Dari Balik Jeruji, Napi Produksi Pakaian yang Hasilnya Dikirim ke Keluarga

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 06 Jul 2020 15:23 WIB
Jakarta -

Mesin jahit berbunyi ramai di penjara pria San Pedro de Lurigancho di ibu kota Peru, Lima.

Sekitar 30 narapidana berada di sana membuat kaus bergambar dan berbagai produk lain untuk produk busana dengan merek Pieta.

Penjara ini dihuni 10.000 narapidana, meskipun kapasitas sesungguhnya hanya untuk 2.000 saja.

Carlos Arcel, 51 tahun, membuat baju hangat, atau sweater dari wol hewan llama.

Ia bisa mendapat 400 sol (sekitar Rp1,5 juta) per minggu dan mengirimkan uang itu ke keluarganya.

"Saya senang bekerja untuk Thomas," katanya.

Thomas yang dimaksud adalah seorang warga Prancis bernama Thomas Jacob, pendiri dan pemilik Pieta.

Thomas, 33 tahun, pernah bekerja di perusahaan busana Prancis, Channel, dan dapat ilham untuk mendirikan Pieta tahun 2012 ketika mengunjungi penjara San Pedro.

Pekerja terima komisi

Thomas, yang pernah tinggal dan bekerja di Peru, pergi bersama seorang teman yang mengajarkan bahasa Prancis ke narapidana.

"Beberapa narapidana berkata mereka bisa menjahit, menyulam dan mencetak sablon, tapi tak berguna di penjara, kata Thomas.

Kini bisnis ini punya 50 pegawai di berbagai penjara di Peru dan memproduksi 1.000 potong pakaian per minggu.

Sebagai upaya nonkomersial, para pekerja mendapat komisi setiap produk mereka laku.

Mereka yang berpartisipasi tak perlu punya pengalaman dalam membuat pakaian. Kejahatan yang mereka lakukan beragam, mulai dari pencurian hingga pembunuhan.

Pieta kini punya tiga toko di Lima, tetapi pakaian mereka dan masker sejak pandemi dijual secara daring. Pesanan datang dari Australia, Amerika Serikat, dan negara-negara lain di Amerika Selatan.

Para pekerja ini dibayar setara upah minimum di Peru. Menurut Thomas, upaya ini dibangun bukan untuk menghemat biaya.

"Industri tekstil di Peru sangat berkembang. Produksi kami besar, dan kalau kami bikin di luar penjara, akan tetap untung. Tapi kami sengaja membuatnya di penjara karena ini proyek sosial, katanya.

Bekerja di Pieta bisa mengurangi hukuman bagi narapidana karena di sini mereka bisa ikut kursus akademis. Dengan melakukan ini, waktu kurungan bisa dikurangi.

"Hukuman saya lima tahun, tapi kalau kita ambil kursus selama dua tahun, hukuman bisa dikurangi, kata Daniel Rojas Palacios, 25 tahun.

Ia sudah bekerja beberapa bulan di Pieta. Gajinya dikirim ke anak yang masih kecil di luar penjara, dan sebagian untuk kursus desain tekstil.

'Ilham dari penjara'

Peru bukan satu-satunya negara yang membolehkan bisnis busana di dalam penjara. Di Finlandia, perusahaan bernama Papillon melakukan hal serupa sejak 2009.

"Selain menyediakan pekerjaan dan rehabilitasi di penjara dengan tujuan membuat narapidana aktif, tujuan kami juga membuat produk yang paling berkelanjutan, kata direktur Papillon, Teemu Ruotsalainen.

Satu lagi perusahaan busana yang melakukan ini adalah Carcel di Denmark yang membuat busana di dua penjara perempuan, satu di Thailand dan satu lagi di Peru.

Pendirinya Veronica D'Souza mengatakan ia terilhami sesudah mengunjungi penjara di Kenya.

"Kata penjaga, para penghuni tak melakukan apa-apa, dan mereka depresi karenanya."

Florian Irminger, direktur lembaga advokasi Penal Reform International mengatakan organisasinya setuju narapidana boleh kerja untuk perusahaan, dengan syarat mereka tidak dieksploitasi.

"Kami percaya upaya rehabilitasi penjara, termasuk mempekerjakan narapidana, penting dan harus didasarkan pada kontrak yang disepakati dengan bebas oleh para narapidana, katanya.

"Pekerjaan harus memperbaiki kehidupan para narapidana, terutama di negara berpendapatan rendah, juga harus berkontribusi terhadap kehidupan mereka jangka panjang. Misalnya melalui pelatihan dan sertifikat."

Kembali ke Peru, Thomas Jacob mengatakan narapidana yang terlibat di Pieta "senang karena ada yang dikerjakan".

"Motivasi para narapidana adalah untuk mencari uang dan belajar profesi baru, dan dengan demikian mereka juga bisa mengurangi waktu hukuman, katanya.

"Ketika selesai menjalani hukuman, kami harap perilaku mereka juga berubah.

(ita/ita)