahwa Sharif sudah berada di kediamannya.

"Kami berdoa agar Allah menjaga dia, keluarganya tetap aman dan supaya dia dibebaskan dari semua tuduhan," tambah organisasi itu.

Penahanan Sharif dilakukan di tengah aksi penindasan oleh kelompok HTS terhadap para pembangkang dan pembelot di wilayah Suriah barat laut, yang berada di bawah kendalinya.

HTS merupakan aliansi yang dipimpin oleh organisasi yang pernah berafiliasi dengan Al-Qaeda di Suriah.

Sebelumnya organisasi itu dikenal sebagai Front al-Nusra, yang sudah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh PBB, Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya.

(nvc/nvc)